Lamunan Kamu


"Aku? Tidak, ini perihal kamu dan pikiran serta hati"

Dalam titik paling murni ini, aku sedikit bergumam dalam lamunanku disela kau yang menghantui. Racun terbakar begitu cepat dalam lamunan dan tak ku sasap untuk sebuah ketenangan. Konsep yang aku buat untukmu seharusnya sudah jadi dan bisa dikonsumsi, tapi aku menundanya. Aku yang katanya bijaksana ternyata kekanak-kanakan untuk sekedar berbicara padamu. Tiga buku sudah habis kubaca hari ini, tapi tak ada yang bisa menelaah bagaimana perasaanku yang tak terungkap padamu. Kau damai, aku chaos. Mungkin penyatuan tak akan pernah bisa terjadi. Tak akan melebur dan mencair dalam realitas. Tapi, jika boleh aku menggunakan egoku, apakah tidak boleh chaos merasakan damai yang kamu miliki?

Kamu berlari-lari dari mimpi, menuju pikiran, beranjak ke lagu, dan berhenti pada catatan kecil yang jujur ini. Pecundang! Itulah aku. Pecundang dalam urusan menyatakan perasaan karena hanya takut akan penolakan. Padahal, sudah berbagai banyak konsep yang lahir dari aku yang kuat dan ternyata rapuh ini. Aku sudah tau itu. Tapi, aku adalah aku. Ugal-ugalan, tak terarah, tak beraturan, yang mencoba mencari kepastian dari tafsirannya sendiri. Lagu-lagu itu menemaniku ketika rindu datang tanpa alasan. Dan tulisan ini menjadi alasan yang pasti dari kejujuran yang sedikit melankoli.

Tapi, ah… aku kehabisan kata lagi. Seandainya kau tau bahwa dalam lamunan kopi ini, kau menjadi titik gravitasi bagi eksistensiku. Di lain lagi, aku mulai mempertanyakan, apakah ini kutuk? Ku rasa tidak. Ini adalah harapan yang aku bangun tanpa perjuangan dan tanpa kau tau. Kau menari indah dalam tulisanku namun tidak dalam realitas.

Dalam sebuah cerita yang berlatar belakang di kota Athena, Yunani, ada sesosok pria penempa besi. Ia orang miskin yang hidup dalam kerumunan Agora. Suatu ketika, ia melihat perempuan yang menawan matanya dan yang bergerak ke hatinya. Perempuan itu seperti Dewi Eros atau lebih layaknya Afrodite. Namun, ia mulai mengaburkan pandangannya lagi dan mulai menempa lagi. Dalam hatinya, ia pesimis bahwa tidak akan bisa mendapatkan perempuan itu. Tapi, dia tidak berhenti suka dan cinta kepadanya. Dewa-dewa melihat dari ketinggian Olympus dan dewa-dewa mendukung pernyataan pria itu karena tak akan mungkin mendapatkan perempuan secantik itu.

Mungkin seperti itu aku sekarang. Tapi sayangnya, aku tidak pernah nurut dengan ucapan para dewa-dewa itu. Dewa-dewa itu suka menikah, Zeus menjadi contoh. Jika aku bisa melawan kenapa tidak? Tapi sekarang aku sadar, bahkan hujan menjadi penghalang untuk pertemuan. Aku masih memutar lagu. Lagu yang tak pernah ku dengar sebelumnya dan sekarang menjadi kesukaanku ketika kau sudah bersemayam diam di ingatan dan hati.

"Jika aku menulis tentangmu, percayalah itu bukan untukmu. Tapi untuk perasaanku"

- Majalengka

18 - Agustus - 2025

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer