Tuhan bersama Kejahatan: Mencintai Kejahatan adalah Kebaikan
Pengantar: Dari Pergumulan Seorang Kawan Percakapan itu terjadi larut malam, di ruang tamu kost saya, salah satu kawan saya, yang sedang bergumul dengan teodise, melontarkan beberapa pertanyaan yang membuat saya tidak jadi mengantuk: "Apakah mungkin kita (manusia) mencintai kejahatan sebagai sesuatu yang baik dalam dirinya, tetapi mencintai adanya kejahatan sebagai bagian dari kebaikan yang lebih besar?" Tentu saya kaget, dan alasan saya kaget adalah mengingat satu kawan saya yang lain, yang sedang membahas teodise dalam skripsinya. Kaget saya bukanlah kaget yang langsung menjawab, tapi hanya diam. Bukan karena tidak punya jawaban ngawur untuk memberikan dia kelegaan sementara, tetapi pertanyaan itu menyentuh satu dimensi yang selalu saya hindari: kemungkinan bahwa kejahatan dan dalam segala kekejiannya bukanlah sesuatu yang harus dihapuskan secara total, melainkan sesuatu yang harus dihadapi, dihayati, bahkan jika saya berpikir radikal, mungkin perlu dicintai dalam cara...
