Cinta di Timur
Aku ini anak kandung Barat, yang sejak lama meneguk minuman keras bernama rasionalitas, logika, dan diskursus. Aku mengunyah Descartes, Kant, Nietzsche, Heidegger, Derrida, sampai Husserl, seakan mereka semua bisa memintarkan aku tentang cinta. Seakan dengan berdebat tentang “cogito”, “transendental”, “genealogi nilai”, “perbedaan ontologis”, atau “dekonstruksi tanda”, aku akan tiba-tiba tercerahkan tentang bagaimana caranya mencintai, atau lebih naïf lagi, bagaimana caranya membiarkan diri dicintai. Tapi aku gagal.
Cinta, ternyata, tidak punya meja diskusi yang stabil dalam ruangan filsafat Barat. Aku membacanya di tebalnya buku, dalam kutipan yang elegan dan cantik, dalam bahasa yang angkuh. Mereka membicarakan cinta sebagai topik, tapi tidak pernah sungguh masuk ke dalam ruang di mana cinta melampaui kata “cinta” itu sendiri. Aku ingat ketika aku membaca Platon, tentang “eros” yang katanya menanjak dari tubuh ke ide, tentang “agape” dalam para teolog Barat yang katanya lebih murni dari “eros”, dan bagaimana semuanya harus bersih dari hasrat kepemilikan. Atau bagaimana Kant membicarakan cinta dalam kerangka moralitas yang menuntut manusia memperlakukan sesama sebagai tujuan, bukan sarana. Atau Nietzsche yang menyarankan kita menghancurkan cinta romantis karena hanya akan menjebak kita dalam moralitas ternak, padahal mungkin yang aku cari hanyalah pegangan tangan sederhana saat pulang dari gereja yang sepi.
Barat membedah cinta seperti membedah katak dalam laboratorium: untuk dipahami, dicatat, dianalisis, tapi akhirnya mati. Karena cinta, setelah dibedah, tidak bisa melompat lagi. Aku membangun benteng dengan logika Barat, tapi semakin keras aku membangun, semakin keras pula cinta mengetuk dari luar, sampai akhirnya aku sadar: tidak ada gunanya menyembunyikan diri di balik konsep, terminologi, atau dikotomi eros–agape–philia, ketika yang aku rasakan hanyalah dada yang sesak saat dia pergi, atau ketenangan aneh saat melihatnya tertawa. Konsep tidak bisa menjelaskan itu.
Lalu aku curiga: mungkin Timur, yang selalu aku pandang sebelah mata dengan sebutan “mistis” atau “kabur”, sebenarnya lebih memahami cinta tanpa harus menjelaskannya dengan kata-kata yang terlalu banyak. Di Timur, cinta bukan sesuatu yang harus dijelaskan, tetapi dihidupi. Bukan objek diskursus, melainkan tarikan napas. Bukan diskusi meja kopi yang membuatmu tampak pintar, melainkan langkah kaki yang berjalan pulang bersama senja, diam-diam, tanpa perlu kata-kata muluk. Aku mulai membaca Jalaluddin Rumi, yang kata-katanya sederhana: “Cinta adalah jembatan antara engkau dengan segala sesuatu.” Atau Lao Tzu: “Being deeply loved by someone gives you strength, while loving someone deeply gives you courage.” Atau Tagore, yang menulis: “Love is an endless mystery, for it has nothing else to explain it.”
Aku sadar Timur tidak perlu menata cinta ke dalam kategori. Timur tidak terburu-buru memisahkan antara hasrat dan ketulusan, antara tubuh dan roh, antara daging dan ide. Timur membiarkan cinta menjadi apa adanya—kerinduan, kepergian, kepedihan, kebahagiaan, dan kesunyian, semua di dalam satu tarikan napas. Cinta bukan untuk dijelaskan, tetapi untuk dihidupi, untuk ditertawakan, untuk dirasakan tanpa malu-malu. Aku yang lahir dan dibesarkan oleh mazhab Barat merasa asing dengan semua ini. Aku merasa telanjang tanpa senjata terminologi dan pemetaan konseptual. Tetapi aku juga merasa lega, seperti melepaskan baju yang terlalu sempit saat musim panas, karena akhirnya aku tidak perlu lagi berdebat dengan diriku sendiri tentang apakah cinta itu agape, eros, atau hanya sekadar insting reproduksi yang dibungkus ideologi.
Cinta, ternyata, adalah kehadiran. Cinta adalah ketika aku duduk berdua dalam diam dengan seseorang yang aku cintai, dan tidak merasa canggung karena diam itu bukan kekosongan, tetapi ruang bersama. Cinta adalah ketika aku merelakan seseorang pergi tanpa harus menjadikan kepergiannya sebagai bukti kelemahanku. Cinta adalah ketika aku marah, kecewa, dan terluka, tetapi tetap memilih untuk tidak menghapus nomor teleponnya. Di Timur, cinta tidak perlu membuktikan eksistensinya. Cinta cukup hadir, dan kehadiran itulah yang menjadi bukti. Tidak ada “Aku berpikir maka aku ada.” Cinta Timur lebih seperti, “Aku hadir bersamamu maka kita ada.”
Barat mengajariku untuk berpikir keras sebelum mencintai, untuk menghitung untung rugi, untuk memisahkan mana cinta yang murni dan mana cinta yang tidak murni. Timur mengajariku untuk jatuh, untuk mencintai tanpa harus selalu mengerti. Karena dalam Timur, ketidaktahuan bukan dosa, dan mencintai tanpa tahu alasannya adalah kebebasan tertinggi. Aku masih anak kandung Barat, tetapi sedikit demi sedikit aku berani membuka jendela ke Timur. Aku tidak akan pernah sepenuhnya menjadi Timur, dan aku tidak ingin menjadi Timur. Tetapi aku ingin belajar bagaimana mencintai dengan keberanian Timur, dengan keheningan Timur, dengan ketulusan yang tidak perlu penjelasan panjang. Karena akhirnya aku tahu, dan sadar, bahwa Barat bisa menjelaskan cinta, tetapi tidak bisa memeluknya. Timur tidak bisa menjelaskan cinta, tetapi bisa memeluknya dengan utuh. Dan mungkin itu cukup untukku saat ini: Tidak lagi ingin menang dalam debat soal cinta, tetapi ingin belajar hadir dan memeluknya, sambil berjalan perlahan pulang ke arah Timur, tanpa perlu kata-kata yang terlalu banyak.
“Barat mengajariku berpikir tentang cinta, Timur mengajariku berhenti memikirkannya, dan mulai menghidupinya.”



Komentar
Posting Komentar