Tuhan yang Kecil



Pertanyaan pertama yang mengganggu kepalaku: kalau Tuhan itu maha besar, kenapa Ia tidak bisa diperkecil supaya manusia bisa benar-benar tahu Dia? Ironisnya, sebagian homo religius akan langsung marah dengan pertanyaan itu. Mereka akan menuduhnya sebagai penghujatan, padahal justru di sanalah letak kekristenan: Tuhan yang maha besar ternyata tega mengecilkan diri-Nya sendiri—menjadi bayi merah, nangis, lapar, bahkan bisa kencing di popok. Betapa tidak logisnya, betapa tidak “maha besar”-nya, dan betapa sangat “maha kecil”-nya. Lalu, mari kita telanjangi paradoks ini. Kalau Tuhan memang begitu besar, apakah dengan mengecil Ia kehilangan kebesarannya? Tidak. Justru di situlah kebesaran-Nya—karena Ia bisa melepaskan gengsi “maha”-Nya. Kita ini, manusia, terlalu terobsesi dengan gelar “besar.” Kita menyembah konsep ketuhanan yang abstrak, agung, tak terjangkau, persis seperti orang kaya baru yang bangga punya rumah mewah tapi tidak pernah ditempati. Tuhan dijadikan monumen raksasa yang tidak bisa disentuh, hanya bisa ditatap dengan takut-takut dari bawah.

Namun Yesus justru membalikkan konsep itu. Ia menunjukkan bahwa Tuhan yang benar bukanlah Tuhan yang sibuk menjaga kebesarannya agar tetap eksklusif, melainkan Tuhan yang dengan santai berkata: “Baiklah, kalau manusia hanya bisa mengerti sesuatu yang kecil, biar Aku mengecil.” Ini bukan degradasi, tapi demonstrasi kebesaran dalam bentuk yang paling manusiawi: kesediaan untuk tidak menjadi superior. Sayangnya, kita, homo religius selalu punya alergi pada ide ini. Mereka ingin Tuhan tetap tak terpikirkan, tak terkatakan, tak terjelaskan—karena semakin misterius, semakin sakral. Tuhan dijaga agar tetap “di atas sana” dan tidak terseret ke pasar tradisional atau ke rumah sakit yang bau formalin. Ironinya, dalam menjaga “maha besar” itu, manusia malah menyempitkan diri sendiri. Bukankah lebih mudah menyembah Tuhan yang tak bisa dijelaskan, daripada menghadapi Tuhan yang benar-benar masuk ke penderitaan kita? Tuhan yang misterius bisa disembah dari jauh, tapi Tuhan yang meringis kesakitan menuntut manusia untuk berempati—dan itu pekerjaan berat.

Maka tak heran, banyak orang lebih nyaman dengan Tuhan yang “terlalu eksklusif.” Tuhan versi museum. Tuhan dipajang di balik kaca tebal, diberi label “tak terjamah.” Kita dilarang bertanya terlalu dalam, apalagi mengkritik. Padahal kalau Tuhan memang benar-benar besar, kritik manusia yang kecil ini seharusnya tidak membuat-Nya panik. Justru yang panik adalah para penjaga agama yang takut Tuhan mereka roboh hanya karena satu pertanyaan kritis. Betapa rapuhnya “Tuhan maha besar” yang harus dilindungi dari pertanyaan bocah lugu. Inkarnasi, pada dasarnya, adalah skandal. Ia menampar wajah setiap konsep keilahian yang ingin eksklusif. Bayangkan: Tuhan ikut lapar, Tuhan ikut sakit, Tuhan ikut menangis. Apakah itu membuat-Nya jadi kurang Tuhan? Kalau ya, berarti definisi kita tentang Tuhan dangkal sekali. Kalau tidak, berarti kita harus berani mengakui bahwa Tuhan tidak jijik mengecil.

Di sini letak satirnya: manusia selalu ingin membesar-besarkan diri—dengan kekuasaan, uang, atau status sosial. Tapi Tuhan, justru, memilih jalan sebaliknya. Ia mengecil. Dan manusia, bukannya kagum, malah tersinggung. “Masa Tuhan sampai sekecil itu? Masa Tuhan bisa capek, bisa lapar, bisa mati? Itu terlalu manusiawi!” Padahal itulah intinya: kalau Tuhan tidak bisa merasa sakit, bagaimana Ia bisa sungguh dekat dengan manusia yang setiap hari merasakan sakit? Tuhan yang humanis memang bikin resah. Ia tidak duduk tenang di singgasana emas; Ia berjalan di jalanan berdebu. Ia tidak bicara dengan bahasa metafisika yang membingungkan; Ia bicara dalam perumpamaan tentang domba, roti, dan ikan. Ia tidak sibuk menampakkan diri dalam kilat dan gemuruh; Ia sibuk menyembuhkan orang buta dengan cara meludah ke tanah. Semua ini terlihat terlalu biasa, bahkan memalukan, bagi mereka yang ingin Tuhan tetap agung. Tapi justru di situlah keagungan yang sejati.

Maka, kalau kita bertanya: kenapa Tuhan terlalu eksklusif, terlalu tak terpikirkan, terlalu tak bisa dijelaskan? Jawabannya mungkin sederhana: itu bukan salah Tuhan, itu salah manusia. Manusia-lah yang menutup rapat-rapat akses menuju Tuhan, lalu menaruh papan bertuliskan “Dilarang Masuk—Milik Eksklusif.” Inkarnasi seharusnya membuka pintu itu, tapi banyak orang lebih suka menutupnya lagi. Sebab Tuhan yang dekat, Tuhan yang bisa disentuh, itu merepotkan. Ia bisa mengganggu kenyamanan religius kita. Tuhan yang kecil justru menuntut kita untuk berhenti berpura-pura besar. Tuhan yang meringis kesakitan menantang kita untuk berhenti memoles agama dengan kata-kata indah sementara tetangga kelaparan. Tuhan yang menangis di kubur Lazarus adalah sindiran keras bagi manusia yang berpikir bahwa air mata itu kelemahan. Tuhan yang disalib adalah satir terbesar bagi seluruh sistem kekuasaan: yang disebut “maha besar” ternyata kalah oleh pasukan negara, dipermalukan di depan umum. Namun justru di situlah kebesaran itu: Ia rela kalah untuk menunjukkan bahwa cinta lebih besar daripada segala bentuk keangkuhan.

Apakah ini berarti Tuhan harus selalu dipersempit agar manusia bisa tahu? Tidak juga. Karena sebenarnya, dalam mengecil, Ia justru memperluas pengertian kita. Ketika Tuhan mengecil dalam Yesus, kita tidak hanya tahu bahwa Tuhan bisa lapar; kita tahu bahwa lapar manusia tidak lagi diabaikan oleh "surga". Ketika Tuhan mengecil sampai disalib, kita tahu bahwa penderitaan manusia tidak pernah dibiarkan sendirian. Jadi, Tuhan mengecil bukan supaya “menjadi kecil,” melainkan supaya manusia tidak lagi merasa kerdil. Dengan kata lain, Tuhan yang mengecil sebenarnya sedang membesarkan manusia. Maka, jika ada yang berkata “Tuhan terlalu eksklusif, tak bisa dijelaskan,” mungkin masalahnya ada pada kita yang malas menoleh pada Yesus yang sudah jelas-jelas mengecil. Kita lebih suka Tuhan abstrak di awang-awang, daripada Tuhan yang nyata-nyata makan bersama orang miskin. Kita lebih suka Tuhan dalam doa yang puitis, daripada Tuhan yang ngos-ngosan memanggul salib.

Jadi, mari kita akhiri dengan satir sederhana: manusia suka menjadikan Tuhan sebagai konsep yang terlalu besar untuk disentuh, sementara Tuhan sendiri repot-repot mengecil hanya untuk disentuh manusia. Pertanyaannya: siapa sebenarnya yang lebih eksklusif, Tuhan atau manusia?




Komentar

Postingan Populer