Bumi sebagai wanita jalang: sebuah refleksi aneh ekofeminisme

Sewaktu saya dengan kawan saya sedang berjalan di toko buku, kami berdiskusi canda tentang ekofeminisme (karena dia sedang membuat skripsi tentang itu). Saya teringat dengan salah satu argumen dari ekofeminisme yang cukup terkenal dan yang sering saya dengar, yakni "bumi sebagai ibu" berlandaskan pengetahuan yang dangkal itu saya bertanya kepada kawan saya tentang "bagaimana seseorang yang tidak mempunyai ibu bisa relevan dengan argumentasi itu?" Tentu dia tertawa mendengar pertanyaan saya, dan tentu saya tidak keberatan dengan itu. Singkatnya dia menjelaskan tentang itu semua, namun saya tidak cukup sampai penjelasan itu saja. Saya mulai mencari satu kata nyeleneh untuk mengkritik atau mencocokan pikiran saya dengan argumentasi tersebut, dan yang cocok adalah: bumi sebagai wanita jalang. 

Tentu, argumentasi tentang bumi sebagai wanita jalang terdengar seperti metafora yang sengaja dibuat tidak sopan (ya, karena ini asbun sebenarnya. Namun saya berani bertanggungjawab atas keasbunan saya). Dan mungkin memang harus seperti itu, supaya kita berhenti memperlakukan bumi sebagai sesuatu yang suci hanya dalam dimensi kata-kata, tetapi diperlakukan sebagai barang murah dalam praktik. Tentu saya menyadari bahwa metafora ini tidak nyaman, tapi justru di situlah nilainya: ia memaksa kita melihat relasi manusia dengan bumi tanpa ada "kosmetik" moral. Sebelumnya mari kita curiga dulu. Kenapa harus "wanita jalang"? Istilah ini tentu membawa beban sejarah: tubuh perempuan yang dieksploitasi, dihakimi, sekaligus diinginkan. Dalam logika patriarki, perempuan sering diposisikan sebagai objek yang bisa digunakan, lalu disalahkan karena telah "digunakan." Sekarang, pindahkan pola itu ke bumi. Kita mengeksploitasi tanah, air, dan hutan (udara juga tentu), lalu menyebutnya sebagai "sumber daya." Kita mengambil tanpa batas, lalu menyalahkan bumi ketika terjadi bencana. Polanya mirip, dan itu bukan kebetulan. 

Ekofeminisme sudah lama menunjukkan bahwa penindasan terhadap perempuan dan eksploitasi terhadap alam sering berakar pada cara berpikir yang sama: dominasi, kontrol, dan reduksi   nilai menjadi sekadar fungsi saja. Bumi diperlakukan sebagai sesuatu yang ada untuk memenuhi kebutuhan manusia, sama seperti tubuh perempuan yang seringkali direduksi menjadi alat pemuas atau reproduksi. Jadi perlu diingat, bahwa metafora "wanita jalang' bukan sekadar provokasi murahan; ia membuka luka yang sebenarnya sudah lama ada. Namun, kita perlu hati-hati. Metafora ini bisa berbalik menjadi problematik jika tidak dikritisi. Menyebut bumi sebagai "wanita jalang" bisa tanpa sadar memperkuat stigma terhadap perempuan. Jadi pertanyaan yang perlu diajukan adalah bukan metafora ini benar atau salah, tetapi: apa yang sedang dibongkar oleh metafora ini, dan apa risikonya?

Secara teologis, tentu bumi tidak pernah digambarkan sebagai objek yang boleh dieksploitasi tanpa batas. Dalam banyak tradisi, bumi justru dilihat sebagai ciptaan yang memiliki martabat, bahkan sebagai sesuatu yang "hidup" dalam relasinya dengan Sang Pencipta (silah wawancara suku Baduy). Tetapi manusia, dengan kemampuan yang sok rasionalnya yang dikatakan membanggakan itu, sering mengubah relasi menjadi hak kepemilikan. Kita tidak lagi "tinggal" di bumi; kita "menguasai" bumi. Di sinilah metafora tadi mulai bekerja dengan cara yang mengusik lagi mengganggu. Jika bumi diperlakukan seperti "wanita jalang," maka bukan bumi yang bermasalah, melainkan cara kita memperlakukannya. istilah itu mencerminkan perspektif pelaku, bukan realitas objeknya. Bumi tidak menjadi jalang; justru kita yang menjadikannya demikian melalui cara kita berelasi dengannya.

Ekofeminis tentu menolak logika ini. Ia mengajak untuk melihat bumi bukan sebagai objek, tetapi sebagai subjek relasi. Bukan sesuatu yang "dipakai," tetapi sesuatu yang "dihidupi bersama." Ini bukan romantisasi alam yang naif, melainkan kritik terhadap cara berpikir yang memisahkan manusia dari alam, seolah-olah kita berdiri di luar dan di atasnya. Tentu, secara teologis, ini bisa dibaca sebagai kegagalan manusia memahami posisinya. Jika manusia diciptakan sebagai bagian dari ciptaan, maka dominasi absolut atas bumi adalah bentuk distrosi. Perlu diingat bahwa kita bukan sebagai penguasa yang berdiri di luar sistem, tetapi bagian dari jaringan kehidupan yang saling bergantung. Menghancurkan bumi berarti, dengan cara yang cukup ironis, menghancurkan diri kita sendiri. 

Namun tentu saja, manusia punya bakat luar biasa untuk mengabaikan ironi seperti itu. Metafora "wanita jalang" juga mengungkap sesuatu yang lebih dalam: hubungan yang tidak setara selalu menghasilkan kekerasan. Dalam relasi yang timpang ini, pihak yang lebih kuat cenderung mengambil tanpa mempertimbangkan keberlanjutannya. Dan tentu ini berlaku dalam relasi gender, dan juga dalam relasi manusia dengan alam. Jadi, persoalannya bukan hanya sekadar moral saja, tapi menajam ke dimensi struktural. Jika kita serius dengan gagasan bahwa Tuhan hadir dalam dan melalui ciptaan, maka eksploitasi terhadap bumi bukan sekadar masalah etika lingkungan, tetapi juga masalah spiritual. Bukan dalam arti mistis yang kabur (tentunya), tetapi dalam arti relasional: kita gagal menghormati keberadaan yang lain sebagai sesuatu yang bernilai pada dirinya sendiri.

Menariknya, metafora ini juga bisa dibalik. Jika bumi selama ini diperlakukan seperti "wanita jalang," maka pertanyaannya: apakah mungkin kita belajar melihatnya kembali sebagai sesuatu yang layak dihormati tanpa jatuh kedalam romantisasi kosong? artinya begini, bukan mengganti satu label dengan label yang lain, tetapi mengubah cara kita berelasi. Tentu mengingat saya adalah peziarah yang ugal-ugalan, maka peziarahan di sini bukan soal menemukan definisi yang tepat lagi absolut, melainkan mengubah cara hidup. Dari mengambil menjadi merawat, dari menguasai menjadi berelasi, dari merasa berhak menjadi belajar bertanggung jawab. Tidak terdengar spektakuler, memang. Tapi perubahan ini jarang datang dengan efek yang dramatis. Jadi mungkin masalahnya bukan pada metafora yang begitu kasar itu. Masalahnya mungkin adalah kenyataan bahwa metafora itu terasa masuk akal. Dan itu sedikit memalukan, kalau dipikir-pikir.  

Komentar

Postingan Populer