Pagi dengan instrumennya
"Entah apa yang ada dalam benak, tapi begitulah adanya".
Pagi ini, lebih tepatnya 04:30, seperti eksperimen gagal dari laboratorium kehidupan. Aku bangun bukan karena alarm, tapi karena tubuhku menyerah pada negosiasi tidur. Alarm hanyalah makhluk kecil yang merasa dirinya penting, padahal realitas pagi lebih kuat: cahaya menampar wajahku tanpa permisi. Aku bangun. Katanya manusia yang baik memulai hari dengan doa, tapi aku malah menyalakan lagu Taizè. Ironisnya, nyanyian monoton itu bukan membawaku pada kekhusyukan, melainkan menegaskan betapa absurdnya manusia berusaha mengulang-ulang doa seperti burung beo yang ingin terdengar suci. Aku mendengarnya, bukan karena iman, tapi karena suara repetitif itu terasa seperti soundtrack hidup yang tak tahu arah.
Lalu kopi. Ah, kafein: bentuk persekutuan paling jujur antara tubuh dan dosa kecil. Kupikir kopi hanyalah strategi agar aku bisa berpura-pura produktif. Sungguh, rasanya kopi lebih konsisten daripada komitmen manusia. Tidak peduli siapa aku hari ini, ia selalu hitam, pahit, dan setia mendampingiku. Aku meneguknya sambil merenungkan betapa ironisnya: manusia membutuhkan zat asing untuk sekadar merasa hidup. Mungkin Tuhan tidak mati, seperti kata Nietzsche, tapi jelas Dia diam saja ketika kopi mengambil posisi-Nya sebagai penopang harian.
Di sela itu, aku membuka buku Graham Oppy, Perdebatan tentang Tuhan. Membaca Oppy di pagi hari adalah keputusan yang sama nekatnya dengan mengajak filsuf untuk stand up comedy. Tidak ada punchline yang ringan, hanya argumen tentang eksistensi Tuhan yang berputar seperti roda rusak. Oppy, dengan gaya skeptisnya, membuatku sadar bahwa banyak orang sibuk membela Tuhan lebih keras daripada mereka membela sesama manusia. Ironis, bukan? Kita bisa berdebat ratusan halaman tentang “apakah Tuhan ada,” tapi tidak pernah repot berdebat tentang “apakah kita ada” dalam kehidupan satu sama lain. Membaca Oppy, aku merasa bukan sedang mencari jawaban, tapi sedang digiring masuk ke hutan rimba tempat jawaban sengaja dipelintir jadi pertanyaan baru. Dan begitulah: filsafat lebih sering memelihara keraguan daripada memberi jawaban.
Di antara halaman Oppy, otakku tiba-tiba melenceng ke arahmu. Ya, kamu—makhluk asing yang entah bagaimana muncul di sela-sela teks ateistik. Lucu juga, ketika Oppy sibuk mengupas argumen kosmologis, aku malah bertanya: apakah memikirkanmu adalah bentuk lain dari bukti ontologis? Karena entah kenapa, eksistensimu selalu ada dalam benakku meski aku tidak pernah bisa membuktikannya dengan definisi yang rapi. Kamu seperti Tuhan dalam miniatur pribadi: hadir dalam kesadaran, tapi sulit dijelaskan dalam wujud.
Lagu Taizè masih berdengung, kopi mulai mendingin, Oppy masih berkicau tentang kelemahan argumen teleologis, dan aku—ya aku—malah sibuk bertanya kenapa wajahmu bisa muncul lebih jelas daripada huruf-huruf di halaman. Barangkali cinta (atau apapun istilah basi itu) lebih kuat dari filsafat, karena ia tidak butuh premis untuk menancap. Atau mungkin sebaliknya: memikirkanmu hanyalah distraksi bodoh agar aku tidak perlu menelan kepahitan bahwa filsafat kadang lebih kering dari mulut yang kehabisan kopi.
Jadi bagaimana pagi ini? Pagi ini adalah panggung sandiwara yang memadukan doa monoton, kafein yang setia, filsuf ateis yang cerewet, dan bayanganmu yang muncul tanpa undangan. Tidak ada yang mulia dari semua itu. Justru keindahannya terletak pada ketidakberartian yang dipaksa menjadi bermakna. Manusia punya kebiasaan buruk: merangkai serpihan remeh dan menempelkannya dengan lem narasi, seolah hidup ini punya plot. Padahal, pagi hanyalah pagi. Kopi hanyalah kopi. Oppy hanyalah Oppy. Dan kamu—entah kamu siapa di dalam kepalaku—mungkin hanyalah gema dari kekosongan yang ingin diisi. Tetapi mungkin justru di situlah letak kejujuran. Kita sibuk mencari Tuhan dalam buku tebal, sibuk menata doa dalam nada-nada repetitif, sibuk meneguk kopi seolah itu eukaristi harian, sibuk memikirkan seseorang agar tidak merasa sendiri. Pagi ini tidak menawarkan jawaban. Ia hanya menertawakan semua usahaku untuk membuatnya berarti. Dan aku, meski tahu semua ini absurd, tetap melakukannya lagi besok.
Hitunglah: satu lagu Taizè, satu cangkir kopi, dua puluh lima setengah halaman Oppy, dan satu pikiran tentangmu. Itulah liturgi pagiku. Liturgi orang skeptis yang pura-pura serius mencari kebenaran, padahal hanya ingin merasa tidak sendirian di tengah absurditas dunia. Pagi ini hanyalah latihan menjadi manusia: rapuh, nyeleneh, tapi tetap keras kepala ingin menemukan makna.


Komentar
Posting Komentar