Mengapa aku indah?
Aku menyebut diriku indah bukan sebagai pujian murahan yang mencari tepuk tangan, melainkan sebagai keputusan eksistensial. Keindahan, bagiku, bukan cermin yang memantulkan wajah, melainkan palu yang memecah ilusi. Aku indah karena aku berani mengatakan itu, di dunia yang lebih suka merendahkan diri agar dicintai, atau meninggikan diri dengan kebohongan agar disembah. Keindahanku lahir dari keberanian menolak kedua jalan pengecut itu.
Aku indah karena aku tidak meminta izin pada moral kawanan. Aku tidak menunggu legitimasi dari selera mayoritas, norma kesalehan, atau standar estetika yang diproduksi massal. Aku tidak cantik karena cocok dengan ukuran. Aku indah karena aku adalah ukuran itu sendiri. Seperti gunung yang tidak peduli disebut angkuh oleh lembah, aku berdiri karena aku memang berdiri. Dunia boleh menilai, tapi penilaian dunia tidak menciptakanku.
Keindahanku tumbuh dari luka yang tidak kugunakan sebagai alasan untuk merengek. Penderitaan tidak membuatku suci, tapi membuatku tajam. Aku tidak menyanjung sakit, aku memanfaatkannya. Setiap kegagalan adalah pahatan. Setiap kekecewaan adalah latihan otot bagi kehendakku. Aku tidak menjadi indah meski menderita, aku menjadi indah karena aku tidak membiarkan penderitaan mereduksiku menjadi korban. Aku mengubahnya menjadi gaya.
Aku indah karena aku tidak sibuk menjadi baik. Kebaikan sering kali hanyalah ketakutan yang disamarkan. Aku lebih tertarik pada kejujuran yang keras daripada kesopanan yang busuk. Aku memilih menjadi jujur meski tidak disukai, karena keindahan tidak lahir dari persetujuan, tetapi dari ketegangan. Seperti senar yang ditarik sampai nyaris putus, di situlah suara muncul. Terlalu longgar, dan yang ada hanya sunyi.
Aku indah karena aku sanggup menatap diriku sendiri tanpa mitos penghiburan. Aku tahu ada sisi gelap, ada dorongan rendah, ada kesombongan yang kadang menyeringai. Aku tidak menutupinya dengan doa-doa yang tergesa atau filsafat yang sok murni. Aku mengakuinya, lalu mendisiplinkannya. Bukan untuk memusnahkan naluri, tetapi untuk mengarahkannya. Keindahan bukan ketiadaan chaos, melainkan kemampuan menari di atasnya.
Aku indah karena aku tidak hidup demi akhirat imajiner yang membatalkan hidup kini. Aku setia pada bumi, pada tubuh, pada napas yang sedang terjadi. Aku mencintai hidup ini cukup dalam untuk menanggung beratnya tanpa perlu melarikan diri ke penghiburan metafisik yang murah. Jika ada makna, ia harus sanggup berjalan di siang hari, berkeringat, tersandung, dan tetap berkata ya.
Aku indah karena aku memilih diriku berulang kali. Bukan diriku yang nyaman, tapi diriku yang menuntut. Aku berkata ya pada proses menjadi, bukan pada identitas beku. Aku tidak memeluk siapa aku kemarin sebagai berhala. Aku membiarkannya mati jika perlu. Dari kematian itulah sesuatu yang lebih keras, lebih jujur, dan lebih hidup lahir. Dan akhirnya, aku indah bukan karena aku sempurna, tetapi karena aku selesai meminta maaf atas keberadaanku. Aku ada, dan itu cukup. Aku menjadi, dan itu indah.


Komentar
Posting Komentar