Seputar mati rasa
Tulisan ini sebenarnya tidak ada sangkut pautnya dengan keberadaanku sekarang. Kata “mati rasa” membekas ketika aku dan kawanku sedang menerabas hujan dengan motor. Ia menceritakan tentang dirinya yang baru putus dan merasakan mati rasa. Dari cerita itulah ini tercipta. Dari seseorang yang merasa mati rasa padahal dia masih hidup. Dari seseorang yang katanya tidak bisa jatuh cinta lagi, padahal masih ada hari esok dan orang-orang baru yang cepat atau lambat akan menggantikan posisi mantannya sekarang. Dan mari kita mulai.
Mati rasa adalah sesuatu yang selalu diucapkan ketika seseorang belum bisa melihat masa depan setelah mendapatkan kenangan buruk, dan dalam hal ini yang dimaksud adalah romantika. Unik jika kita menelaah kata “mati rasa”, kata yang biasanya digunakan oleh medis untuk menyatakan adanya gangguan saraf perifer (neuropati). Dan mungkin itu adalah hal yang masuk akal untuk kita mengerti tentang apa itu mati rasa. Tapi romansa berkata lain. Ia juga mempunyai definisi mati rasa yang agak unik. Biasanya, dalam kandasnya hubungan antara dua insan, seseorang akan susah meninggalkan kenangan yang telah terjalin, dan di situlah biasanya mati rasa bersarang menjadi hantu yang menemani seseorang itu.
Mati rasa menjadi hal yang selalu diperbincangkan ketika seseorang merasakan kesedihan dan belum siap melangkah maju. Lalu, apakah itu salah? Tentu tidak. Ia menjadi salah ketika kita memvonis diri kita akan begitu selamanya. Sejujurnya, mati rasa adalah keadaan ketika kita tidak ingin bergerak. Ia menjadi kemalasan dan perasaan bahwa orang yang berada dalam masa lalu kita adalah orang yang benar. Tapi mari kita lihat: jika memang orang di masa lalu itu adalah orang yang benar, mengapa kalian berpisah? Banyak yang akan mengatakan bahwa komunikasi yang tidak lancar, emosi yang meledak-ledak, dan justru di situlah terlihat bahwa kalian tidak cocok. Jika memang dia yang di masa lalu itu benar, mengapa kalian tidak saling memahami? Kadang paradoks-paradoks menyakitkan selalu kita hindari demi keberlangsungan hubungan, dan itu justru menjadi racun bagi hubungan yang terbangun.
Hubungan harus dibangun dengan sadar. Maksudnya sadar di sini adalah tentang bagaimana kamu dan pasangan menjadi sesuatu yang saling melengkapi, bukan saling memaklumi. Untuk menjadi manusia unggul (Übermensch), kalian harus menciptakan sesuatu yang melampaui, dan dalam konteks ini adalah persoalan hubungan. Pertanyaannya pasti akan berlabuh pada: bagaimana bisa menjadi manusia unggul dalam dimensi hubungan? Bagaimana bisa kita melampaui? Bagaimana bisa kita melengkapi tanpa mengetahui kelemahan? Pertanyaan-pertanyaan itu sangat menusuk bagi argumentasi di atas. Tapi jika pertanyaan itu saya balikkan: mengapa setiap keputusan yang terjadi dalam hubungan mayoritas dari kita menggunakan perasaan, dan tidak menggunakan rasio? Menjadi unggul dalam hubungan bukanlah tentang bagaimana kamu harus menjadi sesuatu sebagaimana hati ingini, tetapi tentang menempatkan rasio dan perasaan secara setara.
Mati rasa dapat kita lewati. Mungkin terdengar naif. Tapi memang begitu adanya. Kita tidak suka jika tidak ada kepastian ketika melangkah, hingga kita menyebutnya naif. Tapi bagaimana kita bisa tahu bahwa itu naif jika kita tidak pernah melangkah? Mati rasa adalah ketiadaan dirimu dalam melihat sekitar. Kamu berusaha menjadi poros bagi bumi, padahal dalam realitas kamu hanyalah serpihan kecil dari bumi yang ikut bekerja. Jadi jangan merasa dirimu akan mati besok. Mengapa kita tidak berpikir bahwa besok justru akan jauh lebih menyakitkan untuk kita hadapi, dan mau tidak mau itu harus kita hidupi?
Mati rasa adalah vonis bagi diri sendiri. Ia adalah sistem untuk bertahan, dan bertahan belum tentu baik untuk dilalui. Dunia tidak memerlukan kita hanya bertahan; ia memerlukan ketidaksiapan kita dalam melangkah. Dan ketidaksiapan itu harus dipaksa menjadi siap walau kita tidak siap. Bumi akan terus berputar, tidak peduli pada kamu yang sedang menderita dengan mati rasamu yang kamu agung-agungkan. Hanya kamu, dengan kesadaranmu, yang harus tahu bahwa mati rasa bukan sesuatu yang perlu dirawat. Jika memang dia sudah mati, ya sudah, tinggalkan.
Dalam coretan ini, aku sedikit menghina konsep mati rasa yang tidak bisa dijadikan peluru untuk menuntut perubahan dari dalam. Mati rasa justru bisa menjadi momentum baik untuk mengubah dirimu dan melampaui dirimu yang terpuruk karena cinta. Menertawakan sesuatu yang seharusnya bisa kamu tertawakan adalah hal yang mahal, dan itu harus kamu punya. Dan ingat, mati rasa bukan penghargaan dunia untukmu. Ia adalah bagian dari ketidakmauanmu untuk melangkah, dan itu sangat menyedihkan bagi siapa pun yang ingin melampaui.
Komentar
Posting Komentar