Bagaimana Sebuah Bunga Membatalkan Pidato Zarathustra

 Langit barat malam itu tidak menjanjikan apa pun, kecuali satu hal: bahwa cahaya senja tidak selalu berarti akhir. Aku berdiri di tepi tebing, tempat aku biasa menertawakan doa dan menyumpahi arah. Di bawah sana, dunia masih sibuk menata sebab dan akibat, seolah logika adalah tali yang cukup panjang untuk menjangkau makna. Tapi malam itu, tanah di bawah kakiku terasa ganjil. Bukan goyah. Tapi... rapuh dengan cara yang tidak biasa.

“Aku mencium aroma yang bukan milik barat,” suara itu datang dari belakangku. Zarathustra. Wajahnya seperti prasasti yang bosan dibaca ulang.

“Barat tidak kehilangan aromanya,” jawabku. “Tapi angin berubah arah.”

“Dan angin tidak pernah netral,” katanya. “Apa yang tertiup ke jiwamu kali ini?”

Aku menoleh, perlahan. “Ada yang tumbuh.”

Zarathustra mendekat. “Apa yang tumbuh? Keinginan? Kepasrahan? Atau hanya rumput liar yang kau biarkan karena lelah memangkas?”

Aku menunjuk sesuatu yang tak terlihat. “Di sana. Tepat di sela tanah dan batu. Tumbuh sesuatu. Tidak besar. Tidak kuat. Tapi cukup untuk mengganggu pijakanku.”

Ia menyipitkan mata. “Kau menyebutnya dengan nama?”

“Bunga.”

Zarathustra tertawa. Tawa yang panjang, seperti air bah yang menyeret kesombongan ke jurang.

“Jadi kini sang pembantah dewa memberi nama pada kelam dengan bahasa kebun? Bunga?”

“Karena tidak ada kata lain yang cukup asing bagi logika, dan cukup setia pada kehadiran.”

“Bunga adalah bentuk. Dan bentuk selalu berbahaya bagi mereka yang membenci akhir.”

"Bukan bentuk yang menggangguku,” sahutku. “Tapi kenyataan bahwa aku tak bisa mengingkarinya.”

Zarathustra melangkah ke tepi. “Kau, yang dulu berkata bahwa hanya yang keras yang pantas bertahan, kini memberi tempat bagi sesuatu yang bisa patah oleh angin?”

“Ada hal-hal yang tak bisa dipatahkan dengan kekuatan,” jawabku. “Bukan karena ia kuat, tapi karena ia tidak melawan.”

“Kau menyebutnya bunga. Tapi bukankah itu bisa jadi jebakan?”

"Segala sesuatu bisa jadi jebakan, jika kita menganggap dunia ini adalah perangkap.”

Zarathustra menunduk, seperti menakar tanah yang kita pijak.

“Jika bunga itu tumbuh, maka ia akan menuntut ruang.”

“Tidak. Ia tidak menuntut. Ia hanya tumbuh. Diam. Tidak memaksa. Tapi keberadaannya cukup untuk menimbulkan selisih dalam pikiran yang biasa berbaris lurus.”

“Dan kau menyukainya?”

“Aku tidak menyukai atau membencinya. Aku hanya tak bisa lagi berpura-pura bahwa tanah ini steril.”

Zarathustra memalingkan wajah. Mungkin karena jijik. Mungkin karena takut ia juga mengendus wangi yang sama.

“Barat akan mencurigaimu,” katanya. “Filsafatmu akan mulai retak. Palumu akan tumpul.”

“Biar,” jawabku. “Karena barat terlalu lama membangun bangunan dari batu yang tak pernah diizinkan basah oleh embun.”

Ia menghela napas. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, napasnya terdengar berat.

“Bunga akan menggoda untuk dicabut.”

“Bunga tidak bersalah atas keinginan manusia untuk memilikinya.”

“Dan jika suatu saat ia mati?”

“Maka aku akan tahu bahwa sesuatu pernah tumbuh di dalam pikiranku tanpa perlu kuundang.”

Zarathustra diam. Lalu ia bicara perlahan, seolah kata-katanya takut pecah sebelum tiba.

“Dulu, aku juga melihat bunga. Bukan satu. Tapi taman. Tumbuh di dasar batinku. Tapi aku membakarnya. Sebelum aku sempat memahami apa yang mereka katakan dalam diam.”

Aku menatapnya. Kali ini bukan sebagai murid atau lawan, tapi sebagai sesama yang dihantui oleh pertumbuhan yang tidak direncanakan.

“Dan kau menyesal?”

“Aku tidak menyesal,” katanya. “Tapi sejak saat itu, setiap keheningan terdengar kosong. Bukan sunyi yang penuh, tapi kekosongan yang berteriak.”

Kami sama-sama menatap tanah.

Bunga itu—bukan satu, bukan dua, mungkin tidak bernama—tapi ia tumbuh. Dan dalam pertumbuhannya, ia tidak hanya menembus tanah. Ia juga menembus kesombongan.

Zarathustra akhirnya berkata, “Apa yang kau pelajari dari bunga itu?”

Aku menjawab: “Bahwa tidak semua yang rapuh harus dilenyapkan. Beberapa cukup dibiarkan menjadi gangguan kecil dalam sistem berpikir yang terlalu percaya pada dirinya sendiri.”

Ia tertawa pendek. “Kau sedang mendekati sesuatu yang tak bisa dituliskan. Dan itu berbahaya.”

“Segala yang tak bisa dituliskan,” kataku, “justru sering kali lebih jujur.”

Kami berdiri dalam diam. Tidak menatap satu sama lain. Hanya mendengarkan suara-suara tak kasat telinga. Mungkin itulah percakapan sejati: saat kata-kata tak lagi berfungsi, dan satu-satunya yang tersisa adalah kesediaan untuk tetap berada dalam satu ruang tanpa menguasai.

“Jika suatu hari bunga itu tak lagi ada?” tanya Zarathustra.

“Bumi ini,” jawabku, “akan tetap mengingat bekas akarnya.”

Ia menoleh untuk terakhir kalinya. “Jangan percaya pada segala yang tumbuh tanpa menjelaskan tujuannya.”

“Aku tak butuh tujuan,” sahutku. “Cukup tahu bahwa ada yang tumbuh.”

Zarathustra pergi. Tidak dengan marah. Tidak pula dengan lega. Tapi seperti seorang tua yang baru saja bertemu dengan masa mudanya dan memilih tidak menyapanya.

Dan aku berdiri sendiri. Di bawah kakiku, tanah masih sama. Tapi rasanya tidak. Karena kini, di antara batu, tumbuh sesuatu yang tak bisa kucabut. Bukan karena aku tak sanggup, tapi karena aku tak ingin. Ia tidak bersuara. Tidak meminta. Tapi cukup untuk membuat segala definisiku yang megah—terlihat seperti tenda yang ditiup angin sore.

Sebuah bunga.

Yang bukan siapa-siapa.

Tapi cukup untuk membungkam suara di dalamku yang selama ini paling keras.




Komentar

Postingan Populer