Surat Balasan untuk Pak Sapardi



 Aku sedang bosan memikirkan hal ribet. Terlalu banyak simpul dalam kepala. Terlalu banyak orang mencoba menjelaskan dunia dengan kata-kata sulit, seolah hidup adalah soal yang bisa diselesaikan jika kau punya cukup banyak kutipan dari Derrida. Tapi justru ketika aku ingin berhenti berpikir, aku membaca puisi itu—Hujan Bulan Juni. Dan entah kenapa, puisi itu justru memperparah keinginanku untuk mengerti sesuatu yang tak pernah selesai dipikirkan.

"Tak ada yang lebih tabah dari hujan di bulan Juni."

Katamu begitu, Pak Sapardi. Tapi apa itu “tabah”? Dan mengapa hujan? Mengapa bukan aku? Kenapa aku tidak tabah seperti hujan? Kenapa aku selalu ingin menjelaskan segalanya, padahal mungkin hujan hanya ingin jatuh? Apa makna “jatuh” jika tidak pernah sampai? Dan jika aku jatuh, apakah aku juga harus diam-diam? Apa gunanya jatuh jika tak ada yang mendengar bunyinya?

Mengapa puisi ini memuja diam, padahal dunia terlalu sunyi untuk terus dibungkam? Aku menuduh puisimu romantik, tapi diam-diam aku ingin jadi sepertinya: mengasihi tanpa suara, mencintai tanpa tuntutan. Tapi benarkah itu cinta, atau hanya bentuk pasif dari kehendak yang dibungkam oleh norma dan kesopanan?

Mengapa rindu harus rahasia? Bukankah rahasia adalah bentuk aristokrasi dalam perasaan? Siapa yang menentukan bahwa yang paling indah adalah yang tersembunyi? Aku mencurigai bahwa Hujan Bulan Juni adalah propaganda ketabahan. Bahwa manusia ideal adalah manusia yang tidak berisik. Yang tidak menuntut apa-apa, yang diam-diam basah, dan setelah itu menguap. Dan aku muak—pada ekspektasi macam itu. Pada glorifikasi keheningan yang dikira spiritual padahal bisa jadi hanya ketakutan untuk bicara. Apa salahnya mengatakan: “Aku ingin dicintai juga”? Apa salahnya berharap seseorang menengok ke jendela saat hujan turun?

Tapi aku juga tahu, bisa jadi hujan itu hanya metafora bagi seseorang yang sudah terlalu lelah meminta. Karena dalam dunia yang sibuk dengan dirinya sendiri, yang tahu caranya mencintai bukan yang paling keras bicara, melainkan yang paling tahu kapan harus berhenti berharap. Dan barangkali itu sebabnya puisi ini tak mati-mati. Karena di antara kita semua—yang berpikir, berdebat, dan berceloteh soal filsafat cinta— masih ada bagian dari diri yang ingin diam saja. Bukan karena tabah, tapi karena kapok.

Mengapa puisi ini begitu pendek tapi begitu menyebalkan? Mengapa hujan tidak memberontak? Mengapa pohon tidak memanggilnya? Apa itu cinta jika ia hanya satu arah? Apa itu kasih jika tidak pernah dipeluk balik? Dan apakah semua penderitaan diam itu bermakna, atau hanya glorifikasi dari kegagalan komunikasi?

Kadang aku bertanya, jika hujan tahu bahwa pohon itu tak akan berbunga untuknya, mengapa ia tetap jatuh? Dan jika aku tahu bahwa cintaku tak akan dibalas, apakah aku masih akan menyayang? Apakah manusia sungguh semulia itu, atau hanya terlalu keras kepala untuk berhenti mencintai hal-hal yang tak menginginkannya?

Pak Sapardi, kau menulis seolah rindu adalah tugas yang suci. Tapi bagaimana jika rindu itu menjelma jadi kutukan yang tidak bisa diputuskan? Apakah keheningan itu pilihan, atau warisan dari kebudayaan yang tidak memberi ruang pada tangisan? Dan jika benar, bahwa yang diam lebih berharga dari yang bising, maka aku kalah dari puisimu. Karena aku masih ingin ribut. Aku ingin hujan yang turun sambil mengetuk kaca, yang membuat orang terjaga dari tidur, yang membuat mereka berkata, “ada yang rindu di luar sana.”

Aku menertawakan diriku sendiri. Karena mungkin aku hanya iri. Iri pada puisi yang tenang. Iri pada hujan yang tahu caranya jatuh tanpa berharap. Dan mungkin, aku menulis ini bukan untuk menggugat puisimu, tapi untuk mengakui bahwa aku tidak sekuat itu. Bahwa aku tidak ingin diam. Bahwa aku ingin seseorang tahu, aku pernah jatuh, dan itu menyakitkan.

Hujan bulan Juni bisa tabah. Aku tidak. Aku ingin patah. Dan membiarkan suaraku didengar. Bahkan jika tak ada yang mendengarkan. Dan mungkin, itu juga sejenis hujan: yang tidak jatuh dari langit, tapi dari kepala yang penuh, dan hati yang tumpah, dalam bentuk kata-kata.

"Mungkin aku bukan hujan, bukan juga pohon, tapi seseorang yang ingin tahu, apakah mencintai diam-diam sungguh layak untuk ditulis".




Komentar

Postingan Populer