Coretan Musafir di Jalanan


Coretan Musafir di Jalanan: kebebasan, cinta, dan kesengsaraan menjadi satu simfoni hangat untuk jalan yang di pilih

Aku adalah musafir. Tapi jangan buru-buru membayangkan gambaran romantis tentang petualang dengan ransel gembel, topi fedora, dan novel Sartre yang digenggam longgar di tangan kiri. Aku bukan musafir Instagram yang memburu sunrise agar bisa menulis caption "Finding myself"—seakan diri mereka hilang di rak sepatu. Tidak. Aku musafir dengan lukisan-lukisan jalanan. Sebab kalau aku hanya musafir saja, nanti dikira pengangguran. Tapi kalau aku tambahkan “lukisan jalanan,” setidaknya ada nilai estetik dan eksistensial yang bisa dibanggakan di forum filsafat atau saat ngobrol dengan barista. Jalanan yang kulukis bukan sekadar trotoar kota yang penuh puntung rokok dan ludah kapitalisme. Jalanan yang kulukis adalah realitas: jalan-jalan sempit antara logika dan absurditas, tikungan tajam antara harapan dan kegagalan, dan tentu saja persimpangan fatal antara kebebasan dan cinta. Dan di tengah-tengahnya, aku berdiri, memegang kuas seperti seniman murahan yang percaya bahwa warna bisa menyelamatkan makna.
Kita mulai dari kebebasan. Aku berhasil menciptakan kebebasan. Entah dengan susah payah atau karena memang tak ada yang mengikat. Aku menolak jam kantor, menolak kompromi, menolak jadwal makan siang yang ditentukan HRD, menolak bercinta karena kalender, menolak menetap karena alasan efisiensi. Aku hidup dengan prinsip: "Mengapa harus menetap, jika bisa hilang dengan anggun?" Aku mencoret-coret tembok dunia dengan grafiti bernama pilihan—pilihan yang tak pernah kutawar, apalagi kujual. Orang bilang aku egois. Aku bilang mereka penakut. Mereka takut kehilangan keteraturan, takut dilihat kacau, takut terlihat tak tahu arah. Padahal justru arah adalah jebakan. Jika kau terus mengejar arah, kau tak pernah berhenti. Sedangkan aku, musafir yang melukis di trotoar eksistensi, sudah berhenti mengejar. Aku menggambar. Aku menetap sementara. Aku bebas. 
Tapi inilah kebebasan yang tidak mengerti cinta. Sebab cinta tidak pernah hidup di atas aspal yang bisa kuhapus. Cinta tidak bisa digambar lalu ditinggalkan. Cinta bukan lukisan—ia adalah paku di dinding. Sekali kau tancapkan, kau harus siap melihat bekasnya selamanya, bahkan ketika lukisan sudah kau bawa pergi.
Aku membayar harga itu. Mahal, tentu. Mungkin ini pembalasan dari semesta. Aku yang terlalu lihai melukis jalanku sendiri akhirnya tak mampu melukis satu wajah pun yang bisa menetap di hatiku. Kebebasanku sempurna, tapi kesepianku juga nyaring. Aku tidak menyesal, hanya bingung. Mengapa sistem eksistensi ini seperti teka-teki yang hadiahnya justru ironi? Kebebasan dan cinta, kawan, dua makhluk ganjil yang sering pura-pura bisa sekamar, padahal jelas mereka musuhan. Kebebasan suka membuka jendela, cinta suka menutup pintu. Kebebasan ingin terbang, cinta ingin menetap. Kebebasan ingin tertawa di tengah malam, cinta ingin tidur jam sembilan. Kebebasan minum kopi hitam sambil telanjang dada, cinta ingin teh manis dengan sopan santun. Kau pikir mereka bisa berdamai? Jangan mimpi. Bahkan dalam film Prancis yang artsy pun, mereka akhirnya pisah. Aku pernah mencoba cinta, tentu. Aku pernah menghapus sketsa jalanan dan mengganti dengan lukisan wajahnya. Tapi wajahnya terlalu halus untuk dunia yang kasar. Ia tidak tahan dengan jalanan. Ia ingin rumah. Ia ingin kepastian. Ia ingin aku berhenti jadi musafir dan jadi... pria yang memotong rumput setiap Sabtu pagi. Dan aku? Aku bahkan tidak tahu di mana sepatu kiriku.
Cinta butuh struktur, kebebasan butuh kehancuran. Dan aku memilih kehancuran. Tapi kehancuran yang estetis. Yang bisa dijadikan puisi. Yang bisa dilukis, lalu ditinggalkan. Orang sering menyangka aku melarikan diri. Padahal aku bukan melarikan diri. Aku hanya tidak tertarik diam di tempat yang ingin menamakan kebahagiaan secara permanen. Cinta, bagiku, adalah birokrat emosi. Ia ingin status, dokumen, jadwal. Padahal aku lebih suka obrolan larut malam tanpa tujuan, lalu tidur di emperan pemikiran. Dan beginilah hidupku. Seorang musafir dengan kuas di tangan, melukis di jalanan, memberi warna pada abu-abu masyarakat, tapi tak pernah punya rumah untuk pulang. Aku didekati banyak orang, sebagian penasaran, sebagian iba, sebagian ingin “menyelamatkanku dari kesendirian.” Tapi tidak ada yang benar-benar tinggal. Mungkin karena aku terlalu bebas, atau mungkin karena mereka terlalu normal.
Tapi biar kuakui ini dengan jujur dan keras: aku cemburu. Ya, aku cemburu pada mereka yang bisa mencintai tanpa harus mempertanyakan arti kata “menetap.” Aku cemburu pada mereka yang bisa bahagia dengan hal-hal sederhana: sarapan bersama, menonton ulang film yang sama, bahkan mencuci piring berdua sambil bertengkar soal playlist Spotify. Aku, dengan segala kebebasanku, tidak bisa mencicipi itu. Aku punya jalanan, tapi tidak punya meja makan. Aku punya langit, tapi tidak punya pelukan. Dan ironinya, orang-orang bilang aku adalah simbol kebebasan. Mereka menulis puisi tentangku, membuat kutipan dari lukisanku, bahkan beberapa menganggapku filsuf jalanan. Mereka melihatku sebagai pahlawan dari sistem yang mereka benci tapi tetap ikuti. Padahal aku hanyalah seseorang yang terlalu keras kepala untuk menyerah pada kebiasaan, tapi terlalu takut untuk jatuh cinta lagi.
Apakah aku menyesal? Tidak sepenuhnya. Tapi aku mengerti, sekarang, bahwa setiap jalan punya harga. Dan kebebasan, kawan, adalah jalan tol yang mahal. Ia mempercepat hidupmu, memberimu pandangan luas, tapi jarang ada tempat singgah. Dan jika pun ada, kau hanya boleh berhenti lima menit sebelum ditendang lagi oleh waktu. Lukisan-lukisanku kini tersebar. Di tembok kota, di buku catatan mahasiswa filsafat semester akhir, di Instagram orang-orang yang ingin terlihat mendalam. Tapi tidak ada satu pun dari lukisan itu yang menampung cinta. Tidak ada wajah yang kupahat dengan sepenuh hati. Tidak ada figur yang kujadikan alasan untuk diam. Aku pernah dekat dengan seseorang. Ia bilang, “Kau ini seperti lukisan yang tidak selesai.” Dan aku hanya tertawa. Kukira itu pujian. Tapi belakangan aku sadar, itu adalah perpisahan yang tersamar. Ia ingin gambar yang jelas. Aku hanya bisa memberi sketsa yang kabur. Ia ingin tempat tinggal. Aku hanya bisa memberinya halte. Akhirnya aku menerima. Bahwa aku diciptakan untuk berjalan, bukan duduk. Bahwa aku diciptakan untuk menggambar, bukan memeluk. Bahwa dalam hidup ini, kita bisa bebas, atau kita bisa dicintai. Tapi jangan berharap dua-duanya. Hidup bukan toko roti.
Dan begitulah, aku terus melangkah. Melukis jalanan demi jalanan. Meninggalkan warna di setiap kota, tapi tak pernah menanam akar. Aku tidak menyesal. Tapi malam-malam tertentu, ketika angin terlalu sunyi dan bulan terlalu jujur, aku berhenti sebentar. Mengambil cat warna biru paling tua. Dan kulukis bukan jalanan, tapi bayangan tentang dia yang dulu pernah mencoba mengajariku cinta. Lalu aku berjalan lagi. Karena itulah satu-satunya hal yang bisa kulakukan tanpa kehilangan identitasku. Karena cinta, meski indah, bukanlah sesuatu yang bisa ditawar oleh musafir sepertiku. Bukan karena aku tak mau, tapi karena aku tahu: lukisan-lukisanku terlalu bebas untuk dibingkai. Dan begitulah, kawan. Aku adalah musafir dengan lukisan-lukisan jalanan. Aku berhasil menciptakan kebebasan, tapi tidak untuk cinta. Dan itulah harga yang harus kubayar. Mahal. Tapi setidaknya, aku bisa menggambarnya. Dan seperti semua lukisan jalanan, mungkin suatu hari nanti, semua akan terhapus hujan. Tapi sebelum itu terjadi, biarkan aku menambahkan satu kalimat di bawah mural terakhirku: "Jangan ikuti aku. Aku pun tidak tahu ke mana aku melangkah." 

"Setiap dinding yang kulukis, ada satu ruang kosong yang sengaja kubiarkan. Biarlah ruang itu diisi oleh kepulangan."

Komentar

Postingan Populer