Koster: Episkopal di balik sapu



Kalian tahu siapa yang paling berkuasa di gereja? Pendeta? Majelis? Sinode? Ah, kalian ini terlalu polos, terlalu percaya pada struktur yang terlihat. Jika gereja adalah kerajaan, maka rajanya bukan pendeta. Bukan juga ketua majelis. Rajanya adalah koster. Ya, koster. Dia yang memegang kunci kerajaan gereja—secara harfiah dan simbolis. Pendeta boleh berkhotbah dengan api Roh Kudus, tapi kalau koster tidak membuka pintu gereja, ya berkhotbah saja di luar, bersama angin dan dedaunan yang bergoyang. Majelis boleh bermusyawarah dengan hikmat Tuhan, tapi kalau koster belum menyiapkan kursi, ya silakan musyawarah sambil berdiri seperti demonstran yang lupa bawa tikar. Bayangkan skenario ini: Minggu pagi, jemaat sudah berdandan rapi, Alkitab siap di tangan, wajah berseri-seri karena hendak menyembah Tuhan. Mereka tiba di gereja, dan... pintu tertutup. Kunci tidak ada. Semua bertanya-tanya, "Di mana Pak Koster?" Satu-satunya orang yang bisa membuka gerbang kerajaan ini tidak diketahui keberadaannya. Seketika, gereja yang megah itu hanya menjadi bangunan kosong yang tak berguna. Pendeta mungkin bisa berkhotbah tanpa teks, majelis bisa rapat tanpa hasil, tapi tanpa koster, gereja hanyalah monumen.
Koster ini bukan sekadar petugas kebersihan. Dia adalah pengatur liturgi yang sesungguhnya. Siapa yang memasang mimbar? Siapa yang mengatur posisi kursi agar nyaman bagi jemaat? Siapa yang memastikan air baptisan ada, roti perjamuan tidak basi, dan anggur perjamuan tidak tertukar dengan teh manis? Bukan pendeta. Bukan majelis. Kosterlah yang menjalankan eksekusi di lapangan. Ketika listrik mati di tengah ibadah, semua mata beralih ke pendeta, berharap mujizat terjadi. Tapi pendeta hanya bisa berdoa dalam hati, karena yang sebenarnya ditunggu bukan intervensi Tuhan, melainkan intervensi koster. Dialah satu-satunya orang yang tahu di mana letak saklar utama. Dialah satu-satunya yang bisa menyelamatkan ibadah dari kegelapan literal.
Kalian kira jabatan koster itu rendah? Ah, justru sebaliknya. Lihat bagaimana dia berjalan di gereja. Langkahnya tenang, penuh percaya diri. Dia tidak butuh tepuk tangan. Dia tidak butuh penghargaan. Dia hanya butuh sapu, kunci, dan kadang-kadang, segelas kopi yang jarang diberikan. Dia lebih berkuasa dari yang kalian kira. Ingat perjamuan kudus? Itu momen sakral, penuh makna teologis. Pendeta dan majelis menyiapkan diri dengan doa. Tapi apakah mereka yang menata meja perjamuan? Apakah mereka yang memastikan roti sudah dipotong rapi dan anggur tidak terlalu penuh sehingga bisa tumpah di karpet suci gereja? Bukan. Itu koster. Kalau dia tidak teliti, bisa-bisa jemaat kebingungan karena yang ada di meja perjamuan justru air putih dan kerupuk.
Dan kalau dia sedang bad mood? Wah, itu berbahaya. Mikrofon bisa tiba-tiba mati. Air baptisan bisa menghilang entah ke mana. Papan liturgi bisa menampilkan angka lagu yang bahkan penciptanya lupa kalau pernah membuatnya. Dia bisa membuat segalanya berjalan lancar atau justru kacau balau. Kalian pikir kotbah pendeta itu yang menentukan suasana ibadah? Oh, kalian salah besar. Kotbah yang paling mengguncang pun tidak akan berdampak kalau pengeras suara tidak menyala. Dan siapa yang tahu di mana letak kabel mic? Siapa yang bisa memperbaiki sound system dalam waktu kurang dari dua menit? Jawabannya hanya satu: koster. Pikirkan lagi. Siapa orang pertama yang datang ke gereja setiap Minggu? Koster. Siapa orang terakhir yang pulang? Koster. Saat jemaat sudah pulang ke rumah masing-masing, saat pendeta sudah kembali ke peraduannya, koster masih ada di sana, memastikan semua beres, semua bersih, semua siap untuk ibadah berikutnya. Dan kalau dia mogok kerja? Hanya satu hal yang akan terjadi: kehancuran liturgis. Jemaat akan panik, pendeta akan berkeringat, majelis akan mendadak religius dan mulai berdoa dalam diam, berharap ada orang lain yang bersedia menggantikan tugas suci sang koster.
Koster adalah administrator gereja yang sejati. Dia adalah penguasa bayangan, pemegang otoritas yang tidak diakui secara formal tapi dirasakan dampaknya setiap Minggu pagi. Gereja tanpa pendeta masih bisa bertahan. Gereja tanpa majelis masih bisa berjalan. Tapi gereja tanpa koster? Itu bencana eklesiologi. Jadi, lain kali kalian bertemu koster, hormati dia. Jangan hanya menyapa dengan formalitas kosong. Berikan dia apresiasi. Setidaknya, tawarkan kopi. Karena saat semua orang berseru "Amin" di dalam gedung gereja yang bersih dan nyaman, ada satu orang di belakang layar yang sudah lebih dulu berkata, "Beres, Pak."

"Di balik setiap ibadah yang khusyuk, ada seorang koster yang lebih dulu berdoa dalam bentuk kerja. Tanpa suara, tanpa tepuk tangan, tapi tanpa dia, gereja hanya bangunan kosong tanpa kehidupan."


Komentar

Postingan Populer