Mengapa aku lebih lihai dari Nietszche?
Aku bertanya pada waktu kapan aku bisa mendapatkanmu, dan waktu tertawa kecil, seperti filsuf tua yang tahu pertanyaan itu keliru tapi terlalu sopan untuk membetulkan. Mendapatkan. Kata yang buruk. Seolah-olah kamu barang, seolah-olah hidup ini pasar. Tapi aku tetap memakainya, karena bahasa selalu kalah dari keinginan. Aku tidak ingin memamerkanmu di instastory. Itu ibadah paling miskin zaman ini. Orang-orang berdoa kepada kamera agar cintanya sah. Aku muak. Aku tidak ingin cintaku disahkan. Aku ingin ia cukup kuat untuk bertahan tanpa saksi.
Aku ingin alasan untuk hidup lebih lama bersamamu. Jangan salah paham. Aku tidak berkata hidup menjadi indah. Hidup tidak butuh indah. Hidup butuh alasan. Nietzsche benar, manusia sanggup menanggung hampir semua penderitaan jika ia tahu untuk apa. Bersamamu mungkin penderitaan tetap ada, tapi setidaknya ia tidak bodoh. Ia punya alamat. Ia tahu ke mana harus mengetuk. Aku curiga pada orang-orang yang berkata mereka hidup tanpa alasan. Itu omong kosong romantik. Bahkan nihilisme pun punya alasan: kebencian pada kepalsuan. Aku tidak lebih suci dari mereka. Aku hanya lebih jujur. Aku ingin hidup karena kamu, dan itu terdengar memalukan bagi para moralis. Biarlah. Moralitas selalu cemburu pada vitalitas.
Jika dunia tidak mengizinkan kita bersama, jangan bayangkan aku meratap. Aku bukan penyair yang hidup dari kegagalan cinta. Aku hanya akan menepi. Bergulir perlahan di tepian pantai, menjadi tubuh yang keluar dari perhitungan. Mengubur diri diam-diam bukan tragedi, itu penolakan. Penolakan terhadap dunia yang terlalu yakin pada rumusnya sendiri. Jika pelangi bermekaran tanpaku, biarlah. Pelangi tidak butuh aku. Aku hanya butuh kejujuran. Aku menyebut diriku skeptis, tapi jangan bayangkan aku pintar. Kepintaran adalah penyakit yang disukai universitas. Aku hanya tidak mudah percaya. Terutama pada orang-orang yang mengaku bijaksana. Siapa yang berhak menyebut dirinya bijak sebelum ia mencintai dan gagal mencintai? Sebelum tubuhnya gemetar karena kehilangan dan kepalanya tetap memaksa berpikir? Kebijaksanaan tanpa cinta hanyalah kebersihan intelektual. Rapi, dingin, tidak hidup.
Aku mencintaimu, dan kalimat itu sendiri mencurigakan. Terlalu besar, terlalu sering dipakai. Tapi justru karena itu aku memakainya. Seperti Nietzsche memakai palu, bukan untuk menghancurkan segalanya, tapi untuk mengetuk. Untuk mendengar mana yang kosong. Cintaku padamu bukan jawaban. Ia pertanyaan yang tidak mau diam. Mengapa aku sangat mencintaimu? Pertanyaan itu menyeretku ke wilayah yang tidak nyaman. Wilayah yang sama ketika manusia berbicara tentang Tuhan. Sesuatu yang tidak bisa dibuktikan, tapi terlalu nyata untuk diabaikan. Aku tidak berkata kamu adalah Tuhan. Jangan sok mistik. Aku hanya tahu bahwa keberadaanmu bekerja dengan cara yang sama: tidak rasional, tidak tunduk pada logika, tapi mengubah orientasi hidup.
Tuhan, cinta, makna. Tiga kata yang membuat filsuf gugup dan orang saleh sok tenang. Aku tidak tenang. Aku juga tidak ingin diselamatkan. Aku hanya ingin jujur sampai akhir. Jika mencintaimu adalah bentuk iman, maka imanku tidak murni. Ia penuh keraguan, penuh tawar-menawar, penuh kemungkinan gagal. Justru itu yang membuatnya hidup. Aku tidak meminta kepastian darimu. Kepastian adalah candu orang lemah. Aku hanya ingin keberanian untuk tetap tinggal di dunia ini sedikit lebih lama, sambil tahu bahwa di suatu sudut realitas, ada kamu. Dan entah mengapa, itu cukup.


Komentar
Posting Komentar