Catatan Nietzschean
“Hehe” itu apa coba? Dua huruf H dan dua huruf E yang nggak ada artinya, tapi bikin dada deg-degan, bikin teori Nietzsche tentang kematian Tuhan ketunda dulu untuk dipikirkan. Karena ternyata “Hehe” bisa jadi Tuhan kecil yang bikin manusia percaya kalau hidup masih punya sedikit rasa manis di tengah semua kekacauan ini. Ada yang sok bilang cinta itu harus dipisahin antara eros sama agape, antara hasrat sama pengorbanan, antara ketertarikan sama ketulusan. Kayaknya keren banget kalau bisa debat soal itu. Tapi kenyataannya, pas ketemu dia, semua teori itu hilang. Yang tersisa cuma satu suara kecil di kepala: “anjir cantik banget dia hari ini.”
Sialnya, nggak ada filsafat yang bisa bikin manusia kebal sama hal semacam itu. Semua orang yang sok kuat sama logika dan prinsip biasanya kalah sama yang namanya rindu. Yang katanya “aku independen, nggak butuh siapa-siapa,” biasanya kalau udah kangen, akhirnya nonton story Instagram gebetan sambil pura-pura nggak peduli. Yang katanya “aku rasional, nggak percaya cinta,” sering juga diem-diem berharap ada yang nanya, “Kamu udah makan?” Bukan karena pengen dikasih makan, tapi karena pengen ngerasa kalau ternyata masih ada yang peduli.
Manusia itu aneh. Katanya mau jadi bebas, tapi juga pengen diperhatikan. Katanya mau independen, tapi juga pengen ada yang nanya kabar pas lagi sakit. Katanya mau mandiri, tapi juga pengen dipeluk pas lagi capek. Dan semua kontradiksi itu bukan dosa, bukan kelemahan, tapi ya begitulah manusia. Cinta memang nggak bisa dijelasin sama teori filsafat. Cinta nggak akan nunggu semua logika selesai dijabarkan. Kadang cinta muncul waktu lagi makan mie instan tengah malam sambil nonton acara komedi Lapor Pak, lalu teringat seseorang yang pernah bilang, “ngopi keseringan itu nggak sehat, tahu?” dan sialnya, kalimat itu lebih melekat daripada semua kutipan Sartre atau Camus.
Dan orang-orang yang sok kuat sama teori tentang absurditas hidup biasanya paling galau kalau lagi jatuh cinta. Soalnya kalau udah ketemu rasa itu, semua absurditas mendadak terasa punya makna. Yang biasanya ngomong, “Hidup ini nggak ada artinya,” tiba-tiba jadi orang yang semangat kerja supaya bisa beliin es krim buat gebetannya. Cinta bikin manusia tampak bodoh, tapi mungkin kebodohan itu justru satu-satunya yang bikin manusia bertahan di tengah dunia yang dingin ini. Karena kalau nggak ada cinta, nggak ada orang yang mau kirim chat, “Kamu lagi apa?” di tengah malam. Kalau nggak ada cinta, nggak ada orang yang mau nungguin kamu pulang, atau sekadar bilang, “Hati-hati di jalan.”
Cinta nggak perlu dibesar-besarkan, tapi juga nggak perlu disangkal. Cinta itu ya ada, sesederhana itu, sesulit itu, sesakit itu, sesenang itu. Dan nggak ada satu pun teori Barat atau Timur yang bisa bikin manusia sepenuhnya paham kenapa seseorang bisa jatuh cinta sama seseorang yang bahkan nggak pernah balas chat tepat waktu. Mau se-Nietzschean apa pun, mau se-eksistensialis apa pun, mau se-INTJ apa pun, kalau udah urusan cinta, semua orang bisa sama-sama ngebengong sambil nunggu balasan chat yang nggak kunjung datang. Itu bukan kelemahan, itu kemanusiaan.
"Jika cinta dalah kekosongan secara definitif karena terlalu besar bagi seseorang yang mencintai kejelasan, maka cinta telah berhasil menyempurnakan orang itu untuk memberi tahu bahwa ketidakjelasan juga masuk dalam pengetahuan."


Komentar
Posting Komentar