Bagaimana?
Bagaimana aku merindukan seseorang yang belum pernah benar-benar kugenggam?
Bagaimana aku bisa dekat, tanpa merasa terlalu dekat?
Bagaimana aku menunggu tanpa berharap?
Bagaimana aku memeluk, tanpa kehilangan diri sendiri dalam pelukan itu?
Bagaimana aku menatapmu, tanpa menciptakan ketergantungan dari tatapan itu?
Bagaimana aku merasa nyaman, tanpa takut rasa nyaman ini hilang tiba-tiba?
Bagaimana aku bercerita padamu, tanpa takut kau akan menjauh setelah tahu semua tentangku?
Bagaimana aku bisa tinggal, tanpa menuntut kau juga tinggal?
Bagaimana aku melepaskan, tanpa merasa sedang kehilangan?
Bagaimana aku menenangkan hatiku, ketika jarak terasa lebih nyata daripada apa pun yang kita ucapkan?
Bagaimana aku berani berkata jujur, jika kejujuran itu mungkin membuatmu pergi?
Bagaimana aku mengakui rasaku, tanpa memintamu menjawabnya?
Bagaimana aku menerima, bahwa mungkin aku hanyalah jeda dalam perjalananmu?
Bagaimana aku memaafkan diriku, karena berharap kau tinggal lebih lama?
Bagaimana aku menuliskan semua ini, tanpa berharap kau akan membaca dan mengerti?
Bagaimana aku menghargai pertemuan ini, meski aku tahu setiap pertemuan menuntut perpisahan?
Bagaimana aku berdamai dengan rasa ingin memiliki, tanpa menjadikannya penjara untukmu?
Bagaimana aku mencarimu dalam doa, tanpa menjadikanmu Tuhan dalam diriku?
Bagaimana aku merasa cukup dengan apa adanya, tanpa mengharapkan lebih darimu?
Bagaimana aku bisa berhenti menoleh ke belakang, jika setiap jejakmu masih tertinggal di pikiranku?
Bagaimana aku menunggu kabar, tanpa menjadi gelisah oleh diam?
Bagaimana aku bisa pulang, jika arah pulang itu kau yang bawa?
Bagaimana aku tetap berjalan, ketika setiap langkah terasa menunggumu?
Bagaimana aku tak jatuh, ketika senyummu adalah jurang yang tak kutolak?
Bagaimana aku bertahan, ketika kehadiranmu adalah luka yang kunikmati?
Bagaimana aku menghapus jejakmu, ketika aku masih ingin menemukanmu di sana?
Bagaimana aku merawat rasa ini, tanpa menjadikannya beban padamu?
Bagaimana aku memejamkan mata, jika bayangmu masih menari di antara kelopak yang letih?
Bagaimana aku meyakinkan diriku, bahwa tak semua yang membuatku tenang harus kumiliki?
Bagaimana aku mengucap selamat tinggal, ketika diam-diam aku ingin tetap kau di sini?
Bagaimana aku bisa memaafkan diriku, karena berharap kau paham meski aku tak pernah bicara?
Bagaimana aku menata langkah, jika kau adalah kekacauan yang kusukai?
Bagaimana aku menolak tatapanmu, jika di dalamnya aku ingin tinggal?
Bagaimana aku tetap waras, jika rindu adalah candu yang kau tanam dengan sederhana?
Bagaimana aku tidak berharap, ketika percakapan kecil denganmu terasa seperti rumah?
Bagaimana aku bisa tenang, jika setiap diam kita lebih bising dari keramaian?
Bagaimana aku berhenti menulis tentangmu, jika kata-kata ini adalah caraku memelukmu diam-diam?
Bagaimana aku tidak menunggu, ketika kau adalah satu-satunya yang ingin kutunggu?
Bagaimana aku menjadi cukup untukmu, jika aku sendiri tak cukup untuk diriku?
Bagaimana aku menjauh, jika aku masih ingin menoleh padamu setiap pagi?
Bagaimana, bagaimana, bagaimana.. belakangan ini "bagaimana" adalah sesuatu yang sering keluar menjadi awal dari setiap pertanyaanku. Ia lebih menarik belakangan ini daripada "apa" dan "kenapa."


Komentar
Posting Komentar