Tuhan yang Humanis
Indonesia kembali berduka. Jalanan yang seharusnya menjadi ruang perjumpaan rakyat kini dipenuhi asap, teriakan, dan darah. Semua bermula dari kebijakan tunjangan perumahan anggota legislatif yang nilainya mencapai sekitar lima puluh juta rupiah per bulan dan itu sepuluh kali lipat upah minimum Jakarta. Kebijakan itu menyulut amarah publik yang sudah lama menanggung beban hidup berat: harga kebutuhan pokok melonjak, pengangguran menghantui, dan keadilan terasa semakin jauh. Api yang disulut ketidakadilan itu akhirnya meledak dalam demonstrasi besar di berbagai kota. Di tengah gelombang protes, tragedi menimpa seorang pengemudi ojek online bernama Affan Kurniawan. Ia tewas setelah tertabrak kendaraan taktis Brimob saat hendak menyeberang di kawasan Senayan, Jakarta. Nama Affan menjadi simbol luka bangsa: rakyat kecil yang setiap hari berjuang mencari nafkah, justru menjadi korban di tanah airnya sendiri. Tragedi lain menyusul: tiga orang di Makassar terkunci dalam gedung DPRD yang dibakar saat aksi, sementara di kota-kota lain kerusakan dan korban jiwa bertambah. Data terakhir mencatat setidaknya enam orang meninggal, dengan kerugian material tak terhitung.
Di sinilah kita perlu berbicara tentang Tuhan yang humanis. Bukan Tuhan yang jauh dan dingin, melainkan Tuhan yang hadir dalam penderitaan manusia. Filsafat dan teologi mengajarkan bahwa Tuhan tidak hanya duduk di atas takhta kosmik, tetapi merasuk dalam jeritan mereka yang ditindas. Immanuel Kant menyebut moralitas sejati sebagai pencarian summum bonum, kebajikan yang selaras dengan kebahagiaan bersama. Dietrich Bonhoeffer mengingatkan, Tuhan hadir “untuk kita dalam penderitaan,” dan Levinas menegaskan tanggung jawab etis kita terhadap “yang lain” sebagai wajah Tuhan sendiri. Jika demikian, maka apa yang kita saksikan hari ini adalah pengkhianatan terhadap Tuhan yang humanis. Ketika pejabat memperkaya diri dengan fasilitas mewah, sementara rakyat menjerit karena harga beras tak terjangkau, mereka sedang mereduksi Tuhan menjadi berhala kekuasaan. Ketika aparat yang seharusnya melindungi justru melindas, maka kehadiran ilahi tergantikan oleh logika kekerasan. Dan ketika rakyat kecil seperti Affan menjadi korban, seharusnya kita mendengar gema suara profetik: “Aku lapar, dan kamu tidak memberi Aku makan. Aku telanjang, dan kamu tidak memberi Aku pakaian.”
Namun, di sisi lain, kita juga melihat percikan Tuhan yang humanis dalam solidaritas rakyat. Mahasiswa, pekerja, hingga pengemudi ojek online bersatu menyuarakan tuntutan. Mereka mungkin berbeda latar belakang, tetapi mereka menyatu dalam rasa sakit yang sama. Inilah yang disebut Paulo Freire sebagai kesadaran kritis: momen ketika rakyat menyadari penindasan struktural dan berani melawan. Suara mereka adalah gema Tuhan yang tak bisa dibungkam, karena Tuhan yang humanis selalu berpihak pada mereka yang diinjak. Presiden akhirnya membatalkan tunjangan parlemen dan menunda kunjungan luar negeri. Ia juga menjanjikan penyelidikan atas kematian Affan. Sekilas, ini tampak seperti langkah moral, tetapi kita perlu bertanya lebih jauh: apakah ini benar-benar wujud pertobatan struktural, atau sekadar strategi meredam amarah publik? Pernyataan presiden yang menyebut sebagian aksi “mendekati pengkhianatan” menunjukkan ambivalensi antara mendengar dan menekan, antara merangkul dan menakut-nakuti.
Di titik ini, refleksi filosofis menuntut kita untuk kembali pada makna Tuhan yang humanis. Tuhan bukan sekadar simbol yang dikutip dalam pidato atau slogan politik. Tuhan humanis adalah praksis: keberanian untuk mengutamakan keadilan sosial, melindungi yang lemah, dan menegakkan martabat manusia di atas segala kepentingan ekonomi atau politik. Jika negara ingin kembali menemukan legitimasi moralnya, maka negara harus berjalan di jalan Tuhan yang humanis, berarti menanggalkan privilese, mengutamakan pelayanan, dan memastikan keselamatan rakyat sebagai prioritas tertinggi. Bagi masyarakat, panggilan yang sama berlaku. Kita bisa bertanya: apakah demonstrasi harus selalu berujung pada kekerasan? Apakah kemarahan bisa menemukan bentuk yang lebih manusiawi tanpa kehilangan ketegasan? Tuhan yang humanis tidak membenarkan anarkisme, tetapi juga tidak merestui ketidakadilan. Ia menuntut keseimbangan: perlawanan yang keras terhadap struktur yang menindas, sekaligus penghormatan terhadap martabat manusia, termasuk mereka yang berbeda pandangan.
Mungkin di sinilah paradoks terbesar bangsa ini: kita terus mengaku beriman pada Tuhan, tetapi begitu cepat melupakan bahwa Tuhan itu humanis. Kita merayakan ritual, tetapi gagal menghadirkan kasih dan keadilan. Kita bicara tentang pembangunan, tetapi membiarkan rakyat kecil jatuh di jalan. Pertanyaannya: sampai kapan kita hidup dalam kontradiksi ini? Tragedi demonstrasi hari ini harus menjadi lonceng kesadaran. Bukan hanya bagi penguasa, tetapi bagi kita semua. Bahwa Tuhan tidak bisa lagi kita sembunyikan dalam gedung-gedung megah atau slogan kosong. Tuhan hadir di jalanan, dalam tubuh-tubuh yang terluka, dalam darah yang tumpah, dan dalam jeritan mereka yang menuntut keadilan. Maka, jika kita masih berani menyebut nama Tuhan, kita harus berani meneladani kemanusiaan-Nya. Karena hanya dengan demikian bangsa ini bisa diselamatkan, bukan oleh kekerasan, bukan oleh privilese, tetapi oleh solidaritas, kasih, dan keadilan yang berpijak di bumi. Itulah Tuhan yang humanis, yang tidak berhenti di langit, melainkan berjalan bersama kita di jalan-jalan penuh asap dan air mata.
Komentar
Posting Komentar