Tusukan Zarathustra yang Baru

Tusukan Zarathustra yang Baru

"Jika kelak aku mati, biarlah naskah yang belum selesai menjadi buah bibir para orang gila di pinggir ibu kota. Bahkan aku tak percaya aku akan mati dan membusuk di tanah yang sama yang sering kuinjak. Apakah imanku akan ditanyakan? Jika memang itu dipertanyakan nanti, aku akan jawab bahwa tak semua tentang perbuatan baik. Perbuatan baik adalah ketidaksengajaanku sebagai manusia, sisanya hanya kehendak bebasku dengan caraku untuk hidup. Bahkan, kematian tidak menakutkan. Ada yang lebih parah dan menakutkan daripada kematian: ketidakberanian mengungkapkan. Aku rasa aku sudah mati di situ. Aku mati dan aku berjalan. Jika nanti ada sesuatu yang memberitahumu tentang bumi yang kususun, dia akan memberitahumu bahwa bumi ini kuciptakan karena kesalahpahaman.

Baik, buruk, indah, jelek, pintar, bodoh adalah nilai yang sama yang kubuat. Tujuannya hanya satu: agar tak ada kelas yang merendahkan orang lain. Aku ingin mati dengan ketidakberdayaan pikiranku. Aku ingin mengungkap misteri terbesar yang dunia ini punya. Apakah aku harus bersekutu dengan Mephistopheles agar aku mengetahui jejak yang belum pernah kulewati? Namun, untuk apa? Aku ingin menyelam di Sungai Nil. Menghujat dewa penjaga gerbang yang sibuk menimbang hati dan bulu angsa milik dewa tertingginya. Aku suka dunia yang sakit. Dunia yang menjadikan ketidakberaturanku aneh. Nietzsche sudah mati. Dia tidak berhasil membuktikan Tuhan yang mati. Dia filsuf gagal yang besar omon. Dia tidak bisa membuktikan kemujaraban mantranya. Dan kini, Tuhan kapital menguasai segalanya. Dia menjadi harapan. Dan kesalahan terbesar lainnya adalah kita yang menaruh harapan ke dirinya.

Aku ingin hidup satu miliar tahun lagi bersama perempuan yang kucinta. Yang kucinta secara tidak sistematis dan yang kucinta secara tidak adil. Aku ingin menguasainya dengan kebebasan. Mempersembahkan satu gulungan kuno yang berisikan bisikan Dewi Eros. Lagu-lagu abad pertengahan tak bisa membendung ini semua. Nadanya sangat kuno. Tak layak didengar! Mati itu manusiawi. Menghujat pun sama. Konsekuensi terberatnya adalah ketika idolamu mati dan ambisimu untuk mencinta hilang.

Mati... mati... matilah... matilah sebagai jiwa dan jangan tubuh!"

(Demikian sabda Zarathustra di zaman yang serba berubah ini.)

Komentar

Postingan Populer