"Pancungan Kebenaran: Pahlawan, Pengkhianatan, dan Pembelaan"

"kalimat-kalimat berikut hanya menjadi penenang bagi sang penulis, entahlah bagaimana caranya agar menjadi relevan dengan kalian. mungkin ini akan menjadi curhatan pribadi yang dipublikasikan, penulis tidak mencari untung dan tidak ingin dikasihani, publikasi ini menyangkut dengan segala pertimbangan-pertimbangan yang bersifat keharusan dan tidak bisa dibantah. penulis sudah berulang kali ingin menulis yang menyangkut dirinya, penulis merasa bahwa sekarang adalah waktunya".

    saya rasa, rasa sakit tidak pernah bisa diselesaikan dengan cara membaca buku, maka dari itu saya menulis, saya rasa pemikrian-pemikiran filsuf stoa tidak berlaku dengan orang yang sedang tenggelam karena terlalu kedap di dalam air. saya rasa yang berlaku hanyalah sebuah pembelaan agar orang yang bersalah tidak terkena hukuman pancung atau pasung. saya selalu memberikan sebuah kebenaran, namun kebenaran selalu memberikan saya situasi yang sulit. saya selalu bertanya-tanya tentang: apakah saya benar? saya rasa tidak!. saya rasa batman dan superman selalu mempunyai kisah yang membuatnya menjadi pahlwan, apakah hidup bisa seperti itu? saya berharap bisa, karena kebenaran yang saya bawa sangat butuh akan keadilan. tentu banyak pemikir-pemikir hebat dan penyair-penyair handal untuk membicarakan cinta, tapi apakah mereka tidak pernah merasakan sakit yang di timbulkan cinta? jika pernah, mengapa ia selalu membicarakan cinta? bukankah sama saja seperti kita yang memuji musuh-musuh kita yang telah membantai habis harapan dan kemenangan?.

 Dunia adalah medan perang, jika kau tidak membunuh maka kau akan di bunuh, tidak peduli kau serdadu, jendral bahkan Tuhan sekalipun. jika siapa yang menentang dan berlawanan maka sah hukumnya ia akan di bantai. sungguh kejam..... saya kira dunia bisa memberikan tempurung kuat untuk hati saya yang lunak, nyatanya dunia menuntut saya kedalam kekerasan yang maksimal. saya kira, saya menemukan air yang sangat sejuk, nyatanya air yang saya tenggak minum adalah kucuran air dari mata seseorang yang sempat saya abaikan. saya tidak pernah peduli kepada orang yang menjadi tokoh dalam adegan drama, saya lebih peduli dengan orang yang membersihkan panggung pentas untuk para tokoh melanjutkan sandiwaranya. saya selalu di ancam dan di fitanah, itu sudah biasa menurut saya, tapi sangat kejam ketika cinta melakukan itu semua. ya, cinta berhasil untuk mewujudkan itu semua. merpati menjadi gagak, air menjadi lava, nyamuk menjadi gajah, hal-hal tidak masuk akal itulah jalan cinta yang sesungguhnya.

 saya rasa, saya sudah sampai puncak rantai makanan namun nyamuk tetap menghisap darah segar saya, saya rasa saya sudah membatasi diri saya agar tidak meledak seperti pompei namun apa boleh buat, lahar sudah tidak bisa saya telan dan akhirnya saya muntahkan. banyak terjadi atas nama cinta, tidak bisa disanggah, cinta itu adalah sebuah kebenaran dan rasa sakit itulah sebuah kepastian. rasa-rasanya saya ingin hidup di zaman batu, dimana saya hanya berfikir untuk berburu mammoth atau menghindari kalajengking raksasa, mungkin itu akan terlihat lebih menyenangkan daripada membicarkan cinta dengan orang yang meraskan penghianatan.


19-Mei-2024


(Yogyakarta)

Komentar

Postingan Populer