Senja, buku, dan senyummu

 Senja turun lagi hari ini, dan aku masih duduk di tempat yang sama. Tidak sedang mencari puitis, hanya kebetulan sore memang waktunya matahari turun, dan aku tidak punya niat untuk menulis puisi tentangnya. Kalau orang-orang memotret senja dengan filter jingga dan caption “hari ini indah banget”, ya silakan saja, aku tidak iri. Senja tidak pernah butuh validasi, dia akan tetap tenggelam meski tidak ada yang memotretnya, dan aku menghargainya karena itu.

Lalu ada buku ini, yang sedang kubaca sekarang. Tidak, aku tidak akan bilang buku ini sekadar pelarian dari hidup yang berisik, apalagi sekadar gaya-gayaan untuk terlihat pintar. Buku ini… bagaimana ya, buku ini sedang menantang cara pikirku, memaksaku berhenti dari kecepatan internet dan logika instan, untuk duduk diam dengan kata-kata yang menohok, membuka luka lama di pikiranku yang tidak pernah kutahu masih ada. Aku tidak akan menyebut judulnya di sini karena bukan itu intinya. Intinya, aku sedang membaca sesuatu yang mengubah caraku memandang banyak hal, termasuk tentang diri sendiri, tentang rasa takut gagal, tentang rasa cukup, tentang keheningan, tentang bagaimana pikiran ini tidak akan selesai hanya karena aku menghindar dari semua pertanyaannya. Buku ini baik-baik saja di tanganku. Tidak menuntutku untuk paham semua halaman sekaligus. Kadang aku ulang satu paragraf berkali-kali, kadang aku berhenti lama di satu kalimat lalu menutupnya, hanya untuk menatap senja yang sudah hampir hilang. Dan buku ini membiarkanku begitu saja, tidak memaksaku untuk segera selesai. Aku rasa, inilah yang membuat aku menghargai buku ini: dia diam, tapi mendalam. Dia tidak menghina kebodohanku, dia membimbingnya pelan-pelan.

Lalu tentang senyummu, yang tetap hanya muncul di imajinasiku. Aku tidak akan bilang ini cinta, karena kata itu terlalu besar dan sering dipakai untuk hal-hal sepele. Mungkin ini hanya rasa penasaran yang terlalu malas aku urai menjadi tindakan nyata. Kau mungkin tidak sadar, tapi senyummu itu, setidaknya yang kubayangkan, membantu membuat beberapa soreku tidak terlalu gelap. Membayangkan senyum itu muncul saat kau sedang membaca sesuatu yang kau sukai, atau saat kau memandang senja juga, entah di mana, dan kau membiarkan matamu tenang beberapa detik. Banyak orang bilang, “kejar yang kamu suka, perjuangkan,” tapi aku tidak tahu apa aku harus mengejar senyum yang bahkan belum tentu untukku. Jadi aku biarkan saja ia menjadi imajinasi, tempat aman untuk sebuah senyum yang tidak akan berubah menjadi marah, tidak akan kecewa, dan tidak akan pergi kalau aku sedang ingin diam saja beberapa hari. Senyummu di kepalaku cukup untuk saat ini, dan kalaupun nanti hilang, ya sudah.

Senja, buku, dan senyummu di imajinasiku bukan kombinasi puitis untuk story Instagram. Ini cuma tiga hal yang kebetulan hadir bersamaan dalam sore-soreku belakangan ini. Senja yang turun dengan diamnya, buku yang berbicara dengan tenangnya, dan senyummu yang muncul tanpa suara tapi tidak pergi. Mereka semua tidak memaksa, tidak mengganggu, tidak menghakimi. Dan aku merasa aman dalam kebersamaan yang aneh ini. Kalau kau tanya, apakah aku bahagia dengan ini semua? Aku tidak tahu, dan aku tidak merasa perlu menjawabnya sekarang. Bahagia itu kata yang terlalu besar untuk diukur hanya dengan senja yang jingga, buku yang tebal, atau senyum yang belum tentu nyata. Yang aku tahu, aku masih bisa duduk diam memandangi senja tanpa tergesa-gesa, masih bisa membaca satu halaman lagi meski pelan, dan masih bisa membayangkan senyum itu tanpa berharap lebih. Dan untuk saat ini, itu cukup.

Kadang aku berpikir, kita terlalu sering menuntut jawaban dari hal-hal yang tidak perlu dijawab. Kita ingin tahu arti senja, padahal dia hanya matahari turun. Kita ingin tahu kenapa harus baca buku, padahal kadang jawabannya hanya karena kita butuh menenangkan pikiran. Kita ingin tahu kenapa membayangkan senyum seseorang yang bahkan tidak kita miliki, padahal mungkin jawabannya hanya karena kita ingin merasa tidak terlalu sendiri. Jadi kalau hari ini senja turun lagi, buku ini masih belum selesai kubaca, dan senyummu masih mampir di kepalaku, aku tidak akan protes. Aku tidak akan mengajakmu duduk bersama memandangi senja atau memaksamu membaca buku yang sama denganku, atau memintamu tersenyum untukku sungguhan. Tidak perlu.

Karena kalau dipikir-pikir, hidup ini sudah cukup ribet dengan semua kewajiban dan target-target yang harus dicapai. Biar tiga hal ini tetap sederhana. Senja tetap menjadi senja. Buku tetap menjadi buku yang sedang kubaca, tanpa harus selesai hari ini. Dan senyummu tetap menjadi senyuman yang cukup kulihat di pikiranku. Dan jika suatu hari aku selesai membaca buku ini, senja tetap akan turun seperti biasanya, dan senyummu mungkin akan tetap muncul di imajinasiku. Tidak apa-apa, tidak perlu berubah, tidak perlu dijelaskan, tidak perlu dibesar-besarkan.

Karena, ya, biar saja begitu.

“Aku tidak butuh semua hal ini menjadi luar biasa. Senja cukup jadi senja, buku cukup jadi teman diam, dan senyummu cukup jadi imajinasi yang membuatku masih mau bangun besok pagi.”



Komentar

Postingan Populer