Runtuh Langkah

 kita dipertemukan bumi dan langit dan tanah, ambisi dari kita yang ingin memiliki waktu berdua hanya berhenti di aku, kita sama-sama tidak memiliki wewenang untuk melawan aliran waktu, kita tidak bisa melingkari kata kita untuk bersama, dan aku, aku tidak bisa melarang-mu untuk bahagia, kita adalah dua orang dari kubu yang berbeda, pemikiran yang jauh beda tentang cara kita mencintai, aku tidak pernah takut untuk menyuruh setiap orang agar tidak menyentuhmu, tapi aku berfikir apakah kau tidak akan kesepian jika aku bersikap seperti itu??? aku lebih suka dengan cara-ku yang ini, yang dimana aku melihat dari jauh, aku tidak pernah merasa lega walau melihat-mu tertawa, terkadang aku ingin diposisi itu, dimana air adalah isi dan gelas adalah wadah, hey.... tapi aku siapa?? berbicara dengan filosofis namun minim ku terapkan dalam realita, aku hanya orang yang bisa menceritakan dalam kata, kenangan membuat ku bergerak dan penglihatan realitasku yang membuat aku benar, aku adalah Tuhan yang menulis ini semua, dimana aku bisa menciptakan apa saja dalam tulisan, tapi aku tidak mau membuat apa yang manusia tidak alami dalam masing-masing hari dari mereka.

aku selalu ingin menanyakan hari mu, hari dimana kamu ridak tau bahwa ada secangkir kopi yang ingin diminum, aku berfikir dengan cara ku merasakan malam, purnama menambahkan keindahan dalam tulisanku yang bercampur angan, aku tidak ingin tadinya melibatkan perasaan, namun bagaimana lagi nama-mu adalah metafor yang indah dan terlanjur ku cantumkan, ku fikir setiap garis pertemuan adalah pelukan, namun ketika aku mengenalmu dan lebih ingin dalam bersama rasamu adalah rasaku yang menjauhkan, aku tidak pernah peduli betapa pentingnya manusia mempunyai harapan, ia terjadi atau tidak aku ikhlaskan, aku tidak peduli dengan persoalan-persoalan yang hidup fikirkan, aku hanya mau tau tentang apa yang kau bayangkan, jadi bagaimana kau melandaskan adalah bagaimana kau menjawab rasaku dengan caramu berjalan, aku tidakapa jika kau mau tau, aku lebih suka seperti itu, menjadi manusia dengan cacian dan bukan manusia yang dipenuhi ekspektasi dan harapan, aku lebih suka manusa jujur bahwa aku tidak suka, bukan menutupi bahwa aku takapa, sejujurnya dari tadi aku tidak menulis apa-apa, aku hanya ingin kau fahamkan, bahwa ada sesosok manusia yang benci dengan harapan dan memaafkan, cepat atau lambat kamu akan mengerti bahwa apa yang ku buat sebagai prasasti ini akan kau fahami, sleamat malam, selamat pagi, selamat siang, dan selamat, selamat atas jawaban yang tak kau beri lewat kata-kata

Komentar