Membelah Paragraf

 


Aku pernah berpikir cinta bisa dijelaskan. Bahwa ia adalah hasil dari relasi antara subjek dan objek, antara kehendak dan kebebasan, antara intensi dan eksistensi. Aku pernah berpikir bahwa jika aku bisa mengerti struktur eksistensial manusia, aku akan lebih mudah mencintai. Atau paling tidak: lebih mudah dicintai. Tapi ternyata, cinta bukan soal mengerti. Dan sayangnya, itu adalah kabar buruk bagi seorang filsuf.
Coba kita tengok sejarah. Nietzsche mencintai Lou Salomé, dan ditolak. Heidegger jatuh cinta pada Hannah Arendt, tapi situasinya penuh ironi dan skandal. Simone de Beauvoir dan Sartre menciptakan perjanjian cinta bebas—yang pada akhirnya membuat cinta itu sendiri jadi tak jelas. Bahkan Kierkegaard, sang penggali kedalaman eksistensi manusia, lebih memilih meninggalkan Regina Olsen demi melindunginya dari… dirinya sendiri. Romantis? Tidak. Tragis? Pasti. Gagal? Amatlah jelas. Mengapa para filsuf ini gagal? Bukankah mereka punya pikiran tajam, bisa membaca batin manusia, bahkan menggugat keberadaan Tuhan? Tapi, cinta? Tidak. Cinta tidak tunduk pada logika. Cinta adalah pemberontak terakhir yang tidak mau dibebani oleh teori. Dan barangkali, di situlah akar tragedi ini. Aku ingat suatu malam saat aku duduk di teras, membaca sekilas “Being and Time” sambil menunggu balasan pesan dari seseorang yang aku suka. Aku mengutip Heidegger: “Dasein adalah entitas yang dalam keberadaannya mempertanyakan keberadaannya.” Tapi dia cuma balas: “Hehe.” Di situlah aku tahu bahwa eksistensialisme tidak bisa dijadikan gombalan. Dan lebih dari itu: filsuf tidak selalu bisa jadi kekasih. Kenapa? Karena filsuf terlalu banyak berpikir. Dan berpikir itu sering kali tidak seksi. Filsuf ingin membedah cinta, memetakannya, mengukurnya dengan sistem. Padahal cinta tidak suka diukur. Ia lebih suka dibiarkan kabur, liar, bebas seperti rambut di tiupan angin senja. Cinta tidak suka disimpulkan. Ia lebih suka dinyanyikan.
Seorang filsuf duduk di perpustakaan, sedang puisi duduk di beranda rumah yang penuh bunga. Filsuf menanyakan makna kata “aku cinta kamu” sedangkan penyair cukup mengatakan itu—dan menang. Filsuf merenung tentang keniscayaan relasi aku-dan-engkau, sedang seseorang di luar sana hanya berkata, “Aku suka kamu dari dulu,” dan lantas mereka pacaran. Seorang filsuf akan kalah. Dan bukan hanya sekali. Tapi ada satu hal yang lebih menyedihkan: para filsuf tahu mereka akan gagal. Mereka tahu bahwa cinta tidak bisa ditaklukkan oleh dialektika. Tapi mereka tetap mencoba. Mungkin karena mereka pikir, kalau tidak bisa mencintai dengan benar, paling tidak mereka bisa menulisnya dengan indah. Dan ya, begitulah akhirnya: cinta mereka berakhir jadi sebuah argumen berbentuk tumpukan kata-kata, bukan jadi hubungan. Aku pernah bertanya pada diriku sendiri, dengan cukup getir: Apakah aku gagal karena terlalu banyak berpikir? Atau aku berpikir karena terlalu takut untuk gagal? Dan jawaban itu, seperti semua jawaban filosofis, hanyalah pertanyaan baru yang dibungkus lebih rapi. Barangkali para filsuf, punya kekurangan mendasar dalam hal ini: mereka takut salah. Mereka ingin semua relasi dimulai dengan definisi yang jelas. Tapi cinta tidak suka definisi. Cinta lebih suka kejutan. Dan hidup bersama filsuf itu, kata seorang temanku, seperti hidup dengan manual book yang terus di-update setiap pagi. Melelahkan. Namun, jangan salah. Filsuf bukan tidak bisa mencinta. Mereka hanya terlalu berharap bahwa cinta itu masuk akal. Bahwa jika mereka mencintai dengan baik, maka dunia akan membalasnya dengan baik pula. Tapi ternyata cinta tidak mengenal hukum timbal balik. Cinta kadang datang hanya untuk diam. Kadang pergi tanpa alasan. Dan itu menyiksa—terutama bagi mereka yang ingin semua ada alasannya.
Satu hal yang pasti: cinta bukan proyek filsafat. Ia adalah pemberontakan terhadap segala sistem. Ia adalah afirmasi yang tidak butuh pembuktian. Ia seperti tawa anak kecil: tulus, tiba-tiba, dan tak bisa dijelaskan. Dan aku—yang duduk dengan wajah muram sambil membedah etika Kant—tentu saja, gagal. Maka, pada akhirnya, aku menertawakan diriku sendiri. Aku, yang pernah berpikir bisa memenangkan hati perempuan dengan mengutip Spinoza, akhirnya kalah oleh lelaki yang mengajaknya makan bakso, ternyata bakso mempunyai daya yang kuat daripada perkataan Spinoza. Aku, yang percaya bahwa cinta harus dipikirkan matang-matang, akhirnya melihat orang jatuh cinta hanya karena tertawa bersama di sebuah coffee shop. Lucu? Ya. Tragis? Jelas. Tapi juga penuh pelajaran. Karena dari kekalahan-kekalahan itu aku belajar, bahwa mungkin tujuan filsafat bukan untuk mengerti cinta. Tapi untuk menghargai kegagalannya. Untuk tahu bahwa dalam cinta, kita kembali jadi manusia seutuhnya: rapuh, bingung, dan penuh harap. Dan hari ini, jika kau bertanya padaku apa arti cinta, aku tidak akan lagi membacakannya dari buku. Aku akan menunjuk seseorang yang duduk di sebelahmu, tersenyum padamu, dan berkata, “Lihat dia. Itulah jawabannya.” Tanpa kutipan. Tanpa catatan kaki. Tanpa argumen. Hanya cinta. Yang tak pernah bisa dipahami, tapi selalu layak diperjuangkan. Dan mungkin, justru karena tak bisa dipahami, cinta tetap jadi sesuatu yang ingin kupercaya. Meski aku gagal. Lagi dan lagi. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa itu cukup.


"Aku mengira cinta bisa kutulis dengan baik. Nyatanya, dia cuma bilang: 'Ah, terlalu panjang. Aku malas baca.'"

Komentar

Postingan Populer