Perak dan Perunggu

Aku suka kamu.

Suka dengan cara yang sederhana tapi ribut di dalam kepala.

Bukan yang teriak-teriak, tapi yang bikin diam jadi tidak tenang.

Masalahnya, aku merasa kamu tidak pernah benar-benar melihatku ke arah yang sama.

Seperti aku berdiri di pinggir jalan, melambaikan tangan,

sementara kamu sibuk menatap lampu kota di belakangku.

Aku tidak menuduh.

Aku cuma membaca tanda-tanda kecil yang mungkin cuma nyata di pikiranku sendiri.

Cara kamu menjawab seperlunya.

Cara kamu hadir tapi tidak tinggal.

Aku ini pesimis, iya.

Bukan karena aku membenci harapan,

tapi karena terlalu sering berharap sendirian.

Aku suka kamu,

tapi aku juga tahu rasanya menyukai seseorang

yang mungkin tidak pernah menaruhku dalam daftar yang sama.

Dan anehnya,

aku tidak marah.

Aku cuma sedikit lelah.

Menyukai kamu itu seperti menaruh kursi di depan laut,

lalu duduk berjam-jam,

menunggu ombak yang tidak pernah benar-benar menuju kakiku.

Aku tidak ingin memaksa kamu untuk merasa apa pun.

Aku cuma ingin jujur pada diriku sendiri:

bahwa perasaan ini ada,

dan mungkin memang harus hidup tanpa balasan.

Aku suka kamu.

Dan mungkin,

itu saja yang akan pernah jadi milikku darimu.

Komentar

Postingan Populer