Membosankan Menunggumu di Dunia yang Mempunyai Waktu Ini

Menunggu itu layaknya duduk di bangku kayu kecil rapuh yang tak terlalu nyaman di sebuah taman kecil di selatan kota, sambil memandang tukang es krim keliling yang berharap menawari ku. Aku yakin pada saat itu, Tuhan menciptakan waktu hanya untuk membuat manusia lebih sabar. Atau mungkin lebih bingung. Karena jujur saja, waktu itu menurut ku di saat itu seperti jebakan psikologis. Kamu tau, ia bergerak maju, tapi rasanya seperti berputar-putar di tempat yang sama. Sungguh licik cara kerjanya. Tanpa simbol dan tanpa perantara, singkatnya aku menunggumu. Di sini. Di Dunia ini. Dunia yang katanya punya waktu yang bernilai konkret. Dunia yang katanya berputar, tapi anehnya aku tidak merasa tergerak. Kamu tau, ada orang yang bilang: menunggu adalah bukti cinta. Tapi aku rasa ada yang aneh dari kalimat itu, kalimat itu seperti menjebak dan sengaja membuat orang terjebak dalam permainan kata-kata. Jika memang kalimat itu berbunyi seperti itu, maka, siapa yang mencintai di kasus ku ini? Aku yang mencintai diriku yang menunggumu, atau aku mencintaimu yang tak pernah mampir di hadapanku? Atau sebenarnya aku mencintai sebuah ide bahwa menunggu adalah kesan yang bersifat romantis? Ah, membingungkan sekali segala pemikiranku ini. Otakku mulai melilit seperti tali jemuran yang tertiup angin.
    Waktu, kata orang adalah uang. Tapi kalau aku menganggap itu benar, maka sudah bangkrut sejak lama jawabnya. Bisa dikatakan, menunggumu adalah investasi buruk yang tidak pernah menghasilkan idiven. Setiap detik yang lewat layaknya koin yang jatuh ke selokan, menghilang tanpa jejak padahal aku tahu bahwa koin itu jatuh. Kalau waktu benar-benar uang, aku seharusnya sudah bisa membeli galaksi lain. Tetapi nyatanya di sinilah aku, hanya punya secangkir kopi dingin sisa dan sebuah kursi kayu kecil yang lapuk, yang mungkin kerasnya seperti nasib. Aku pernah mencoba menghibur diri dengan hal-hal kecil. Seperti menghitung jumlah daun di pohon depan rumah, atau menghitung jumlah langkah dari kursiku menuju kandang anjingku. Tapi asal kamu tau, semua itu berakhir sama: nihil. Menunggu itu seperti makan Indomie tanpa bumbu. Hambar, tapi entah kesurupan apa, aku tetap memakannya. Aku teringat satu bongkah filsuf yang berkata, “Hidup adalah menunggu.” Aku tidak tau dia siapa, yang aku tau dan yakin adalah dia pasti orang yang sangat cinta dengan kebosanan. Karena hanya orang bosan yang bisa menyimpulkan hidup dengan cara sesederhana itu. Kalau hidup benar-benar cuma menunggu, kenapa Tuhan menciptakan hal-hal lain seperti hujan, pelangi, atau Indomie? Bukankah itu semua ada untuk membuat kita lupa bahwa kita sedang menunggu?
    Tetapi ada satu hal lucu dari keabsurdan tentang menunggu. Semakin lama kita menunggu, semakin kita merasa bahwa apa yang kita tunggu itu penting. Padahal mungkin nyatanya tidak. Mungkin kita hanya terlalu malas untuk berhenti menunggu. Karena berhenti menunggu berarti mengakui bahwa kita telah membuang waktu. Dan tidak ada yang suka mengaku bahwa kita ini bodoh. Jadi kita terus menunggu. Dan menunggu. Dan menunggu. Aku mulai berpikir bahwa dunia ini mungkin sebetulnya adalah ruang tunggu raksasa. Semua orang menunggu sesuatu. Menunggu gajian, menunggu jodoh, menunggu kematian. Tapi tidak ada yang benar-benar tau apa yang mereka tunggu. Kita hanya tau bahwa kita harus menunggu. Dan itulah yang membuat dunia ini terasa absurd. Seperti pagelaran teater tanpa naskah, atau permainan monopoli tanpa dadu. 
    Kamu tau, ada saat-saat di mana aku merasa bahwa menunggumu adalah hal paling logis yang sejauh ini bisa kulakukan. Seperti ketika malam terlalu sunyi, dan bintang-bintang terlihat terlalu jauh. Dalam keheningan itu, menunggumu terasa seperti satu-satunya hal yang masuk akal. Tapi kemudian pagi datang, dan logikaku kembali mengambil alih. Aku sadar bahwa aku mungkin hanya mencoba mengisi kekosongan dengan harapan. Dan harapan, seperti yang kita tau, adalah candu paling berbahaya. Ada sebuah cerita tentang seekor kura-kura yang menunggu hujan tengah gurun. Ia tahu bahwa hujan mungkin tak akan pernah datang. Tapi ia tetap menunggu, karena itulah satu-satunya hal yang bisa ia lakukan. Aku merasa seperti kura-kura itu. Hanya saja, aku tidak punya cangkang untuk melindungi diriku dari kekecewaan. Orang-orang bilang aku harus berhenti menunggumu. Mereka bilang aku harus melanjutkan hidupku. Tapi hidup ke mana? Dan melanjutkan apa? Hidup ini bukan film dengan jalan cerita yang jelas. Hidup ini lebih seperti buku teka-teki silang yang separuhnya hilang. Kau tak pernah tahu apakah jawabanmu benar, atau apakah pertanyaannya masuk akal.

Kadang aku berpikir, bagaimana jika aku berhenti menunggumu? Apakah dunia akan berubah? Apakah waktu akan berhenti? Apakah kursi kayu ini akan menjadi lebih nyaman Tapi kemudian aku sadar, berhenti menunggumu berarti menghadapi kenyataan bahwa kau mungkin tak pernah datang. Dan kenyataan, seperti yang kita tahu, adalah hal paling menakutkan di dunia ini. Jadi aku tetap di sini. Menunggumu. Di dunia yang mempunyai waktu ini. Dunia yang terus berputar, meskipun aku merasa terjebak di tempat yang sama. Dunia yang penuh dengan hal-hal absurd dan kontradiktif. Tapi mungkin itulah yang membuat dunia ini menarik. Karena kalau semuanya masuk akal, apa gunanya hidup?Aku menunggumu. Dan mungkin aku akan terus menunggumu. Karena dalam absurditas ini, menunggumu adalah satu-satunya hal yang terasa nyata. Dan mungkin, hanya mungkin, itulah alasan kenapa Tuhan menciptakan waktu: agar kita punya alasan untuk terus berharap. Bahkan ketika harapan itu terasa seperti kebodohan yang manis.


Komentar

Postingan Populer