Berani disukai itu benar atau salah?

Disukai atau Tidak Disukai: Dilema Keberanian dalam Hidup Manusia

Kita hidup di dalam masyarakat yang menelan manusia sebagai angka, statistik, dan reputasi. Ada pepatah modern yang berulang kali dinyanyikan dalam seminar motivasi maupun buku-buku laris: “beranilah untuk tidak disukai.” Seolah-olah kalimat ini adalah kunci untuk meraih kebebasan batin. Namun, benarkah keberanian semacam itu adalah tanda kedewasaan, atau hanya ilusi lain yang dikemas untuk membuat kita tampak gagah di depan cermin?

Mari kita tilik lebih dalam.

Pertama-tama, frasa “berani tidak disukai” seolah meletakkan keberanian dalam dimensi sosial: seseorang disebut berani jika ia sanggup menanggung resiko penolakan. Tetapi, apakah keberanian itu benar-benar terletak pada ketidakpedulian terhadap pandangan orang lain, ataukah justru pada pengakuan bahwa kita, manusia, memang secara ontologis adalah makhluk yang bergantung pada pengakuan? Kierkegaard menulis bahwa manusia ada dalam “kegelisahan” karena ia terus berhadapan dengan “yang lain.” Sementara Hegel menegaskan, identitas diri hanya lahir melalui relasi dengan orang lain, pengakuan adalah syarat eksistensi. Maka, berani tidak disukai bukanlah soal menutup telinga, tetapi soal menerima bahwa kebebasan diri tetap tak bisa dipisahkan dari tatapan orang lain. Di sini muncul paradoks: “Aku berani tidak disukai” sebenarnya masih berbicara tentang orang lain. Kalimat itu tak pernah benar-benar menutup pintu pada “yang lain,” sebab jika aku sungguh tidak peduli, aku tak perlu mengumumkan keberanianku. Dengan kata lain, setiap kali seseorang berkata “aku berani tidak disukai,” ia justru mengakui bahwa disukai dan tidak disukai masih menghantui dirinya. Keberanian itu tampak seperti perlawanan, padahal sebenarnya hanya bentuk lain dari keterikatan.

Kedua, jika kita gali lebih dalam, konsep “tidak disukai” memuat nilai sosial yang ambigu. Apakah semua ketidaksukaan orang lain terhadap kita adalah sesuatu yang patut diterima dengan gagah? Bagaimana bila ketidaksukaan itu muncul karena kita sungguh-sungguh berlaku zalim, bodoh, atau merugikan? Apakah keberanian untuk tidak disukai masih bisa dipandang sebagai kebajikan? Nietzsche dalam Genealogi Moral menertawakan moralitas kawanan yang menjadikan “ketidaksukaan orang banyak” sebagai hukuman sosial. Tetapi Nietzsche juga tidak merayakan kebebalan; ia berbicara tentang keberanian untuk melampaui kawanan, bukan untuk sekadar mencari kebencian. Dengan kata lain, berani tidak disukai haruslah terkait dengan keberanian untuk menjadi otentik, bukan sekadar membenarkan kesalahan diri. Namun, disinilah kesulitannya. “Otentik” sendiri adalah kata yang rumit. Heidegger menyebut keotentikan sebagai keberanian menghadapi kefanaan diri, bukan sekadar melawan opini mayoritas. Jadi, jika seseorang berkata: “Aku berani tidak disukai karena aku memilih jalanku sendiri,” kita masih harus bertanya: apakah jalan itu sungguh lahir dari kesadaran akan keberadaanmu yang fana, atau hanya lahir dari nafsu untuk berbeda? Banyak orang yang mengaku berani tidak disukai, padahal hanya haus pengakuan sebagai anti-mainstream. Mereka bukan sedang merdeka, melainkan hanya mencari panggung baru.

Ketiga, kita harus melihat bahaya laten dari slogan ini: ia bisa menjadi alat justifikasi narsisme. Seseorang bisa saja menutupi kelemahannya dengan berkata: “Aku memang begini, kalau tidak suka ya sudah.” Kalimat ini tampak gagah, tapi sebenarnya malas dan dangkal. Ia menolak kritik dengan tameng “berani tidak disukai,” padahal kritik seringkali adalah pintu untuk pembentukan diri. Dengan begitu, semboyan ini bisa menjerumuskan kita pada bentuk kesombongan baru: kebal terhadap refleksi. Alih-alih menjadi tanda kebebasan, ia justru melahirkan kejumudan.

Keempat, mari kita tinjau dari sisi etika. Emmanuel Levinas mengajarkan bahwa wajah orang lain adalah panggilan etis yang tak bisa diabaikan. Dalam tatapan wajah itulah tanggung jawab lahir. Maka, bagaimana mungkin kita berani tidak disukai tanpa sekaligus menutup kemungkinan bahwa kita sedang mengkhianati panggilan etis dari wajah itu? Tentu, tidak semua ketidaksukaan harus kita hindari; tetapi keberanian untuk tidak disukai seharusnya lahir dari kesetiaan pada panggilan tanggung jawab dan bukan dari keinginan untuk bebas dari rasa bersalah. Jika aku memperjuangkan kebenaran dan keadilan, lalu ditolak, ketidaksukaan itu bisa kuterima. Tetapi jika aku sekadar berkeras dengan keegoisan, maka ketidaksukaan orang lain adalah cermin yang harus kuhadapi, bukan ditertawakan.

Kelima, kita tidak bisa mengabaikan dimensi politik. “Berani tidak disukai” sering dipakai oleh penguasa sebagai legitimasi kebijakan: “Kami berani tidak populer demi kebaikan rakyat.” Retorika ini terdengar heroik, tetapi seringkali hanya menyembunyikan kepentingan. Keberanian semacam itu bisa menjelma otoritarianisme, sebab siapa yang bisa menguji apakah kebijakan itu sungguh untuk rakyat atau hanya demi segelintir elit? Maka, semboyan ini bisa dipelintir menjadi propaganda: rakyat diminta bertepuk tangan pada pemimpin yang “berani tidak disukai,” padahal rakyat sendiri yang menanggung luka dari keberanian semu itu. Pada titik ini, kita melihat bahwa keberanian untuk tidak disukai tidak bisa dipahami secara dangkal. Ia bukan sekadar pernyataan individualistik, melainkan sebuah medan pertarungan antara ego, tanggung jawab, dan struktur sosial. Berani tidak disukai bukanlah hak untuk menjadi seenaknya, melainkan kesediaan untuk menanggung konsekuensi dari kebenaran yang kita pegang.

Lantas, apa artinya bagi kita? Pertama, kita perlu membedakan antara ketidaksukaan yang lahir dari keberanian etis, dan ketidaksukaan yang lahir dari kebodohan atau keangkuhan. Kedua, kita harus mengakui bahwa keberanian ini bukanlah kebal dari luka; ditolak itu menyakitkan, dan menyatakan sebaliknya hanyalah kebohongan psikologis. Keberanian bukanlah hilangnya rasa sakit, melainkan kesediaan untuk tetap berjalan bersama rasa sakit itu. Ketiga, berani tidak disukai berarti siap kehilangan ruang aman kita demi kebenaran yang lebih besar. Jika aku memperjuangkan keadilan bagi kaum tertindas, mungkin aku akan dicemooh, mungkin aku kehilangan teman, mungkin aku dianggap radikal. Tetapi justru di situlah keberanian diuji: bukan pada pembuktian bahwa aku kuat, tetapi pada kesediaanku menanggung risiko dari sebuah panggilan.

Pada akhirnya, keberanian untuk tidak disukai adalah refleksi tentang keberanian untuk tetap menjadi manusia di tengah kawanan yang menuntut keseragaman. Ia bukan kebebasan mutlak, bukan pula pembenaran diri. Ia adalah jalan sempit di antara narsisme dan tanggung jawab. Ia adalah keberanian untuk berdiri pada kebenaran meskipun itu membuat kita kehilangan simpati, sekaligus keberanian untuk bercermin pada kritik meskipun itu menyakitkan. Maka, berani tidak disukai bukanlah slogan yang membuat kita tampak hebat di Instagram. Ia adalah pergulatan eksistensial, sebuah luka yang harus diterima, sebuah kesetiaan pada keotentikan yang tak bisa dibeli dengan pengakuan murah. Dan justru di dalam luka itulah, manusia menemukan kebebasannya yang paling jujur.


Komentar

Postingan Populer