Sejenak Cukup
Aneh juga. Selama ini aku selalu menganggap omong kosong soal “hadir” sebagai barang dagangan murahan. Tapi lalu muncul seseorang yang membuat semua teori panjangku terasa seperti barang bekas yang tidak lagi penting. Bukan berarti aku tiba-tiba berubah jadi penyair murahan yang melihat pelangi di mata manusia. Tidak. Ini lebih mirip eksperimen lapangan yang kebetulan menemukan variabel yang membuat hasilnya bergeser keluar dari prediksi. Yang membuat membingungkan: aku tidak sedang jatuh cinta dalam definisi klasik yang penuh kembang api dan musik latar. Tidak ada adegan lambat. Tidak ada jantung berdebar berlebihan. Justru semuanya terlalu sunyi, terlalu tenang sampai terasa mencurigakan. Seperti berdiri di pinggir tebing tanpa angin. Dan entah kenapa, untuk pertama kalinya, aku tidak ingin kabur.
Aku menemukan seseorang yang membuat konsep kehadiran tidak terasa seperti teori sosial yang basi. Bukan karena ia sempurna; jauh dari itu. Ia punya sisi gelap, kekonyolan, iritasi, dan ketidakteraturan seperti manusia pada umumnya. Tapi justru ketidakteraturan itulah yang membuatku berhenti ingin membedah. Biasanya aku akan langsung memakai pisau analisis sampai tulangnya kelihatan. Tapi kali ini, melihat kekacauan itu, aku malah duduk. Diam. Tidak menyentuh apa pun. Tidak menginterogasi. Seolah ada bagian dalam diriku yang berkata: jangan disentuh dulu, lihat saja. Dan itu hal paling tidak masuk akal yang pernah kulakukan. Dia tidak meminta apa pun. Tidak minta kehadiran total. Tidak minta definisi. Tidak minta jaminan masa depan. Tidak bertanya “kita ini apa.” Tidak mencoba menjadi kisah besar. Dan mungkin karena tidak ada tuntutan, aku justru ingin tinggal. Bukan untuk membuktikan apa-apa. Hanya untuk merasakan bagaimana rasanya tidak bersembunyi.
Aneh rasanya ketika seseorang membuatmu berhenti ingin menang. Biasanya aku sibuk menjaga jarak, memahami terlebih dahulu, memastikan segala risiko terpetakan rapi sebelum melangkah. Tapi bersamanya, aku justru ingin diam tanpa rencana. Duduk di ruang tanpa janji, tanpa tabel risiko. Seperti akhirnya menyadari bahwa hidup tidak perlu terus menerus dikelola seperti proyek penelitian. Aku bukan tiba-tiba percaya pada konsep utuh. Keutuhan itu mitos yang terlalu muluk. Kita semua retak, dan retak itu permanen. Tapi untuk pertama kalinya, aku ingin mencoba tidak lari ketika retakku terlihat. Bukan karena aku yakin dia mampu menampungnya. Tapi karena aku tidak merasa perlu menyembunyikannya.
Kalau ini nanti berakhir kacau, ya sudah. Tidak ada drama. Tidak perlu piala penderitaan. Tidak perlu teori pasca-keruntuhan. Tapi kalau kebetulan keberanian kecil ini bertahan sedikit lebih lama, mungkin akan ada hal menarik yang bisa dipelajari tanpa merusaknya dengan analisis prematur. Aku tidak sedang meminta semesta bekerja sama. Aku juga tidak sedang memuja seseorang sampai lupa diri. Aku hanya menemukan seseorang yang membuatku tidak ingin memainkan permainan kabur dan pura-pura sibuk lagi. Kalau ada kata untuk itu, biar saja orang lain yang memberi. Aku tidak peduli istilahnya apa.
Yang kupahami hanya ini: untuk pertama kalinya, aku ingin duduk tanpa berdiri setengah dari kursi. Aku ingin hadir tanpa menyimpan kunci pintu keluar di tangan. Bukan janji besar, hanya pilihan kecil yang diulang setiap hari. Dan pilihan itu sederhana: aku tetap di sini. Tanpa teori. Tanpa puisi megah. Tanpa lari.


Komentar
Posting Komentar