Catatan Nietzchean. 2

Apakah aku Zat yang tidak boleh menangis?

Aku ini seorang Nietzschean. Mungkin tak akan ada seorang Nietzschean yang bangga menyatakan bahwa dirinya seorang Nietzschean, tapi aku berbeda. Aku bukan bangga, aku hanya tidak bisa lepas dari kenyataan itu. Aroma Tuhan yang mati melekat kuat di aroma bajuku.

Kau tahu, seorang Nietzschean harus amor fati. Sebuah jalan hidup yang mengharuskan mencintai takdirnya, walau berat, cacat, tidak elegan, atau tidak pantas untuk dijalani. Kami dipaksa untuk seperti itu. Menciptakan makna hidup kami sendiri dan tidak tunduk pada siapa pun agar tidak menjadi budak. Anggaplah kami layangan yang sudah terbang tinggi namun terikat. Dengan sengaja, kami ingin terbang tinggi tanpa keterikatan. Maka dari itu, kami memutuskan benang yang mengikat kami. Kami ingin terbang dengan ugal-ugalan, dengan bebas, dengan tidak terikat, dengan tidak dikendalikan.

Salah satu tugas Nietzschean adalah berefleksi, jika bisa setiap hari. Mengapa harus berefleksi? Jawabannya sederhana bagi kami: karena refleksi adalah instrumen yang lengkap untuk mengetahui diri kami. Apakah kami masih bebas? Apakah kami sudah terkungkung? Apakah kami belum lepas? Berefleksi adalah tingkatan paling atas menurut kami untuk menciptakan nilai kami sendiri di tengah kenihilan dunia yang disebabkan oleh kematian Tuhan. Oleh karena itu, aku mulai menggali kembali titik di mana aku berangkat untuk menjadi seorang yang percaya kepada bapak berkumis tebal itu dan nabi termasyurnya, Zarathustra.

Menarik menjadi Nietzschean. Kamu harus bersikap waspada terhadap apa yang akan terjadi jika kamu melakukan sesuatu tindakan dengan sadar. Kami dipaksa untuk membedah kemungkinan-kemungkinan pahit untuk kami imani, agar jika itu terjadi, kami tidak begitu merasakan sakit karena kami sudah mengetahuinya lebih dulu. Tapi, realitas tidak menjawab seperti itu. Kami harus melihat dunia dengan sinis dan penuh kewaspadaan. Dua orang teman menangis di sebelahku, memberikan cerita yang bisa membuat mereka menangis. Aku sedikit memikirkan: kenapa seseorang bisa menangis? Karena emosi? Apakah emosi tidak bisa diredam?

Tangisan mereka adalah jalan untuk aku pulang ke dalam diriku sendiri. Jalan untuk menuju pulang itu pastilah menyimpan pertanyaan-pertanyaan: kenapa aku tidak bisa menangis seperti mereka? Apakah aku cacat? Apakah emosiku tidak stabil? Apakah ada yang salah dari setiap pola dan teori yang aku ketahui? Apakah aku salah tafsir bahwa dunia juga perlu suara tangisan?

Kebingungan itu membawa aku pergi terlalu jauh untuk menyelami segala ketidaktahuanku dalam berekspresi. Kepala adalah salah satu yang tidak mewariskan air mata untuk aku keluarkan ketika aku ingin bersedih. Kepala lebih suka aku menulis daripada diam dan menangis. Ia terlalu keras, terlalu merasa malu jika aku menangis. Dia selalu menolak untuk aku keluarkan air mataku. Dan terkadang, aku selalu iri dengan seseorang yang bisa mengandalkan suara hatinya. Maksudku, aku selalu tidak bisa. Ia tidak rasional dan tidak bisa dikunyah. Kebenarannya seperti permen karet: manis memang untuk beberapa saat, namun hambar di akhir dan hanya menyisakan kunyahan tak terasa.

Hati? Apa itu hati? Suara hati? Apa itu suara hati? Orang-orang mengenal suara hati sebagai suara terdalam yang memerintahkan manusia dengan tepat. Tapi, bagaimana cara mendengarnya? Aku juga ingin mendengarnya dengan jelas hingga menangis. Aku hanya bisa melihat orang merasakannya tanpa bisa merasakannya. Hina sekali diriku, di tengah kenyataan bahwa aku sudah tercerahkan, ternyata aku mengalami kekosongan. Tangisan itu lebih susah untuk aku keluarkan dibandingkan teka-teki rasio. Ia harus tulus dan menyadari bahwa manusia memang perlu menangis.

Tapi, apakah itu berarti aku bukan manusia? Apakah aku zat? Apakah aku plankton? Apakah aku debu? Apakah aku bintang? Atau yang paling buruk, apakah aku sudah mati, mayat yang berjalan tanpa ekspresi dan mengaku-ngaku bahwa aku masih hidup? Itu semua merepotkan aku. Aku tidak bisa mengetahui dengan jelas jika kupikirkan sendiri. Dan akhirnya, aku hanya bisa iri melihat orang yang bisa menangis.

Aku tahu, Nietzsche mungkin akan menertawakan keseriusan ini. Namun, inilah refleksi harianku. Di balik semua pemikiran tentang kebebasan, kehendak untuk berkuasa, dan amor fati yang aku jalani, ada pertanyaan sederhana yang mengusikku lebih dari pembahasan tentang Tuhan yang mati atau moralitas budak: kenapa aku tidak bisa menangis?

Tangisan adalah tanda manusia hidup, kata sebagian orang. Tangisan adalah penanda keretakan yang tulus, kata sebagian lagi. Tangisan adalah pembebasan, kata mereka yang menitikkan air mata tanpa ragu. Sementara itu, aku hanya duduk dan memandang mereka, memikirkan bagaimana cara mengurai semua itu dalam bahasa logika.

Aku ingin menangis tanpa analisa. Aku ingin menangis tanpa harus memikirkan bahwa tangisan adalah bagian dari “proses katarsis.” Aku ingin menangis tanpa harus menjelaskan mengapa aku menangis. Aku ingin menangis tanpa harus memikirkan bahwa tangisan adalah bagian dari kehendak untuk hidup yang lebih baik.

Tetapi, sepertinya aku masih terlalu kaku untuk itu. Mungkin, suatu hari, di antara kalimat dan refleksi ini, mataku akan basah, dan aku akan membiarkannya terjadi tanpa aku rekam sebagai data untuk pemikiran esok hari. Mungkin, suatu hari, aku akan benar-benar membiarkan diriku menangis, lalu berkata pada diriku sendiri: “Lihat, bahkan Nietzschean pun bisa menangis.”




Komentar

Postingan Populer