Tuhan bergerak di tengah keberagaman
"Tuhan Bergerak di Tengah Keberagaman"
Kita barangkali terlalu sering memaksa Tuhan duduk di kursi kesepakatan kita, mengharuskan-Nya mengenakan label denominasi, mengenakan atribut keimanan tertentu, atau berbicara dalam bahasa liturgi kita. Ketika berbicara “Tuhan bergerak di tengah keberagaman”, yang sering terjadi adalah: kita memaksa keberagaman tunduk pada keseragaman tafsir kita tentang Tuhan. Kita lebih suka menanyakan: “Apakah engkau seiman denganku?”, daripada bertanya: “Apakah engkau juga sedang mencari kebaikan dalam hidupmu?”. Kita lebih sibuk memeriksa nama Allah di KTP orang lain daripada melihat jejak kebaikan, keadilan, dan belas kasih yang mereka hidupi. Sebab kenyataannya, kalau kita mau jujur, keberagaman bukanlah sebuah keadaan yang terjadi karena manusia begitu kreatif dalam berteologi atau berkeyakinan; keberagaman adalah fakta ontologis kemanusiaan.
Sebelum manusia berdebat tentang nama Tuhan, warna kulit mereka sudah berbeda, logat mereka sudah beragam, dan cita rasa masakan mereka sudah tidak sama. Manusia lahir di tengah keragaman genetika, geografi, dan sejarah yang tidak dapat dihindari, lalu menambah kompleksitas dengan tafsir tentang Yang Ilahi. Maka pertanyaannya: apakah Tuhan sedang bergerak di tengah keberagaman, ataukah Tuhan bergerak melalui keberagaman itu sendiri? Tuhan tidak menjadi lebih kecil hanya karena manusia menyebut-Nya dengan nama yang berbeda. Thomas Aquinas pernah menegaskan bahwa tidak ada satu pun kata manusia yang sanggup menangkap esensi Allah secara penuh; semua kata adalah analogi, semua bahasa adalah pinjaman, semua penjelasan hanyalah upaya terbatas untuk menyentuh Ketakterbatasan. Maka ketika kita berbicara tentang keberagaman, kita sebenarnya sedang berbicara tentang keterbatasan manusia dalam memahami Yang Mutlak.
Perbedaan bukanlah kegagalan iman, tetapi jejak keterbatasan manusia dalam meraba Tuhan. Namun, justru di sinilah kita dapat melihat Tuhan bergerak. Jika Tuhan adalah kasih, sebagaimana disaksikan oleh banyak tradisi keimanan, maka kasih hanya dapat dihidupi melalui relasi, dan relasi hanya ada jika ada yang berbeda darimu. Kasih menjadi nyata bukan saat engkau setuju dengan semua orang, tetapi saat engkau memilih untuk mengasihi meski berbeda. Maka, di tengah keberagaman, Tuhan tidak hanya hadir sebagai pemersatu, tetapi sebagai gerak kasih yang menuntun manusia untuk mengenali martabat satu sama lain. Kita sering mengira bahwa keseragaman adalah syarat utama untuk merasakan kehadiran Tuhan. Padahal, keseragaman seringkali menjadi berhala yang menyingkirkan mereka yang tidak mirip dengan kita. Kita terlalu cepat menyimpulkan bahwa perbedaan adalah penghalang bagi Tuhan untuk berkarya. Padahal, justru di tengah diskusi lintas iman, di tengah usaha saling memahami, di tengah ketegangan antara berbeda keyakinan tetapi tetap saling menghargai, Tuhan sedang bergerak, menguji kejujuran iman kita: apakah iman kita hanya akan hidup dalam zona nyaman kesamaan, ataukah iman kita sanggup bertumbuh dalam dialog dengan yang berbeda?
Kita tidak bisa bicara tentang Tuhan yang bergerak di tengah keberagaman tanpa membicarakan ketegangan antara identitas dan keterbukaan. Di satu sisi, setiap orang membutuhkan identitas, termasuk identitas iman, untuk dapat hidup secara utuh. Namun di sisi lain, keterbukaan adalah syarat untuk memahami bahwa Tuhan tidak dapat dipenjara dalam identitas kita yang terbatas. Di sinilah letak tantangan filosofis keberagaman: bagaimana mungkin kita setia pada iman kita, namun tidak menjadikan iman kita sebagai tembok pemisah? Bagaimana mungkin kita mengakui keterbatasan pemahaman kita akan Tuhan, namun tidak tenggelam dalam relativisme yang mematikan gairah iman? Tuhan bergerak di tengah keberagaman, bukan untuk menghapus identitas, tetapi untuk menebusnya dari sifat eksklusif yang menolak perbedaan. Dalam keberagaman, kita belajar bahwa Tuhan tidak dapat dimonopoli oleh satu bangsa, satu bahasa, satu budaya, atau satu denominasi. Jika Tuhan memang Pencipta segala bangsa, maka sudah seharusnya kita melihat kehadiran-Nya juga dalam budaya lain, bahasa lain, dan cara lain dalam menyapa-Nya. Tentu ini tidak berarti semua agama sama, atau semua iman identik, tetapi ini berarti Tuhan terlalu besar untuk ditampung oleh satu tradisi saja.
Dalam refleksi ini, kita dapat mengingat apa yang dikatakan Paul Tillich tentang “Tuhan di atas Tuhan” (God above God). Tillich menolak gagasan tentang Tuhan sebagai “makhluk tertinggi” dalam kategori yang sama dengan ciptaan, dan mengingatkan kita bahwa Tuhan adalah kedalaman dari segala keberadaan. Dengan demikian, Tuhan tidak terancam oleh perbedaan, tidak panik oleh keberagaman, tidak merasa perlu untuk dilindungi dari mereka yang memanggil-Nya dengan nama lain. Justru manusia yang sering panik, takut, dan reaktif ketika perbedaan muncul, karena mereka khawatir iman mereka tidak cukup kokoh untuk berdiri di tengah pluralitas. Di tengah keberagaman, Tuhan mengundang manusia untuk bergerak keluar dari ketakutan dan menjadi ruang hadir-Nya bagi sesama. Keberagaman bukanlah sekadar fakta sosiologis, tetapi juga panggilan teologis: jika Allah adalah kasih, maka keberagaman adalah arena tempat kasih itu diuji, dilatih, dan diwujudkan. Kita tidak bisa mengaku mengasihi Tuhan yang tidak kelihatan jika kita tidak mengasihi sesama manusia yang berbeda keyakinan, berbeda pandangan politik, berbeda bahasa, berbeda status sosial. Di sinilah Tuhan sedang bergerak, memanggil manusia untuk menjembatani yang terpisah, bukan sekadar untuk berdamai dengan perbedaan, tetapi untuk menemukan kehadiran-Nya di tengah keragaman itu sendiri.
Keberagaman juga menjadi kritik bagi keangkuhan iman yang sering merasa diri paling benar dan paling dekat dengan Tuhan. Tentu, iman mengandung klaim kebenaran, dan tidak perlu kita sembunyikan itu. Namun, di hadapan keberagaman, kita diundang untuk rendah hati, menyadari bahwa kebenaran yang kita pegang pun harus kita hidupi dengan kasih, bukan dengan kebencian. Kebenaran yang dilaksanakan tanpa kasih menjadi kekerasan, dan Tuhan tidak pernah berdiam di tengah kekerasan yang mengatasnamakan-Nya. Dalam keberagaman, Tuhan juga bergerak untuk membongkar sekat-sekat kekuasaan yang menggunakan agama untuk menindas. Sejarah terlalu penuh dengan konflik berdarah atas nama agama, tetapi Tuhan tidak pernah memerintahkan manusia untuk membenci atau membunuh hanya karena berbeda iman. Justru Tuhan memanggil manusia untuk menjadi pembawa damai, penegak keadilan, dan saksi kasih-Nya di tengah dunia yang terluka. Jika keberagaman hanya menjadi alasan untuk saling mencurigai, maka keberagaman telah gagal menjadi ruang perjumpaan ilahi. Tetapi jika keberagaman menjadi panggung untuk membangun kerja sama lintas iman demi kemanusiaan yang lebih adil dan damai, maka di sanalah Tuhan sedang bergerak.
Keberagaman bukan akhir dari iman, tetapi ujian iman. Apakah kita berani percaya pada kasih Tuhan bahkan ketika kasih itu meminta kita untuk membuka hati bagi yang berbeda? Apakah kita berani beriman pada keadilan Tuhan bahkan ketika keadilan itu meminta kita memperjuangkan hak mereka yang berbeda keyakinan dengan kita? Apakah kita berani menghidupi kasih dan keadilan Tuhan di tengah dunia yang mudah sekali membenci atas nama agama? Di titik inilah, “Tuhan bergerak di tengah keberagaman” bukan sekadar slogan manis untuk diskusi lintas iman, tetapi menjadi panggilan konkret untuk menata ulang cara kita beragama. Beragama bukan hanya soal ritual dan doktrin, tetapi soal bagaimana kasih Tuhan yang kita terima itu mengalir kepada mereka yang berbeda. Tuhan tidak meminta kita menjadi seragam, tetapi meminta kita untuk mengasihi tanpa syarat, menegakkan keadilan tanpa pilih kasih, dan berjalan bersama dalam damai tanpa prasangka.
Tuhan sedang bergerak di tengah keberagaman hari ini, bukan untuk menghapus keberagaman itu, tetapi untuk mengajarkan manusia tentang keindahan perbedaan. Seperti taman yang indah karena memiliki banyak jenis bunga, dunia ini indah karena manusia yang berbeda-beda, dan justru di tengah keberagaman itulah Tuhan menunjukkan bahwa kasih-Nya lebih luas dari batas-batas agama, bahasa, dan budaya kita. Maka, tugas kita bukan menolak keberagaman, tetapi menjadikannya sebagai ruang di mana kasih dan keadilan Tuhan dapat hadir secara nyata, agar dunia yang retak ini sedikit demi sedikit dapat merasakan damai sejahtera yang datang dari-Nya.
Dan jika ada satu doa yang bisa kita panjatkan di tengah keberagaman ini, biarlah doa itu bukan sekadar agar orang lain menjadi seperti kita, tetapi agar kita semua menjadi semakin seperti Tuhan: penuh kasih, adil, dan mengasihi keadilan, agar di tengah keberagaman, kita sungguh-sungguh mengalami gerak kasih Tuhan yang tidak pernah berhenti bekerja untuk memulihkan dunia ini.



Komentar
Posting Komentar