Bersikaplah seperti kau tak punya
Bersikaplah seolah kamu tidak punya. Sebuah kalimat yang tampak paradoks, sekaligus subversif. Di tengah dunia yang menggila oleh kepemilikan entah harta, status, pasangan, pengaruh, bahkan identitas, kalimat diatas adalah sabotase terhadap sistem nilai yang telah dipuja begitu lama: bahwa untuk ada, kita harus memiliki. Bahwa menjadi berarti berarti memiliki lebih dari yang lain. Maka “bersikaplah seolah kamu tidak punya” adalah pemberontakan terhadap mitos modern tentang kepemilikan sebagai sumber eksistensi.
Kita hidup dalam zaman di mana segala sesuatu dikalkulasi: berapa banyak pengikutmu, berapa banyak rumahmu, berapa banyak gelar di belakang namamu. Segala yang dapat dihitung dianggap sebagai yang patut dihormati. Padahal angka tidak pernah mampu menangkap kualitas manusia. Angka hanya mampu menghitung, tetapi tidak bisa memahami. Maka ketika seseorang bersikap seolah ia tidak punya, ia sedang melepaskan diri dari logika angka dan masuk ke dalam ruang yang lebih mendalam: ruang keberadaan tanpa sandaran kepemilikan. Filsuf Jerman, Martin Heidegger, dalam pemikirannya tentang being atau keberadaan, menunjukkan bahwa manusia sering kali terjebak dalam apa yang ia sebut sebagai das Man—hidup seperti orang kebanyakan, mengikuti arus, tanpa menyadari keberadaannya yang sejati. Salah satu jebakan dari das Man adalah identifikasi yang berlebihan terhadap hal-hal luar: pekerjaan, barang, relasi, dan simbol-simbol sosial. Ketika seseorang bersikap seolah ia tidak punya, itu bukan berarti ia menolak realitas kepemilikan, melainkan menolak identifikasinya. Ia tidak membiarkan hal yang dimiliki itu menguasai definisi siapa dirinya.
Pernahkah kita merasa “hilang” ketika kehilangan sesuatu? Misalnya, kehilangan gawai, atau pekerjaan, atau bahkan pujian dari orang-orang. Jika ya, maka kita bukan hanya kehilangan benda, tapi juga sebagian dari konsep diri kita. Kita telah melekatkan identitas kita terlalu dalam pada apa yang kita punya. Maka bersikaplah seolah kamu tidak punya, agar ketika kamu kehilangannya, kamu tidak kehilangan dirimu. Ini adalah disiplin eksistensial: menjauh dari segala hal yang bisa rusak, hilang, atau direbut, dan bertumpu pada hal yang lebih abadi—yakni keberadaanmu sendiri, kesadaranmu akan hidup. Kepemilikan menipu kita dengan rasa aman. Ia menciptakan ilusi bahwa kita menguasai dunia, padahal sering kali justru kita yang dikuasai. Barang-barang yang kita punya mulai punya kita. Rumah menjadi beban cicilan. Gawai menjadi tuan atas waktu. Jabatan menjadi penjara ekspektasi. Maka sikap seolah tidak punya adalah cara untuk membebaskan diri dari perbudakan yang disamarkan sebagai kebanggaan.
Yesus dari Nazaret pernah berkata: “Barang siapa hendak mengikut Aku, hendaklah ia menyangkal dirinya, memikul salibnya, dan mengikut Aku.” Pernyataan ini bukan sekadar ajakan religius, melainkan sikap eksistensial: menyangkal diri dari keterikatan palsu, dari kesadaran palsu yang dibangun oleh milik. Bahkan cinta, ketika diklaim sebagai milik, akan berubah jadi beban dan ketakutan. Maka cinta pun perlu dilepaskan dari logika kepemilikan. Bersikaplah seolah kamu tidak punya, bahkan ketika kamu sedang mencintai. Tentu ini bukan berarti menjadi fatalistik atau apatis. Justru sebaliknya: bersikap seolah tidak punya adalah bentuk keberanian yang radikal. Karena ia menolak dunia berdasarkan logika “semakin banyak kamu punya, semakin kamu berarti.” Ia menciptakan ruang untuk berbagi, bukan sekadar memberi. Karena hanya orang yang tidak melekat yang bisa benar-benar memberi tanpa perhitungan. Dunia kapitalis mengenal “filantropi,” tapi seringkali itu hanya transfer kekayaan, bukan pembebasan dari kepemilikan. Sikap seolah tidak punya bukan soal mengosongkan rekening, tapi mengosongkan batin dari rasa memiliki yang absolut.
Buddhisme menyebut konsep ini sebagai non-attachment. Bahwa penderitaan lahir dari kelekatan. Kita menderita bukan karena kehilangan sesuatu, tapi karena kita terlalu melekat padanya. Maka pembebasan bukan berarti menjadi miskin, tetapi menjadi merdeka dari rasa kepemilikan. Orang yang bersikap seolah ia tidak punya, tidak terguncang ketika kehilangan. Ia tidak menganggap hal-hal itu sebagai definisi dirinya. Ia memiliki, tetapi tidak dimiliki.
Dalam politik dan sosial, sikap ini adalah ancaman. Orang yang tidak bisa digoda oleh milik, adalah orang yang tidak bisa dibeli. Ia terlalu bebas untuk dikendalikan. Maka tak heran banyak sistem sosial berusaha menciptakan ketergantungan. Pendidikan tidak diarahkan pada kebebasan berpikir, melainkan pada pencapaian status. Agama dikomodifikasi sebagai jaminan keselamatan yang bisa diklaim seperti polis asuransi. Bahkan cinta pun dijual dalam bentuk perjanjian legal formal, seolah cinta bisa dimiliki dan diwariskan seperti tanah dan kendaraan. Padahal inti dari keberadaan manusia bukanlah apa yang ia punya, tapi bagaimana ia hadir. Seorang pertapa yang tidak punya apa-apa, bisa lebih utuh dari seorang direktur yang bergelimang aset tapi kehilangan dirinya. Bersikap seolah tidak punya adalah cara untuk hadir secara penuh, tidak terpecah oleh kecemasan akan kehilangan. Ketika kita tidak lagi digerakkan oleh rasa takut kehilangan, saat itulah kita benar-benar hidup.
Kita bisa mengambil contoh dari para filsuf jalanan yang hidup dalam kesederhanaan: Diogenes, si filsuf sinis, tidur dalam gentong dan menertawakan Alexander Agung karena mengira dirinya agung hanya karena banyak punya. Diogenes tak punya apa-apa, tapi ia tidak kekurangan apa-apa. Karena ia tahu bahwa keutuhan tidak datang dari luar, tapi dari dalam. Maka bersikap seolah kamu tidak punya bukanlah menyerah, melainkan melawan. Melawan logika dunia yang mengukur segalanya dengan kepemilikan. Ini adalah perlawanan diam yang paling radikal. Sebab ia menolak bermain dalam aturan yang ada, dan menciptakan aturan batin yang baru: kamu cukup, bahkan ketika tidak punya apa-apa. Dan ketika kamu sadar bahwa tidak punya bukan berarti tidak ada, melainkan tidak melekat, maka kamu telah melangkah ke dalam kebebasan yang sejati. Kamu tidak lagi dikendalikan oleh rasa takut kehilangan, tidak tergoda oleh ilusi kekuasaan. Kamu hidup bukan untuk menumpuk, tapi untuk hadir. Bukan untuk menguasai, tapi untuk menyadari.
Pada akhirnya, segala yang kita miliki hanyalah sementara. Tubuh ini pun akan kita tinggalkan. Maka satu-satunya hal yang kita benar-benar punya adalah cara kita bersikap. Dan jika kita bisa bersikap seolah tidak punya, maka kita telah memiliki segalanya: kebebasan, ketenangan, dan keberanian untuk hidup dengan utuh. Bersikaplah seolah kamu tidak punya—agar kamu tak kehilangan apa yang paling penting: dirimu sendiri.


Komentar
Posting Komentar