Sejarah? Penulisan? Diulang?
Kenapa penulisan ulang sejarah ini menjijikkan? Karena ini adalah cara paling halus untuk mencuci tangan yang masih bau darah sambil berpura-pura memegang pena suci “demi kebenaran”. Ini bukan proyek pembaruan sejarah, ini proyek “pengamanan narasi” agar kekuasaan hari ini bisa tidur nyenyak di ranjang empuk sambil merokok di balkon istana tanpa dihantui jeritan korban masa lalu yang dilupakan. Mereka bilang sejarah lama itu penuh bias. Ya, memang benar. Tapi bukankah sejarah yang ingin mereka tulis ulang juga akan penuh bias, hanya saja bias mereka sendiri? Mereka bilang sejarah lama adalah narasi pemenang. Lalu, apa mereka bukan pemenang juga? Apakah mereka akan menulis sejarah yang merugikan mereka sendiri? Jangan naif. Sejarah adalah alat propaganda terbaik, dan mereka tahu itu. Mereka ingin sejarah baru bukan untuk kebenaran, tapi untuk melanggengkan ketenangan ilusi agar mereka tetap nyaman berceloteh tentang “kebanggaan nasional” saat upacara bendera, tanpa perlu merasa jijik dengan darah masa lalu yang masih membekas di tanah ini.
Kamu bilang mau revisi demi “keadilan”? Lucu. Lucu sekali. Keadilan apa yang kalian bicarakan, jika yang kalian tulis hanyalah fragmen yang kalian sukai, dan fragmen lain kalian buang karena takut generasi muda tahu betapa kotor dan gelapnya negeri ini? Kamu ingin sejarah yang “Indonesia-sentris,” katanya. Tapi apa artinya “Indonesia” kalau yang ditampilkan hanya kisah heroik, parade pembangunan, dan cerita tentang nasionalisme bendera merah putih berkibar dengan gagah? Di mana bab gelap 1965 yang tak pernah selesai, di mana air mata ibu-ibu yang anaknya dihilangkan saat Petrus, di mana jeritan perempuan Tionghoa saat Mei 1998 yang kalian sangkal karena itu “mengganggu stabilitas nasional”? Apakah itu bukan bagian dari “Indonesia”?
Kalau benar mau adil, buka semua arsip, buka semua kebusukan, buka semua pelanggaran HAM, buka semua nama yang terlibat, buka siapa saja yang menikmati kuasa dan uang dari pembunuhan dan perampasan hak orang lain. Tapi mereka tidak mau. Mereka ingin buku sejarah yang wangi, seputih kaus kampanye, agar anak-anak bisa membaca sejarah sambil tersenyum, bukan sambil menangis atau muntah menyadari bangsa mereka pernah (dan masih) menjadi penjagal bagi bangsanya sendiri. Kenapa kalian begitu takut dengan sejarah yang kotor? Karena sejarah yang kotor akan menggugat legitimasi kalian hari ini. Akan membuat anak-anak muda mulai bertanya, “Kenapa kita menghormati para okum penguasa yang sebenarnya penjahat kemanusiaan? Kenapa kita membangun monumen untuk mereka yang sebenarnya pembohong besar? Kenapa yang dulu membunuh ide-ide kritis, kini kita sebut pahlawan pembangunan?” Dan kalian tidak ingin itu terjadi, bukan? Karena jika generasi muda tahu, kalian tidak akan punya tempat lagi untuk bicara soal moralitas bangsa.
Lalu kalian menyembunyikan semua itu dengan nama “penulisan ulang sejarah.” Sungguh jijik. Mereka bilang ingin “menyatukan sejarah lokal.” Lalu bagaimana dengan kisah para pejuang lokal yang dibunuh karena menolak patuh pada pusat? Bagaimana dengan para aktivis desa yang dibungkam karena tanah mereka dirampas oleh korporasi negara? Bagaimana dengan perjuangan orang-orang Papua yang tak pernah kalian akui, dan kalian hanya sebut “pemberontakan separatis”? Apakah mereka akan masuk ke dalam buku sejarah baru kalian? Atau kalian hanya ingin memasukkan cerita tentang karnaval budaya dan parade pakaian adat, sambil memamerkan tarian di pembukaan KTT internasional sebagai simbol “keragaman Indonesia,” padahal mereka kalian represi dalam diam? Menulis ulang sejarah hanya akan menjadi mesin pembersih citra, bukan mesin pengungkap kebenaran. Karena kebenaran tidak butuh kamu poles, tidak butuh kamu rias. Kebenaran hanya perlu dibiarkan terbuka, meski baunya membuat orang mual. Dan kalau kamu takut dengan bau busuk itu, jangan sok jadi pahlawan sejarah.
Mereka bilang ingin agar sejarah lebih cocok dengan “generasi Z.” Apa maksud kalian dengan cocok? Apakah kalian ingin mereka membaca sejarah yang kalian seleksi, agar mereka tidak menjadi generasi kritis, agar mereka tumbuh menjadi nasionalis yang patuh pada narasi negara? Apakah kalian takut mereka bertanya kenapa Tan Malaka hanya sekilas lewat di buku sejarah SMA sebagai “komunis pemberontak,” padahal ia peletak gagasan kemerdekaan bangsa ini jauh sebelum mereka yang kini kalian angkat menjadi pahlawan nasional dengan narasi bersih? Apakah kalian takut mereka akan bertanya kenapa Soe Hok Gie mati muda dengan catatan bahwa negeri ini penuh dengan orang munafik dan korup, sementara korupsi kalian masih kalian nikmati dengan senyum di lobi hotel?
Penulisan ulang sejarah hanyalah topeng modern untuk kolonialisme baru: kolonialisme narasi. Kalian tak lagi memakai meriam untuk menjajah rakyat kalian sendiri, tapi memakai buku sejarah untuk menjajah pikiran mereka, membonsai kesadaran mereka agar tidak terlalu liar mempertanyakan apa yang kalian sembunyikan. Kalian ingin generasi muda bangga pada negara ini, padahal negara ini masih belum berani meminta maaf atas pembantaian ratusan ribu orang pada 1965, masih belum meminta maaf pada ibu-ibu yang anaknya dihilangkan, masih belum meminta maaf pada tanah yang kalian rampas untuk proyek pembangunan yang kalian banggakan. Kalian ingin sejarah yang “terpadu,” katanya. Padahal yang kalian mau adalah sejarah yang “terkontrol.” Karena sejarah adalah alat paling ampuh untuk melanggengkan kekuasaan. Siapa yang mengontrol narasi sejarah, dialah yang akan mengontrol arah bangsa ini. Dan itu yang kalian incar.
Persatuan apa yang kalian maksud jika itu dibangun di atas kebohongan? Persatuan apa jika itu dibangun dengan menghapus suara para korban? Persatuan apa jika itu lahir dari ketakutan menghadapi masa lalu? Itu bukan persatuan, itu penjara baru yang kalian bangun dengan cat putih agar terlihat bersih dari luar. Sejarah tidak butuh kalian tulis ulang. Sejarah butuh kalian hadapi. Hadapi dengan kepala tegak, dengan keberanian untuk mengakui bahwa negeri ini berdiri di atas darah, air mata, dan kebohongan. Kalau kalian ingin generasi muda belajar dari sejarah, ajarkan mereka untuk tidak mengulang kebiadaban itu, bukan dengan menghapus jejaknya, tapi dengan membuka semua luka, menatap semua kebusukan, dan berkata: “Kami tidak akan menjadi seperti mereka.” Kalau kalian bilang sejarah lama penuh manipulasi, maka catatlah manipulasi itu sebagai bagian dari sejarah, bukan kalian hapus. Kalau kalian bilang sejarah lama penuh kebohongan, maka tulis kebohongan itu sebagai kebohongan, bukan kalian ganti dengan kebohongan baru versi kalian.
Kalian takut anak muda akan marah jika tahu sejarah bangsa ini? Biarkan mereka marah. Lebih baik mereka marah dan menjadi manusia sadar daripada mereka menjadi zombie nasionalis yang bangga tanpa tahu apa-apa. Kalian takut sejarah akan membuat mereka tidak cinta negara ini? Biarkan mereka tidak cinta, karena cinta buta pada negara hanya akan melahirkan penindasan baru. Lebih baik mereka mencintai keadilan daripada mencintai negara. Karena sejarah bukan tentang siapa yang menang, siapa yang kalah. Sejarah adalah catatan luka dan tawa, darah dan bunga, ketakutan dan keberanian, kebohongan dan kebenaran. Dan tugas kita adalah menatap sejarah apa adanya, bukan mengeditnya agar cocok dengan nafsu politik hari ini. Jadi jika kalian bertanya, “Kenapa sejarah harus ditulis ulang?” Jawabanku: Tidak. Tidak usah. Karena menjijikkan.


Komentar
Posting Komentar