Tubuh Kristus yang Sakit

Siapakah tubuh Kristus? Jawaban yang paling sering kita dengar, dan paling cepat kita ucapkan, adalah: kita semua yang percaya. Pernyataan ini nyaris selalu diterima tanpa resistensi. Ia terdengar alkitabiah, aman secara teologis, dan nyaman secara pastoral. Dalam banyak konteks, analogi ini bahkan menjadi identitas bersama yang membanggakan: gereja sebagai satu tubuh, Kristus sebagai kepala, dan kita sebagai anggota-anggotanya. Tidak ada yang salah dengan itu. Bahkan, secara teologis, analogi ini memiliki dasar yang kuat.

Namun justru karena kekuatannya, analogi ini patut dicurigai. Setiap analogi yang terlalu cepat dianggap absolut berisiko menutup ruang refleksi kritis. Maka pertanyaannya bukan lagi apakah kita adalah tubuh Kristus, melainkan: tubuh seperti apakah itu? Apakah tubuh ini sungguh utuh, sehat, dan tak bercela? Ataukah ia justru cacat, rapuh, dan penuh luka yang kita sembunyikan di balik bahasa rohani? Sering kali, kita membela diri dengan membayangkan tubuh Kristus sebagai sebuah konstruksi ideal. Tubuh yang rapi, selaras, dan bekerja harmonis. Tubuh yang secara moral lebih tinggi dibandingkan dunia di sekitarnya. Dalam imajinasi semacam ini, gereja tampil sebagai komunitas yang seolah telah melampaui kelemahan manusiawi. Padahal, yang sering terjadi bukanlah transformasi manusia, melainkan penghalusan bahasa untuk menutupi problem lama.

Di titik inilah realitas perlu dihadirkan, bukan untuk merusak keindahan teologi, tetapi justru untuk mengujinya. Dan Natal menjadi salah satu momen paling jujur untuk melihat kontras itu. Natal adalah perayaan yang indah. Ia berbicara tentang harapan, tentang Allah yang turun ke dalam sejarah manusia, tentang terang yang datang ke dalam gelap. Dalam praktiknya, Natal hampir selalu dirayakan secara besar-besaran. Gereja-gereja lintas denominasi bergabung, panitia dibentuk, anggaran disusun, acara dirancang dengan detail agar perayaan berlangsung megah dan berkesan. Semua ini, pada dasarnya, tidak salah. Bahkan bisa menjadi ekspresi iman yang tulus.

Masalahnya muncul bukan pada perayaannya, melainkan pada manusia-manusia yang mengelolanya. Di balik rapat-rapat yang dibuka dengan doa, di balik kata-kata “demi kemuliaan Tuhan”, terselip kepentingan yang sangat manusiawi. Ada yang ingin namanya lebih terlihat. Ada yang ingin posisinya aman. Ada pula yang secara terang-terangan memanfaatkan momentum rohani untuk keuntungan pribadi. Manipulasi dana, kebohongan kecil yang dianggap “wajar”, pembagian keuntungan yang tidak adil. Semua itu terjadi bukan di luar tubuh Kristus, melainkan di dalamnya.

Di sinilah analogi tubuh mulai retak. Tubuh yang kita sebut sebagai tubuh Kristus ternyata tidak imun terhadap penyakit. Bahkan, penyakit itu tidak datang dari luar, melainkan tumbuh dari dalam sel-selnya sendiri. Keserakahan, kebohongan, dan hasrat berkuasa bukanlah virus asing. Ia adalah bagian dari kondisi manusia yang tidak otomatis lenyap hanya karena seseorang aktif dalam pelayanan atau rajin menghadiri ibadah. Maka, ketika kita tetap bersikeras menyebut tubuh Kristus sebagai tubuh yang sempurna, pertanyaannya menjadi janggal. Sempurna menurut siapa? Sempurna dalam arti apa? Jika kesempurnaan itu hanya hidup dalam bahasa liturgis dan doktrin, tetapi runtuh dalam praktik keseharian, maka mungkin yang sempurna bukan tubuhnya, melainkan ilusi kita tentangnya.

Namun menyadari bahwa tubuh ini sakit bukanlah perkara mudah. Kesadaran selalu menuntut keberanian. Sama seperti seseorang yang menerima diagnosis kanker, reaksi pertama bukanlah penerimaan, melainkan penyangkalan. Ada ketidakpercayaan, ada kemarahan, ada keinginan untuk mencari pendapat lain agar diagnosis itu terbantahkan. Begitu pula dengan gereja. Mengakui bahwa tubuh Kristus sakit berarti mengakui bahwa kita turut berkontribusi pada penyakit itu. Di titik ini, banyak orang memilih jalan aman: menyangkal. Lebih mudah mengatakan bahwa itu hanya ulah oknum, bahwa gereja secara keseluruhan tetap suci. Padahal, logika tubuh tidak bekerja seperti itu. Jika satu anggota sakit, tubuh secara keseluruhan terdampak. Penyakit tidak bisa terus-menerus dilokalisasi tanpa akhirnya menyebar.

Karena itu, tubuh Kristus bukanlah tubuh tanpa cela. Ia bukan tubuh yang kebal terhadap rasa sakit. Tubuh Kristus adalah tubuh yang rapuh, tubuh yang terus-menerus berada di antara panggilan ilahi dan realitas manusiawi. Dan justru karena kerapuhan itulah, penyakit sering kali masuk lebih cepat daripada daya pulihnya. Namun di sini pula letak kejujurannya. Tubuh yang mengakui kerapuhannya masih memiliki kemungkinan untuk disembuhkan. Sebaliknya, tubuh yang bersikeras menyebut dirinya sehat, padahal menyimpan infeksi di dalam, justru sedang mempercepat kehancurannya sendiri. Natal, jika dibaca dengan jujur, tidak sedang merayakan kesempurnaan tubuh Kristus, melainkan keberanian Allah untuk masuk ke dalam tubuh manusia yang rapuh itu. 

“Kerapuhan bukan musuh iman; penyangkalanlah yang membuat tubuh ini benar-benar mati.”

Komentar

Postingan Populer