Obrolan bersama Pak Budi

Aku masih ingat betul sore itu. Sore habis hujan, bau tanah basah, kopi masih mengepul, dan rokok Gudang Garam di tangan Pak Budi belum dia bakar. Warung kopi pinggir jalan itu sepi, hanya suara hujan yang masih menetes di talang seng dan motor lewat satu-dua. Aku duduk berhadapan dengannya, ragu-ragu, tapi akhirnya nekat bertanya. “Pak, sebenarnya cinta itu apa sih?”

Pak Budi menoleh, senyum tipis muncul di bibirnya, matanya setengah mengejek tapi hangat. Rokoknya digesek pelan di tepi meja sebelum dinyalakan. “Cinta itu ya… bikin orang jadi goblok, Nak.”

Aku kaget, hampir tersedak kopiku sendiri, tapi menahan tawa. “Lho, kok goblok, Pak?”

Dia menghisap rokoknya pelan-pelan, asap tipis melayang ke udara yang masih lembap. “Ya piye, lha wong cinta itu kadang bikin orang lupa sama hidupnya sendiri. Makan nggak enak, tidur nggak nyenyak, kerja nggak fokus, pikirannya cuma muter di situ-situ aja, padahal orang yang kamu pikirin itu belum tentu mikirin kamu.”

Aku menunduk, mengaduk-aduk sendok di gelas kopiku yang mulai dingin. “Tapi kan cinta itu penting, Pak…”

Pak Budi mendengus pendek, lalu terkekeh. “Penting itu penting, Nak, tapi jangan sampai jadi alasanmu berhenti hidup. Cinta itu ya begitu saja, jangan dibikin drama lebay kayak sinetron Indosiar jam lima sore. Hidupmu itu masih panjang, mosok baru naksir nggak dibales chat aja kamu udah drama, nangis-nangis, seolah-olah dunia kiamat.” Aku nggak bisa menahan tawa kecil, tapi dalam hati terasa sedikit perih. Karena memang benar, aku sering terlalu serius memikirkan cinta sampai lupa menjalani hidup dengan benar.

Pak Budi menoleh padaku, matanya penuh dengan tatapan nakal tapi tajam. “Orang itu ya, Nak, seringkali jatuh cinta cuma buat ngilangin sepi. Nek ora iso tahan sepi, akhirnya ya jatuh cinta, biar ada yang diajak ngobrol, biar ada yang bilang ‘selamat tidur’ sebelum tidur, padahal besoknya orangnya juga lupa bilang ‘selamat pagi’.”

Aku diam, kalimat itu tepat sekali dengan apa yang selama ini aku rasakan. Jatuh cinta seringkali bukan soal orangnya, tapi soal takut sendirian. “Kalau jatuh cinta hanya untuk menghilangkan sepi, berarti kita egois dong, Pak?”

Pak Budi tertawa pendek. “Yo emang egois, Nak. Wong cinta itu awalnya ya egois, semua orang jatuh cinta karena mereka pengen diperhatiin, pengen merasa penting, pengen ditemani. Nggak usah munafik lah, sopo sing ora seneng digituin. Tapi nanti, kalau kamu bertahan dalam cinta, cinta itu akan ngajarin kamu buat nggak egois lagi.”

Aku menoleh padanya, “Gimana maksudnya, Pak?”

Dia meneguk kopinya yang sudah tinggal separuh. “Awalnya kamu jatuh cinta biar kamu nggak kesepian. Tapi lama-lama, kalau kamu betul-betul sayang, kamu akan mikir gimana caranya bikin dia nggak kesepian juga, bikin dia tenang, bikin dia ketawa meski kamu lagi capek. Nah, di situ kamu belajar mencintai, bukan cuma pengen dicintai.”

Aku terdiam, memikirkan semua hubungan yang pernah aku jalani, semua pesan panjang yang aku kirim hanya untuk dibalas dengan “haha” atau “iya” tanpa emosi. Aku sadar aku jatuh cinta karena ingin merasa berarti, bukan benar-benar ingin mencintai. “Tapi Pak, kalau akhirnya bikin sakit hati, apa gunanya jatuh cinta?”

Pak Budi menghembuskan asap rokoknya pelan-pelan. “Lho, sakit hati itu bagian dari jatuh cinta, Nak. Nek tresno ora loro, kuwi jenenge dagang, bukan cinta. Orang yang jatuh cinta pasti siap sakit hati, siap kecewa. Kalau nggak mau sakit hati, ya jangan jatuh cinta, tapi siap-siap jadi patung di pinggir jalan, dipipisin anjing lewat.”

Aku ketawa kecil, “Tapi kalau sakitnya nggak hilang-hilang, gimana, Pak?”

Dia melirikku dengan senyum sinis khasnya. “Lha kuwi masalahmu, Nak. Kadang orang itu sakit bukan karena cintanya, tapi karena dia berharap terlalu banyak. Kamu jatuh cinta sama orang, lalu kamu berharap dia balas jatuh cinta dengan cara yang sama, ngetreat kamu seperti di film-film romantis, padahal hidup nggak kayak film.”

Aku menunduk, menghela napas, mencoba menelan semua sindiran itu tanpa membantah. “Jatuh cinta itu baik, Nak. Kamu jadi tahu rasanya seneng, deg-degan, kangen, rindu. Kamu belajar sabar, belajar memberi, belajar kecewa. Itu semua latihan jadi manusia.”

Aku mendongak perlahan, “Jadi cinta itu latihan, Pak?”

Dia mengangguk, matanya menatap jalanan yang masih basah. “Latihan nampa kekalahan, latihan nampa penolakan, latihan ikhlas, latihan ngetokne banyu mata. Nek uripmu lurus-lurus aja, tanpa jatuh cinta, tanpa patah hati, kamu nggak akan ngerti rasanya hidup. Nek kamu jatuh, ya berdiri lagi. Nek kamu patah hati, ya sembuh lagi.”

Aku menghela napas panjang. “Pak, kalau aku jatuh cinta lagi, apa yang harus aku lakukan?”

Pak Budi langsung menjawab, tanpa mikir. “Cintai saja. Jalani. Jangan takut. Tapi juga jangan bodoh. Kalau kamu jatuh cinta, jangan jadikan dia pusat hidupmu. Kamu tetap harus makan, tidur, kerja, belajar. Cinta itu bagian dari hidupmu, bukan seluruh hidupmu.”

Dia menunjuk kepalanya dengan rokok. “Kepalamu itu buat mikir, hatimu buat ngerasain. Nek jatuh cinta, jangan pake hati doang, tapi juga pake otak. Nek orang itu bikin kamu jadi nggak bisa jadi dirimu sendiri, itu bukan cinta, Nak, tapi jerat.”

Aku terdiam cukup lama, memandang lampu jalan yang kuning pucat, menembus kabut tipis setelah hujan. Pak Budi menghisap rokoknya sampai habis, lalu mematikan di asbak logam.

“Nak, nek jatuh cinta, nikmati saja rasanya. Rasakan deg-degannya, rasakan senengnya, rasakan sakitnya kalau ada. Jangan kebanyakan mikir ‘nanti gimana’, ‘kalau gagal gimana’. Wong urip ki ora iso diprediksi, apalagi soal cinta.”

Ia berdiri, menepuk bahuku dua kali dengan hangat. “Dan ingat, yang paling penting, Nak: Nek jatuh cinta, ojo dadi beban kanggo wong liyo. Nek tresno, tresno sing waras.”

Aku tersenyum kecil, merasa disentil, tapi juga merasa damai. Aku sadar, selama ini aku terlalu takut jatuh cinta karena takut patah hati. Padahal, patah hati bukan akhir dari segalanya. Itu hanyalah bagian dari hidup yang harus dilewati, dirasakan, lalu dilepaskan. Dan malam itu, setelah Pak Budi berjalan pulang dengan langkah santai, aku menatap sisa kopi yang sudah dingin, lalu menghabiskan tegukan terakhir dengan hati yang lebih tenang. Mungkin besok aku akan jatuh cinta lagi. Mungkin akan patah hati lagi. Tapi tidak apa-apa. Karena pada akhirnya, seperti kata Pak Budi, jatuh cinta itu bukan soal siapa yang bertahan bersamamu selamanya, tapi soal bagaimana kamu belajar mencintai tanpa takut terluka, belajar memberi tanpa berharap balasan berlebih, dan belajar ikhlas dengan tetap menjadi dirimu sendiri. Dan itu sudah cukup membuatku merasa, aku masih hidup.



Komentar

Postingan Populer