Mengikuti Hati hari ini?



Hari ini aku lupa. Lupa jadi aku yang biasanya.

Biasanya aku duduk di pojokan, menatap kopi yang mendingin, memeriksa setiap retakan di permukaan cairan hitamnya, mempertanyakan arah hidup sebelum tegukan pertama, mempertanyakan ulang setelah tegukan kedua, dan akhirnya membiarkan rasa pahit menempel di lidah sebagai pengingat bahwa hidup ini tidak pernah netral. Biasanya aku begitu, sampai hari ini. Hari ini aku pure mengikuti hati. Bukan karena ingin keren seperti kutipan Instagram, tapi karena lelah. Lelah menjadi aku yang terlalu banyak mikir, lelah menjadi aku yang kalau jatuh cinta pun perlu dipecah jadi data: intensitas detak jantung, pola balas chat, nada suara dia saat bilang “iya,” semua kuperiksa, kucurigai, kucatat, lalu kusesali karena terlalu banyak berpikir. Hari ini aku tidak berpikir. Atau setidaknya aku lupa cara berpikir, seperti anak kecil yang lupa cara menangis ketika hujan turun karena sibuk bermain hujan.

Dan, anehnya, hari ini aku ditemani Pak Sapardi dan Chairil Anwar. Sapardi membisikkan hujan yang jatuh pelan-pelan di hatiku, dan Chairil menertawakanku dengan puisinya yang setengah menggigil tapi keras kepala itu: “Aku ini binatang jalang, dari kumpulannya terbuang.” Dua suara itu berdenting di kepala ketika aku hanya duduk, menyeruput kopi, melihat daun jatuh, dan entah kenapa merasa… bebas.

Kawanku bertanya, “Gimana hari ini kamu ngikutin hatimu?”

Aku jawab, “Asik sih, tapi aku kayak orang tolol. Kayak ga mikir apa-apa.”

Dia balas, “Bukannya itu bagus? Maksudnya, gapapa ga sih jadi orang tolol, emang ada ya orang yang ga tolol?”

Aku diam, lalu ketawa. Aku ingin bilang, mungkin semua orang memang tolol, hanya saja ada yang pandai menyembunyikannya di balik gelar sarjana, skripsi 200 halaman, atau jadwal kerja yang sibuk. Tapi kukira, hari ini aku terlalu tolol untuk memikirkan kalimat secanggih itu. Hari ini, aku berjalan tanpa arah, seperti kucing liar yang tidak perlu izin siapa pun untuk berjalan di atas pagar rumah orang lain. Tidak ada tujuan, tidak ada peta, hanya kaki yang melangkah karena ingin melangkah. Biasanya, aku akan bertanya: apa nilai filosofis dari berjalan tanpa arah? Hari ini, aku hanya berjalan. Dan ternyata rasanya seperti tertawa, tapi di dalam dada. Hangat, ringan, tapi agak kikuk juga karena biasanya aku tidak seperti ini.

Pak Sapardi pernah bilang, “Aku ingin mencintaimu dengan sederhana.”

Aku baca itu sambil nyengir. Karena aku sadar, bahkan untuk mencintai pun, aku biasanya rumit. Hari ini aku ingin belajar dari Sapardi, belajar mencintai hidup dengan sederhana, tanpa perlu mencurigai apakah kebahagiaan ini sungguhan atau hanya fatamorgana dari hormon dopamin sesaat. Chairil Anwar, di sisi lain, seolah menatapku sambil merokok, lalu berkata, “Kenapa kamu ribet banget sih jadi manusia?”

Dan aku hanya bisa membalas, “Aku juga nggak tahu, bang.” Hari ini aku jadi tolol, dan itu membebaskan. Hari ini aku lupa menganalisis, lupa mencatat, lupa menilai apakah aku sedang produktif atau tidak. Aku hanya… menjadi. Dan untuk pertama kalinya, menjadi terasa cukup. Tentu saja, ada rasa aneh yang menempel. Karena setelah sekian lama hidup sebagai manusia yang rasional (atau sok rasional), mengikuti hati itu terasa seperti menyeberang jalan sambil menutup mata. Ada rasa takut, ada rasa gelisah, tapi juga ada rasa lega, seperti beban dari punggung jatuh sendiri tanpa perlu dipaksa jatuh. Hari ini aku belajar satu hal: mungkin kita tidak perlu selalu menjadi cerdas. Mungkin, menjadi tolol itu bukan aib, melainkan anugerah kecil yang jarang disadari. Karena dalam ketololan itulah kita bisa berhenti bertanya, berhenti menganalisis, dan benar-benar mengalami hidup tanpa sensor akal yang sering terlalu bising.

Aku duduk di pinggir jalan, melihat langit yang mendung tapi tidak hujan, mendengar suara motor lalu lalang, dan entah kenapa merasa semua ini cukup. Tidak perlu puisi untuk menjelaskan langit, tidak perlu teori eksistensialisme untuk menjelaskan perasaan hampa yang tiba-tiba datang. Aku hanya duduk, menyeruput kopi, dan membiarkan angin lewat tanpa bertanya kenapa dia berhembus. Ketika kawanmu bilang, “Bukannya itu bagus? Maksudnya, gapapa ga sih jadi orang tolol, emang ada ya orang yang ga tolol?”

Aku ingin menjawab: “Iya, mungkin semua orang memang tolol, hanya saja berbeda cara menunjukkan ketololannya.” Ada yang tolol karena terlalu mencintai orang yang salah. Ada yang tolol karena takut mencoba hal baru. Ada yang tolol karena pura-pura bahagia demi dilihat baik-baik saja. Ada yang tolol karena terus memikirkan hal yang tidak bisa dia ubah. Dan hari ini, aku tolol karena tidak memikirkan apa-apa. Dan ternyata, menjadi tolol hari ini adalah ketololan paling membebaskan.

Mungkin, suatu hari aku akan kembali menjadi aku yang lama: penuh pertanyaan, penuh analisis, penuh keraguan. Dan itu tidak apa-apa, karena itu juga bagian dari menjadi manusia. Tapi hari ini, aku memilih menjadi tolol, bersama Pak Sapardi yang mengajariku mencintai dengan sederhana, dan Chairil Anwar yang mengajariku untuk tidak terlalu peduli tentang apa kata orang.

Hari ini, aku tolol, dan itu cukup.

Hari ini, aku hidup, dan itu cukup.

Hari ini, aku lupa, dan itu justru membuatku ingat, bahwa menjadi tolol adalah cara paling sederhana untuk merasakan hidup, tanpa perlu membuktikan apa-apa kepada siapa pun. Dan mungkin, itu adalah cara paling jujur untuk benar-benar merayakan keberadaan diri sendiri.

“Ternyata, yang aku sebut tolol hari ini, adalah cara hatiku merayakan kebebasan.”






Komentar

Postingan Populer