Kampusku, kekuasaanmu, janjimu yang semu
Di panggung kecil bernama kampus, drama politik mahasiswa sering kali menjadi cermin sempurna dari panggung besar politik nasional. Dengan janji manis, senyuman lebar, dan pidato berapi-api, para mahasiswa berlomba-lomba memperebutkan posisi pemimpin. Tapi, mari kita tanya dengan sedikit lebih tajam: mengapa mahasiswa ingin memimpin? Apakah demi kebaikan bersama, atau hanya untuk memastikan kelompoknya mendapatkan kursi paling nyaman di ruang kekuasaan?
Kepemimpinan: Kebaikan atau Sekadar Fantasi Kekuasaan?
Jika kita bertanya kepada mereka, jawabannya selalu sama: “Saya ingin membawa perubahan!” Ah, kalimat itu. Seolah-olah perubahan adalah produk ajaib yang bisa diciptakan hanya dengan memegang jabatan. Tetapi, Nietzsche dengan cerdas mengingatkan kita bahwa “Manusia tidak mencari kebenaran; mereka mencari ilusi yang nyaman.”
Dan inilah kenyataan pahitnya: banyak mahasiswa tidak benar-benar ingin memimpin karena peduli pada sesama. Mereka ingin memimpin karena kekuasaan itu memabukkan. Di balik pidato tentang solidaritas mahasiswa, mereka sering kali hanya mengejar kebanggaan narsistik—nama mereka di poster kampus, panggilan kehormatan sebagai “ketua,” dan mungkin, sedikit akses lebih mudah ke ruang-ruang yang biasanya tertutup. Kepemimpinan mereka sering kali tidak lebih dari fantasi egois yang disamarkan sebagai kebaikan. Mereka tidak ingin melayani; mereka ingin didengar. Mereka tidak ingin memperjuangkan hak semua mahasiswa; mereka ingin memastikan bahwa suara kelompok mereka lebih keras daripada yang lain.
Janji Muluk: Retorika Tanpa Tindakan
Hannah Arendt pernah berkata bahwa politik adalah seni membuat yang tidak mungkin menjadi mungkin. Tapi di dunia kampus, politik mahasiswa lebih menyerupai seni membuat janji tanpa niat untuk menepatinya. Mereka berbicara tentang transparansi, inklusivitas, dan keadilan, tetapi begitu terpilih, kata-kata itu menghilang seperti kertas ujian di akhir semester. Lihatlah, calon ketua BEM yang mendadak rajin tersenyum dan membagi-bagikan selebaran “visi-misi.” Apakah mereka benar-benar peduli pada masalah pendidikan mahasiswa? Ataukah mereka hanya peduli pada berapa banyak suara yang bisa mereka dapatkan dari selebaran itu? Foucault, dalam kritiknya tentang kekuasaan, menyebut bahwa “kekuasaan tidak pernah netral; ia selalu memiliki strategi.” Dalam hal ini, strategi mereka adalah menggunakan janji muluk sebagai umpan untuk mengumpulkan suara, bukan sebagai rencana nyata untuk perubahan.
Kepentingan Kelompok: Solidaritas atau Kolusi?
Namun, ada juga yang terang-terangan berkata: “Saya mencalonkan diri untuk mewakili kepentingan kelompok saya.” Ah, setidaknya mereka jujur. Tetapi masalahnya, solidaritas sering kali menjadi alasan untuk eksklusivitas. Mereka tidak peduli pada mahasiswa secara keseluruhan; mereka peduli pada teman-teman satu lingkaran, satu komunitas, atau bahkan satu jurusan. Mereka memimpin bukan untuk semua orang, tetapi untuk “kita” melawan “mereka.” Dalam logika Sartre, ini adalah “kelompok untuk dirinya sendiri,” di mana kelompok kecil memonopoli kekuasaan dengan mengorbankan mayoritas. Solidaritas yang mereka klaim hanyalah bentuk lain dari kolusi, dibungkus dengan kata-kata indah tentang “perjuangan bersama.”
Mahasiswa dan Latihan Kekuasaan Miniatur
Di sinilah ironinya: kampus adalah tempat belajar, tetapi politik mahasiswa sering kali hanya mengajarkan kebohongan. Mereka belajar bahwa kebaikan adalah alat kampanye, bukan nilai yang harus dipertahankan. Mereka belajar bahwa koneksi lebih penting daripada kompetensi. Mereka belajar bahwa kepemimpinan adalah soal siapa yang bisa berbicara paling keras, bukan siapa yang benar-benar memahami masalah. Seperti yang dikatakan oleh Machiavelli dalam The Prince, “Pemimpin tidak perlu baik, hanya perlu terlihat baik.” Dan mahasiswa dengan ambisi kepemimpinan sering kali menjadi murid terbaik dalam pelajaran ini. Mereka tidak perlu benar-benar peduli; mereka hanya perlu terlihat peduli. Mereka tidak perlu memenuhi janji; mereka hanya perlu membuat janji yang cukup manis untuk memenangkan pemilu kecil mereka.
Kebaikan Kolektif yang Hanya Ada di Poster
Setelah pemilu usai, semua janji tentang “kebaikan kolektif” sering kali hilang. Ketua BEM yang baru terpilih lebih sibuk menghadiri seminar eksternal untuk memperluas jaringan pribadinya daripada mengurus masalah internal kampus. Mahasiswa yang sebelumnya dirayu dengan janji keterbukaan kini mendapati bahwa rapat organisasi lebih tertutup daripada sebelumnya. Seperti yang dikatakan oleh Nietzsche, “Kekuasaan mengungkapkan karakter sejati seseorang.” Dan di kampus, kekuasaan sering kali mengungkapkan bahwa karakter sejati ini tidak lebih dari keinginan egois yang disembunyikan di balik senyuman manis dan poster kampanye.
Apa yang Sebenarnya Kita Butuhkan?
Tapi mari kita balik pertanyaan ini kepada mahasiswa lainnya: Mengapa kita memilih mereka? Apakah kita benar-benar peduli pada kompetensi, atau kita hanya terpesona oleh pidato yang indah dan tampilan yang menarik? Apakah kita benar-benar mencari pemimpin yang baik, atau kita hanya ingin mendukung teman sendiri? Foucault pernah berkata bahwa kekuasaan hanya ada karena ada yang rela tunduk. Jadi, jika politik mahasiswa kampus terasa seperti lelucon, itu karena kita semua terlibat dalam memainkannya. Kita memilih mereka bukan karena mereka layak, tetapi karena mereka pandai menciptakan ilusi.
Penutup: Kepemimpinan Kampus, Cermin Kecil Dunia Nyata
Mengapa mahasiswa ingin memimpin? Jawabannya mungkin beragam, tetapi satu hal jelas: kepemimpinan di kampus sering kali bukan soal kebaikan, melainkan soal kekuasaan. Dan kekuasaan, dalam bentuk sekecil apa pun, selalu memiliki daya tariknya. Mungkin, alih-alih terus berharap bahwa pemimpin kampus akan membawa perubahan besar, kita harus mulai realistis: tidak semua yang terlihat baik benar-benar baik. Dan jika kita terus memilih berdasarkan ilusi, kita akan terus mendapatkan pemimpin yang memperlakukan kampus sebagai panggung latihan untuk ambisi pribadinya, bukan sebagai komunitas yang layak diperjuangkan.
Seperti yang dikatakan Sartre, “Manusia adalah apa yang mereka lakukan, bukan apa yang mereka katakan.” Jadi, mungkin saatnya kita berhenti percaya pada kata-kata manis dan mulai menuntut tindakan nyata. Karena di balik setiap senyum kampanye, ada kekuasaan kecil yang siap menjadi besar—jika kita terus membiarkannya.



Komentar
Posting Komentar