Menaruh Nietzsche di Laci
Saatnya aku dan Nietzsche berpisah. Bukan secara literal, bukan dengan air mata drama, bukan dengan pidato perpisahan di bawah pohon besar yang daunnya gemetar diterpa angin sore. Ini hanya perpisahan simbolis, perpisahan yang lebih mirip orang menaruh rokok terakhir ke asbak lalu menatap puntungnya lama-lama sebelum benar-benar memadamkan bara. Bukan berarti aku tak kembali. Bukan berarti aku selesai. Ini hanya aku yang memilih menjauh sejenak. Karena apa yang ada dalam kepalaku sudah terlalu penuh, sesak, bau anyir darah Tuhan yang dibunuh Nietzsche masih menempel di jemari dan lipatan bajuku. Mungkin beberapa orang akan bilang ini berlebihan. Seolah aku dan Nietzsche sudah bertunangan diam-diam, saling berjanji dalam sunyi, memakai cincin yang berlumuran darah Tuhan tapi tetap suci, tetap putih, tetap dingin saat disentuh kulit. Mungkin mereka benar. Karena membaca Nietzsche, memeluk pikirannya, mencoba membenamkan diriku ke dalam kata-katanya, rasanya memang seperti bertunangan dengan kegilaan. Dan setiap kali aku ingin kabur, cincin itu mengikat jariku. Setiap kali aku ingin tidur, kata-katanya masih membisik keras di ubun-ubunku.
Aku akan membuang kegilaan ini dulu, atau lebih tepatnya, aku akan meninggalkannya di laci, di antara catatan-catatan tebal dengan tinta hitam yang sudah mengering, di antara highlight kuning yang menandai kalimat-kalimatnya, yang seringkali tak lagi kupahami saat kubaca ulang tengah malam. Nietzsche tidak akan pernah selesai untuk diselami, bahkan ia pun menolak untuk diselami. Ia menolak untuk dipahami tuntas. Ia tidak mau dikotakkan dalam penjelasan akademis. Ia tidak mau dijelaskan dengan diagram filsafat. Ia hanya ingin dibaca sambil kau menggertakkan gigi. Ia ingin kau membaca, mengangguk, lalu terdiam dengan pandangan kosong ke langit-langit kamar sambil membiarkan satu pertanyaan menggantung di kepalamu: “Apa aku sudah cukup hidup?” Seseorang akan memahami maksud Nietzsche jika ia mau berjalan bersamanya. Maksudku, bertindak “gila.” Menggila dalam artian menanggalkan semua tameng, semua dalih, semua topeng moral yang selama ini nyaman melekat di wajahmu. Nietzsche tidak mau mengatakan “iya” dan “tidak.” Ia harus menjawab “iya” dan “tidak” sekaligus. Ia tidak mau patuh pada logika sehari-hari, karena logika hanya akan mengekang manusia dari kebebasan yang hakiki. Nietzsche akan membuatmu berdebat dengan dirimu sendiri hingga kau muak pada suara-suara di kepalamu, dan kau akan sadar, itulah seni hidupnya: membuatmu tidak pernah nyaman.
Menyelami tubuh pikirannya adalah sesuatu yang sia-sia, sebenarnya. Tapi begitulah dia. Dia menarik. Dia mengundangmu untuk mendekat, lalu menertawakanmu dari balik halaman bukunya. Kegilaannya membawa dia sampai pada titik tertinggi yang manusia ingin capai: kebebasan. Kebebasan yang tidak diiklankan dengan lampu neon di jalan raya, tapi kebebasan yang menakutkan karena berarti kau berdiri sendiri, menanggung semua akibat pilihanmu, tanpa menyalahkan siapa pun. Memahami setiap kata dalam karyanya adalah sebuah kegilaan yang mesti diterima oleh pembacanya. Kau harus gila juga untuk mengerti dia. Kau harus rela membiarkan hatimu terbakar ketika membaca kalimatnya yang keras. Kau harus rela biarkan pikiranmu dirontokkan sampai kau ketakutan sendiri akan sunyi. Kita tidak bisa berlari. Kita hanya bisa berjaga-jaga, membaca ulang, mengulang lagi, merenunginya layaknya kitab suci yang tak lagi kau baca untuk keselamatanmu, tapi kau baca untuk mengingatkanmu betapa kau masih hidup. Enam bulan ini tentulah berat. Tubuhku masih bau anyir darah Tuhan yang Nietzsche bunuh. Darah itu menetes di kata-kata setiap orang berdoa, darah itu menetes di bibirku ketika aku mencoba mengucapkan “amin.” Dan kegilaannya, tentulah amat penting untuk menjadi kunci. Kunci bagi kejujuran. Kunci bagi kesadaran bahwa aku dan kamu, sebenarnya, hanya manusia yang berpura-pura tahu arah.
Bahkan cara pandang akan berubah. Segalanya jadi kabut. Segalanya jadi rabaan. Kau akan melihat semua orang masih berjalan dengan percaya diri, padahal mereka pun tidak tahu mereka percaya pada apa. Nietzsche akan membuatmu waspada bahkan pada pikiranmu sendiri. Nietzsche akan membuatmu curiga pada kata “cinta.” Nietzsche akan membuatmu mencium bau kematian di setiap janji yang diucapkan manusia pada sesamanya. Mungkin Nietzsche sudah sampai pada titik di mana seseorang menyebutnya sebagai pencerahan. Atau hanya orang gila saja yang menyebut bahwa Nietzsche sudah sampai pencerahan. Entahlah. Di antara semua yang pernah kubaca, hanya Nietzsche yang menolak untuk selesai. Karena ia tak mau selesai. Terlepas dari sana, Nietzsche dengan Zarathustra sedang menertawakan kita, atau aku, atau siapa pun yang berusaha menyusulnya. Bahkan ketika Nietzsche sudah berhenti kubaca, Don Quijote adalah penggantinya. Kegilaan masih dibutuhkan, hanya saja aku perlu mengganti bentuknya. Dari kegilaan yang bau darah Tuhan, menjadi kegilaan menabrakkan diri ke angin sambil tertawa. Dari kegilaan yang merobek diriku setiap malam, menjadi kegilaan untuk menertawakan dunia yang terlalu serius.
Selamat tinggal (sementara) Nietzsche. Kau tahu, aku tidak membencimu. Aku justru mencintaimu dengan cara yang paling jujur: dengan memilih menjauh. Kau sudah terlalu melekat dalam cara mataku memandang sesuatu. Kau sudah terlalu menempel di otakku hingga bahkan ketika aku membaca buku lain, kau muncul, terkekeh di sudut halaman, mengingatkanku bahwa kau sudah membunuh Tuhanku. Tapi untuk sekarang, biarlah aku berpisah dulu. Agar aku bisa tidur tanpa debat panjang di kepalaku. Agar aku bisa minum kopi tanpa harus berpikir tentang kehendak untuk berkuasa. Agar aku bisa berjalan kaki tanpa harus berpikir apakah aku manusia bebas atau sekadar boneka moral. Aku perlu menjauh agar aku tetap bisa merindukanmu. Karena jika aku terlalu lama bersamamu, aku akan benar-benar hilang.
Nietzsche, biarkan aku hidup dulu. Nanti aku akan kembali padamu, ketika aku sudah cukup waras untuk menjadi gila lagi.


Komentar
Posting Komentar