Gelas pecah
Pada hari itu harapan tak berkesudahan, mulai berjalan lagi dan sampai pada titik dimana pendewasaan adalah omong kosong yang mengkiblatkan manusia agar melupakan.
Kita hanya sebatang lidih yang patah, berharap berguna namun kita lupa bawa kita akan terkikis oleh tanah.
Menyatukan gelas yang pecah adalah perkara mudah, aku bisa, aku yakin, namun fungsinya yang membuat ku berfikir bahwa banyak gelas yang berada di dapur untuk ku tuang dan tidak bersusah payah aku perbaiki.
Aku tidak peduli dengan bendera kuning yang ku lihat, aku bersekutu dengan rasa yang selalu ku bawa agar bermakna.
Kau bisa???
Ku rasa, rasa ku yang ku berikan padamu bisa membuat ku semakin gila karena cinta.
Dan persetan kata cinta untuk makna yang tidak tertulis dalam dua insan yang menurut semesta berharga.
Aku terperangkap dalam beberapa lingkaran yang membuat ku susah bergerak dan susah keluar, aku menghargai keputusan dengan keikhlasan, sebentar dan sabar, selesai aku mengurus apapun itu yang berbau dengan diriku, aku akan menemuimu dalam percakapan malam, mimpi berharga dan berakhir tidak saling lupa.
Angkat gelas pecahku keudara, aku sudah bersusah payah menyatukannya dan goresan ditanganku menjadi tanda bahwa kerja kerasku adalah bagaimana aku siang dan malam menyatukan kepingan.
Aku hampir lupa, gelas yang aku satukan tidak akan bisa menampung air seperti dulu, tapi kau lupa bahwa aku bisa menaruhmu dan ku jaga agar tidak ada satu manusiapun yang minum dari gelas yang pecah.


Komentar
Posting Komentar