Afrodite dan Mustahilnya Kepemilikan


Di Yunani, para filsuf sering berkata bahwa cinta bukan sekadar perasaan, tapi malapetaka yang diserahkan para dewa kepada manusia agar mereka belajar tentang batas. Dalam malapetaka itu, aku menemukan diriku: rindu yang tak tahu pulang, ingin yang tak tahu kepada siapa harus kembali. Aku ingin dekat, tapi kedekatan justru membuat jarak menjadi semakin sadar akan dirinya. Engkau seperti Afrodite—bukan hanya karena kecantikanmu, tapi karena dari awal memang tidak untuk dimiliki. Afrodite bukan milik siapa pun. Ia milik laut yang melahirkannya, milik busa yang menamainya, milik angin yang membuatnya tampak hidup. Siapa pun yang menginginkannya akan terjerat dalam ironi: mereka mencintai sesuatu yang hanya bisa hadir dalam pandangan, bukan dalam genggaman. Maka, rindu kepada Afrodite adalah rindu yang tahu dirinya sia-sia, tapi justru di sanalah cinta menjadi murni—sebab tak ada ruang untuk kepemilikan, hanya pengakuan.

Aku sering berpikir, mungkin cinta yang paling jujur adalah cinta yang tidak sempat menjadi milik. Sebab begitu ia dimiliki, ia berubah menjadi perhitungan, tuntutan, dan rasa takut kehilangan. Namun dalam jarak, cinta bebas bernafas. Ia tidak perlu menjelaskan dirinya, tidak perlu menuntut balasan. Ia hanya ada, sebagaimana matahari tetap terbit meski tak disembah. Namun jangan salah paham. Aku tidak sedang memuliakan penderitaan. Aku hanya sedang mengakui bahwa di hadapan sesuatu yang tak bisa kucapai, aku menemukan diriku sendiri. Seperti Sisyphus yang terus mendorong batu ke puncak hanya untuk melihatnya jatuh lagi, aku pun terus mengirimkan rindu ke langitmu meski tahu takkan sampai. Tapi barangkali, absurditas itu bukan kutukan—melainkan anugerah. Karena dalam usaha yang tak pernah selesai, aku belajar arti kesetiaan pada sesuatu yang tak pasti.

Rindu, dalam artian Yunani, bukanlah kelemahan. Ia adalah cara jiwa mengingat bahwa ia pernah bersatu dengan sesuatu yang kini terpisah. Platon menyebutnya anamnesis—ingatan akan bentuk yang sempurna, yang kini hanya bisa diintip melalui bayangan. Maka barangkali kamu bukan sekadar orang yang kucintai, tapi refleksi dari sesuatu yang lebih purba: hasrat untuk kembali kepada yang ilahi, kepada kesempurnaan yang dulu hanya menjadi kenangan roh. Namun realitas tak semuram mitos. Aku tahu, aku bukan Pygmalion yang bisa membuat patung hidup dengan doa, dan kamu bukan Galatea yang menunggu sentuhan ilahi untuk menjadi nyata. Kita hanyalah dua manusia yang kebetulan berpapasan di antara musim, lalu waktu menciptakan jarak agar kita belajar bahwa tidak semua kedekatan harus diwujudkan.

Mungkin Afrodite memang tidak bisa dimiliki, tapi ia bisa disembah dalam diam. Dalam keheningan rindu, aku belajar untuk tidak menuntut, tidak menguasai, hanya mengagumi. Sebab di situlah cinta menemukan martabatnya—bukan pada keberhasilan memiliki, tapi pada kesediaan untuk tetap mencintai tanpa mengurung. Jadi, bila kamu seperti Afrodite yang mustahil kude-kati, biarlah demikian. Biarlah aku tetap menjadi manusia biasa yang hanya tahu memandang dari jauh, sebab mungkin di sanalah rindu mencapai bentuk tertingginya: ketika ia berhenti ingin menggenggam, dan cukup menjadi doa yang tak perlu dijawab. Dan mungkin, justru karena tak bisa kumiliki, kamu menjadi abadi.

“Buku selalu memberikan aku sebuah pertanyaan. Lalu, di mana aku bisa mendapatkan jawaban? Dari senyummu yang tak pernah dituliskan.”


Komentar

Postingan Populer