Baduy dan percakapannya
Temanku menoleh sambil ngos-ngosan menaiki tanjakan tanah yang licin. “Bayangin kalau kamu kesini bukan sama aku, tapi sama orang yang kamu ingini sekarang,” ucapnya, sambil mengusap keringat di jidat.
Aku menatap langkah kakiku, lalu menjawab datar, “Kalau sama dia, mungkin aku malah nggak sempet lihat pemandangan.”
“Kenapa nggak sempet?” Dia menoleh, napasnya masih terengah.
Aku menendang kerikil kecil ke pinggir jalur, “Soalnya aku bakal sibuk mikir, ini dia beneran atau cuma harapan yang aku pelihara biar aku nggak ngerasa kosong.”
Dia mengerutkan dahi, “Hah? Maksudnya apa sih?”
Aku berhenti sebentar, memandangi sawah yang terbentang di samping jalur setapak, “Kadang yang kita inginkan itu bukan orangnya, tapi rasa aman yang kita kira bisa dia kasih.”
Temanku mengangguk pelan, masih belum paham sepenuhnya. “Jadi kamu suka sama rasa aman?”
Aku menoleh ke arahnya, menahan senyum, “Ya nggak gitu juga, tapi kan banyak orang ngejar orang lain cuma karena takut sendirian.”
Dia mendengus kecil, “Kalau aku mah kalo suka ya suka aja.”
Aku tertawa kecil, “Nah, itu bagus. Sederhana.”
Dia berjalan lagi, menoleh sambil berkata, “Tapi kamu suka sama dia, kan?”
Aku mengangkat bahu, "Aku nggak tahu aku suka dia atau suka diriku yang lagi suka dia.”
Dia berhenti lagi, memandangku dengan bingung, “Ya ampun, pusing aku dengerin kamu.”
Aku nyengir, mengambil botol minum dari tas, “Udah, jalan lagi aja. Nanti juga paham sendiri pas jatuh cinta.”
Dia menghela napas panjang, “Kamu ribet, Van.”
Aku menoleh sebentar, menatap wajahnya yang lelah tapi tetap sabar mendengar celotehanku, “Biarin, daripada aku pura-pura paham sama perasaanku sendiri.”
Dia diam, berjalan lagi di depanku. Kami melewati jembatan bambu yang berderit saat diinjak, lalu jalanan tanah menurun yang membuat kaki harus ekstra hati-hati. Di sela suara daun bambu yang bergesekan, temanku tiba-tiba bersuara, “Kalau kamu sama dia kesini, mau ngomong apa?”
Aku menatap punggungnya yang berjalan pelan, “Mungkin aku nggak bakal ngomong apa-apa.”
“Kenapa?” tanyanya singkat.
“Soalnya aku takut, pas aku ngomong, aku sadar yang aku ajak ngomong itu bukan dia, tapi harapan di kepalaku.”
Temanku terdiam cukup lama, lalu menoleh sambil mengusap keningnya yang basah keringat, “Van, kamu tau nggak, kamu tuh kayak orang gila yang gila karena filsafat yang isinya pertanyaan semua dan itu membuat orang kesal.”
Aku terkekeh pelan, “Ya abisnya hidup juga isinya pertanyaan semua.”
“Terus jawaban kamu mana?”
Aku menoleh pada jalan setapak yang kami lewati, “Ya ini jawabannya, jalan terus. Nanti juga ketemu.”
Dia mengangguk pelan, “Iya juga sih, kalau nggak jalan, nggak sampai.”
Aku tersenyum kecil, akhirnya dia paham. Tidak perlu memaksa menjelaskan terlalu panjang, karena perjalanan ini sendiri adalah penjelasan paling sederhana untuk semua pertanyaan yang belum terjawab. Kami berjalan lagi, membiarkan suara alam menjadi percakapan yang diam-diam lebih jujur daripada kata-kata. Kadang temanku bersiul kecil, kadang dia menoleh memastikan aku tidak tertinggal, kadang dia hanya berjalan diam sambil menatap tanah, entah apa yang dipikirkannya.
Aku membiarkan pikiranku mengambang, membiarkan harapan berjalan di sampingku, tidak di depanku, tidak di belakangku, hanya di sampingku, menoleh sesekali, lalu melanjutkan langkah. Di Baduy ini, aku sadar, mungkin tidak semua harapan perlu dijawab sekarang. Tidak semua rasa perlu dimengerti sekarang. Tidak semua keinginan harus digenggam erat sekarang. Kadang cukup berjalan perlahan, menarik napas panjang, dan menerima kalau aku memang tidak tahu apa-apa. Karena di ujungnya, perjalanan ini bukan tentang siapa yang berjalan bersamaku, tapi tentang bagaimana aku belajar berdamai dengan langkahku sendiri, dengan harapan yang kadang muncul seperti bayangan, dengan keinginan yang kadang berubah menjadi beban, dan dengan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin hanya akan terjawab seiring waktu. Dan ketika temanku menoleh lagi, dengan wajah lelahnya, lalu berkata, “Lanjut, ya?” Aku hanya mengangguk, menoleh pada langit yang biru tanpa awan, lalu berjalan lagi.


Komentar
Posting Komentar