Bunga

 Aku melihat sosok bunga yang dahulu pernah kuperhatikan perkembangannya. Aku sangat hati-hati dengan tata cara merawat bunga itu, seperti tanah, air, udara, pupuk, dan nutrisi yang harus dipenuhi untuk melihat bunga itu mekar nan indah. Bunga itu layaknya anugerah yang dikirimkan kepala sekolah saat aku SMA dahulu, Bakso dan bubur adalah bagian dari pupuk yang kumaksud. Bunga itu sempat mekar, kuperhatikan dengan penuh kehati-hatian dan ketulusan. Bunga itu sempat menjadi senyuman di mentari yang menyingsing melalui jendela kamarku, meminta aku bangun dan segera mengerjakan tugas matematikaku. Bunga itu mengajarkan aku tentang ketulusan yang tidak memandang perbedaan. Bunga itu sempat kurasakan keindahannya hanya sekali, sisanya ia mati dalam kedalaman cerita. Ia pergi dengan daun yang berguguran dan kekosongan terjadi pada diriku. Kedatangan dan kepergian itulah cikal-bakal dari cinta, di mana cinta berkuasa atas datang dan pergi. Sekarang, aku menemukannya lagi, melihat hal yang sama namun dalam bentuk wadah yang berbeda. Kuharap, aku tidak terjebak. Tidak memulai kembali apa yang sudah selesai.

Komentar

Postingan Populer