Cinta yang setara?
Cinta yang Setara? : Cinta Seperti Apa yang Setara?
Orang suka bilang, “cinta itu harus setara.” Kalimat ini terdengar mulia, tapi juga agak konyol kalau dipikirkan lebih lama dari sekadar status WhatsApp. Setara itu apa? Kalau yang dimaksud setara adalah sama rata dalam memberi dan menerima, maka cinta sudah sejak awal tidak pernah setara. Seseorang selalu lebih mencintai daripada yang lain, seseorang selalu lebih cemburu, lebih repot, atau lebih bodoh. Bahkan dalam pernikahan yang katanya sakral, kadang yang satu lebih mengorbankan diri, dan yang lain lebih sibuk menghitung ongkos bensin untuk antar-jemput. Lalu, di mana letak kesetaraan itu? Kita sering terjebak dengan romantisasi. Kata “setara” dijadikan kosmetik intelektual untuk menutupi fakta pahit bahwa cinta itu sering timpang. Orang yang jatuh cinta lebih dulu selalu menanggung risiko jadi budak emosinya sendiri. Coba saja tanya pada orang yang menunggu balasan chat tiga jam lebih lama daripada biasanya—siapa yang setara di situ? Yang satu mungkin sibuk kerja, yang lain sibuk menafsirkan “tiga jam” sebagai pengkhianatan kecil.
Kesetaraan cinta adalah mitos yang ingin kita percayai agar tidak merasa sedang dipermainkan. Tapi mitos, seperti biasa, justru membuat kita tambah tersesat. Kita bilang, “aku dan dia sama-sama saling mencintai,” padahal dalam praktiknya yang satu sibuk menulis puisi di catatan ponsel, yang lain sibuk tidur tanpa merasa perlu membalas pesan panjang itu. Jika benar-benar setara, seharusnya intensitas, kerinduan, bahkan kecurigaan pun dibagi rata. Tapi nyatanya, cinta selalu punya yang dominan dan yang tunduk, yang memberi lebih banyak dan yang menerima dengan santai. Di titik ini, kita perlu sinis sedikit. Mengapa manusia begitu terobsesi dengan “kesetaraan” dalam cinta? Mungkin karena kita hidup di era demokrasi palsu, di mana semua hal harus tampak adil agar terlihat sahih. Padahal, cinta tidak pernah tunduk pada logika keadilan. Cinta lebih mirip monopoli emosional: yang punya modal kasih lebih banyak bisa membungkam yang lain. Ini bukan kapitalisme, ini lebih buruk—karena tidak ada undang-undang perdagangan emosi.
Kesetaraan cinta juga sering dipakai sebagai alat moral untuk mengontrol. “Kalau aku berkorban segini, kamu juga harus segitu.” Seolah-olah cinta bisa diukur dengan kalkulator. Ironisnya, begitu orang menghitung, cinta itu sendiri sudah hilang. Karena cinta yang sibuk menuntut kesetaraan biasanya bukan cinta, tapi kontrak kerja: “Aku mencintaimu selama kamu membalas setidaknya 50%.” Nah, ini bukan lagi soal hati, ini soal akuntansi. Lalu, apakah kesetaraan cinta benar-benar mustahil? Barangkali bukan mustahil, tapi mustahil untuk dipertahankan. Kesetaraan mungkin muncul sekilas, seperti momen ketika dua orang saling menatap dan sama-sama tidak ingin berkedip. Tapi momen itu cepat rusak begitu yang satu ingin ke kamar mandi lebih dulu. Cinta setara adalah foto yang indah, tapi begitu kamu hidup di dalamnya, warnanya pudar.
Kalau begitu, apa alternatifnya? Mungkin yang kita butuhkan bukan cinta setara, tapi cinta sadar: sadar bahwa cinta memang timpang, dan itu bukan masalah. Ketika aku mencintaimu lebih banyak, itu bukan berarti aku kalah. Ketika kamu lebih cuek, itu bukan berarti kamu menang. Cinta yang sehat justru bukan yang setara, melainkan yang tahu bahwa ketidaksetaraan itu wajar. Sama seperti hidup: ada yang lahir kaya, ada yang miskin; ada yang tampan, ada yang pas-pasan; dan tidak ada yang benar-benar setara. Jadi, cinta yang setara mungkin hanya jargon indah untuk seminar pra-nikah atau buku motivasi murah. Dalam kenyataannya, cinta adalah kekacauan yang kita pelihara dengan sukarela. Yang satu mungkin memberi 70%, yang lain hanya 30%, tapi toh keduanya tetap bertahan. Dan di situlah letak kebenaran kecil yang satir: cinta bukan soal setara, melainkan soal siapa yang rela terlihat bodoh lebih lama.


Komentar
Posting Komentar