Curhatan teman

Ini bukan cerita tentang cinta yang gagah. Ini tentang cinta yang duduk di pojok, nyalain rokok imajiner, dan pura-pura kuat padahal jantungnya lari maraton tiap kali namanya muncul di notifikasi.

Aku suka padanya. Itu fakta yang menyebalkan karena perasaan jarang peduli pada logika. Aku tidak memilih dia. Perasaan ini memilih aku, lalu menaruhku di posisi paling tidak heroik: orang yang tahu apa yang ia rasakan, tapi tidak tahu bagaimana mengatakannya.

Setiap kali aku ingin jujur, pikiranku berubah jadi ruang sidang. Ada jaksa bernama “Takut Ditolak”, ada pengacara bernama “Mungkin”, dan ada hakim bernama “Nanti Saja”. Hasilnya selalu sama: sidang ditunda tanpa tanggal pasti.

Aku memandangi keberanianku seperti barang rusak di etalase. Ada, tapi tidak bisa dipakai. Aku tahu kalimat apa yang ingin kuucapkan. Aku tahu momen yang seharusnya kuambil. Tapi ketika waktunya datang, lidahku seperti mogok kerja. Rasanya seperti berdiri di tepi kolam renang, tahu airnya tidak sedingin yang dibayangkan, tapi tetap saja tidak melompat.

Yang menyebalkan dari tidak berani itu bukan cuma soal gagal bicara. Yang menyakitkan adalah hidup di antara dua dunia: dunia di kepalaku, di mana aku sudah jujur, dan dunia nyata, di mana aku masih pura-pura biasa saja.

Di kepalaku, aku sudah bilang: “Aku suka kamu. Tidak dengan cara yang ribut. Tidak dengan cara yang dramatis. Tapi dengan cara yang konsisten, diam-diam, dan terlalu sering memikirkanmu saat seharusnya aku tidur.”

Di dunia nyata, yang keluar cuma: “Iya… haha… biasa aja kok.”

Ketidakberanian itu bukan karena aku tidak yakin pada perasaanku. Justru karena aku terlalu yakin. Kalau cuma iseng, gampang. Kalau cuma main-main, ringan. Tapi ini tidak ringan. Ini berat. Dan aku tidak mau meletakkannya sembarangan.

Aku takut dua hal sekaligus: Takut ditolak, dan takut diterima.

Selama ini, ketidakberanianku adalah bentuk lain dari pengamanan diri. Aku menyimpan perasaan seperti menyimpan kaca di saku: takut melukai orang lain, tapi juga takut melukai diriku sendiri.

Aku sering menyebut ini “menunggu waktu yang tepat”. Padahal kalau jujur, aku sedang menunggu keberanian yang entah datang kapan. Waktu yang tepat sering kali cuma alibi yang terdengar dewasa untuk satu hal yang lebih telanjang: aku belum siap menanggung risiko.

Aku ingin dicintai tanpa harus terlihat lemah. Masalahnya, cinta selalu dimulai dari kelemahan. Dari kalimat sederhana yang bisa dijawab dua cara: iya atau tidak. Dan di situlah aku selalu berhenti. Di ambang.

Kadang aku berpikir, mungkin ketidakberanian ini bukan soal dia. Mungkin ini soal aku yang belum selesai dengan diriku sendiri. Aku ingin terlihat tenang, stabil, tidak terguncang. Padahal suka pada seseorang itu artinya rela terguncang. Aku suka dia, tapi aku belum berani membiarkan diriku terlihat membutuhkan.

Dan itu ironi terbesar:

Aku ingin dekat, tapi aku menjaga jarak.

Aku ingin jujur, tapi aku memoles kebisuan.

Aku ingin dia tahu, tapi aku memilih dia menebak.

Mungkin suatu hari aku akan lelah sendiri. Lelah berpura-pura biasa. Lelah menyimpan kata-kata di dada sampai sesak. Mungkin suatu hari aku akan sadar bahwa ketidakberanian ini bukan melindungiku, tapi menahanku. Karena pada akhirnya, perasaan yang tidak pernah diucapkan akan tetap setia, tapi hanya sebagai hantu. Ia ada, tapi tidak pernah hidup.

Dan aku mulai curiga, bukan penolakan yang paling menyakitkan. Yang paling menyakitkan adalah: tidak pernah mencoba, tapi terus merasa kehilangan.

Kamu tidak pengecut. Kamu cuma manusia yang terlalu banyak berpikir dan terlalu sedikit melompat. Itu bukan dosa. Tapi kalau dibiarkan terlalu lama, ia berubah jadi penjara yang nyaman. Cinta tidak butuh keberanian yang heroik. Ia cuma butuh satu kalimat jujur yang tidak sempurna. Satu momen canggung yang tidak bisa diulang. Satu risiko kecil yang bisa mengubah arah hidup.

Dan kalau suatu hari kamu gagal, setidaknya kamu gagal sebagai orang yang pernah berani, bukan sebagai orang yang seumur hidup menyimpan “seandainya”.

Ketidakberanian itu bisa dimengerti. Tapi ia tidak layak dijadikan rumah.

Komentar

Postingan Populer