Ketidakkonsistenan yang Masih Berdoa

 


Katanya bagaikan bejana siap dibentuk, tapi baru dipegang aja udah bilang “ini rumit Tuhan, aku belum siap!” ah, dasar diriku!

Katanya ku mau berjalan dengan Juruslamatku, tapi baru jalan di jalan tandus aja udah ngeluh minta minum. ah, dasar diriku!

Katanya hidup ini adalah kesempatan, tapi waktu gagal, malah nyerah, ga berjuang lagi. Ah, dasar diriku!

Katanya ikut saja Dikau Tuhan, tapi waktu Tuhan ngasih rasa sakit, malah ngomong, “kecuali yang ini, aku ga mau ikut” ah, dasar diriku!

Katanya O, Tuhanku ajarlah aku, tapi waktu dikasih pembelajaran malah minta contekan. Ah, dasar diriku!

Katanya ku mau cinta Yesus selamanya, tapi masih galau aja ngeliat dia jalan sama yang bukan diriku. Ah, dasar diriku!

Katanya mau baca kitab suci, doa setiap hari kalau mau tumbuh, nyatanya malah baca buku yang lain sambil dengerin lagu Led Zeppelin kadang Lamb Of God. Ah, dasar diriku!

Katanya mujizat itu nyata, tapi daripada mikir gitu, mending cari kemungkinan yang rasional. Ah, dasar diriku!

Katanya Yesus disuruh mampir dengar doaku. Gimana mau mampir, doa aja jarang. Ah, dasar diriku!

Katanya bila Roh Allah ada di dalamku, aku bakal menari, tapi dengernya lagu metal. Ya, moshing jadinya. Ah, dasar diriku!

Katanya carilah dulu kerajaan Allah, tapi malah nyari kebijaksanaan buta. Ya ga ketemu. Ah, dasar diriku!

Katanya nanya ke-Tuhan, siapakah aku ini Tuhan? Tapi malah buat refleksi analisis make filsafat manusia. Ah, dasar diriku!

Katanya nyuruh Bapa sentuh hatiku, tapi gimana, orang ga punya. Ah, dasar diriku dan pemerintah!


Tapi, Tuhan. Di tengah ketidakkonsistenanku, biarlah aku tetap konsisten. Aku tahu, doa ini bukan doa mujarab seperti obat yang dijual atas nama agama. Aku tidak sedang membeli tiket cepat ke surga atau mengisi formulir untuk jadi orang suci. Aku hanya sedang bicara, karena kalau tidak bicara aku bisa meledak oleh absurditas ini. Aku tahu, tanpa aku berdoa, Kau yang punya kuping lebih besar dari siapa pun sudah mengetahui. Tapi tetap saja aku ngomong. Seperti orang kirim pesan ke grup keluarga padahal semua sudah tahu beritanya, cuma butuh rasa lega. Mungkin aku wayang dan Kau dalang, tapi wayang pun berhak curhat pada tangan yang menggerakkannya.

Aku cuma ingin bilang, tak ada yang ku kerjakan selain semua ini perintah-Mu. Meski sering aku lupa, meski aku pura-pura mandiri. Hidupku seperti sandiwara, naskahnya Kau yang tulis, tapi pemainnya aku yang sering lupa dialog. Jadi di tengah absurditas ini, aku berdoa. Doa yang tidak rapi, tidak puitis, kadang malah seperti status media sosial. Tapi jujur, Tuhan. Biar aku tetap konsisten meski dunia, bahkan diriku sendiri, berubah-ubah seenaknya





Komentar

Postingan Populer