Bukan Soal Dupanya


Setiap Imlek datang, timeline rame. Ada yang upload barongsai, ada yang pamer angpao, dan ada juga yang mulai debat teologis dadakan soal… dupa. Satu batang kecil, asap tipis, tapi bisa bikin grup WhatsApp gereja panas. Pertanyaannya biasanya simpel: orang Kristen boleh tidak pegang dupa waktu Imlek? Yang menarik, sering kali yang dipersoalkan bukan dupanya, tapi identitas. Takut dianggap menyembah allah lain. Takut dibilang kompromi. Takut iman jadi cair. Di sisi lain, ada juga ketakutan lain: dianggap tidak menghargai orang tua, memutus tradisi keluarga, atau merasa lebih suci dari yang lain.

Kalau kita mau jujur dan tenang sebentar, dupa itu benda. Kayu kecil yang dibakar. Dalam Alkitab sendiri, dupa bukan barang haram. Dalam tradisi Israel, dupa dipakai dalam ibadah sebagai simbol doa yang naik kepada Tuhan. Jadi secara material, tidak ada yang magis dari dupanya. Yang membuatnya “berat” adalah makna yang dilekatkan padanya. Di sinilah masalahnya jadi rumit. Dalam konteks Imlek, membakar dupa sering dipahami sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur. Tapi bagi sebagian orang Kristen, tindakan itu terlihat seperti ritual religius di luar iman Kristen. Jadi yang diperdebatkan bukan fisiknya, tapi interpretasinya.

Secara teologis, kita perlu bedakan antara tindakan dan makna. Tindakan yang sama bisa punya makna berbeda tergantung konteks dan niat. Misalnya, berlutut. Dalam gereja, itu tanda penyembahan. Tapi di tempat lain, bisa jadi tanda hormat biasa. Jadi pertanyaannya bukan sekadar “apa yang kamu lakukan?”, tapi “apa arti tindakan itu bagimu dan bagi komunitasmu?” Kalau seseorang memegang dupa dengan keyakinan bahwa ia sedang meminta berkat atau perlindungan dari roh leluhur, jelas itu bertabrakan dengan pengakuan iman Kristen tentang Allah sebagai satu-satunya sumber hidup dan berkat. Itu bukan soal budaya lagi, tapi soal pusat penyembahan.

Tapi kalau seseorang memegang dupa sebagai bentuk hormat budaya kepada orang tua dan leluhur, tanpa memindahkan kepercayaannya kepada Tuhan, situasinya lebih kompleks. Tidak bisa langsung diberi cap sinkretisme. Di sini dibutuhkan kejujuran batin. Apa yang sebenarnya terjadi dalam hati? Yang sering jadi masalah justru bukan tindakan orangnya, tapi cara kita menilai. Kita gampang sekali mengukur iman orang lain dari simbol yang kelihatan. Seolah-olah kesetiaan bisa dipotret dari satu momen ritual. Padahal iman jauh lebih dalam dari itu.

Namun jangan juga terlalu santai. Mengatakan “ah, itu cuma budaya” tanpa refleksi juga berbahaya. Budaya dan agama sering bercampur. Tidak semua simbol netral. Kalau kita tidak pernah bertanya maknanya, kita bisa terseret tanpa sadar. Dalam sejarah gereja, soal relasi antara iman dan budaya memang selalu rumit. Gereja tidak pernah hidup di ruang kosong. Ia selalu hadir dalam budaya tertentu. Pertanyaannya bukan bagaimana jadi steril dari budaya, tapi bagaimana tetap setia di dalam budaya.

Jadi ketegangannya sebenarnya wajar. Itu tanda bahwa iman sedang bekerja. Iman yang hidup memang harus berpikir, bukan sekadar ikut arus, entah arus keluarga atau arus gereja. Mungkin pertanyaan yang lebih jujur bukan “boleh atau tidak?”, tapi “apakah tindakan ini menggeser pusat imanku?” Kalau pusat itu tetap pada Tuhan, dan aku sadar penuh apa yang kulakukan, maka aku bertanggung jawab atas pilihanku. Tapi kalau aku melakukannya hanya karena tekanan sosial, tanpa refleksi, itu juga problem.

Yang juga perlu dikritik adalah kecenderungan menjadikan isu ini ukuran utama kerohanian. Seolah-olah iman diringkas menjadi soal pegang atau tidak pegang dupa. Padahal kejujuran, keadilan, kasih, dan integritas hidup sehari-hari sering kali jauh lebih menentukan, tapi jarang diperdebatkan sepanas ini. Pada akhirnya, memegang atau tidak memegang dupa di Imlek bukan perkara sepele, tapi juga bukan pusat segalanya. Ini soal bagaimana orang Kristen hidup di tengah budaya tanpa kehilangan arah. Bukan jadi eksklusif yang terasing, tapi juga bukan larut tanpa batas.

Kalau ada yang memilih tidak memegang dupa demi menjaga hati nuraninya, itu perlu dihormati. Kalau ada yang memilih memegang dengan kesadaran iman yang jelas, itu juga perlu dipahami, bukan langsung dihakimi. Karena pada akhirnya, yang diuji bukan kekuatan asapnya, tapi kedalaman iman kita sendiri. Jadi alih-alih mencari jawaban yang membuat semua orang nyaman, mungkin yang lebih jujur adalah mengakui bahwa setiap pilihan di sini membawa risiko. Risiko disalahpahami. Risiko dikritik. Risiko dianggap terlalu keras atau terlalu longgar. Dan justru di dalam risiko itulah keseriusan iman diuji, bukan oleh asap yang naik, tetapi oleh keberanian untuk berpikir dan bertanggung jawab atas pilihan sendiri.

“Kesetiaan iman tidak diukur dari apa yang ada di tanganmu, tetapi dari siapa yang tetap menjadi pusat hidupmu.”

Komentar

Postingan Populer