Reorientasi Praktik Puasa: Dari Askese Personal menuju Solidaritas Sosial

Sekarang, kami (orang kristen) sedang bersiap menyambut Paskah, dan yang menarik untuk dibahas adalah tentang bagaimana Kekristenan punya satu kebiasaan yang unik sekaligus perlu dipertanyakan. Setiap kami menjelang Paskah, biasanya kami berbondong-bondong masuk ke masa puasa atau pantangan (saya juga kurang yakin menyebutkannya) seolah-olah Tuhan menjadi garis finish yang harus segera disentuh sebelum waktu sudah habis. Empat puluh hari dijalani dengan disiplin-disiplin tertentu, doa yang ditingkatkan, konsumsi yang dikurangi, lalu semuanya diarahkan ke satu titik: Tuhan. Tentu itu terdengar amat (atau teramat) mulia. Tapi justru di situ pertanyaan yang menggelitik sekaligus mengganggu ada: kenapa kita terburu-buru sampai pada Tuhan, seakan-akan Dia adalah objek yang bisa "dicapai" dengan metode spiritual tertentu? Tentunya ada asumsi yang jarang di uji: bahwa puasa adalah jalan vertikal, dari manusia menuju Tuhan. Seolah-olah semakin kita menahan diri, semakin kita dekat dengan Yang biasa kita sebut Ilahi. Tapi kalau kita bongkar logika ini, ia jadi agak problematis. Apakah Tuhan memang sejauh itu sampai perlu didekati dengan teknik asketisme (katakanlah seperti itu)? Atau jangan-jangan kita yang sebenarnya menjauh dari realitas, lalu memakai ritual-ritual tertentu untuk merasa sedang mendekat?

Kalau puasa hanya dipahami sebagai latihan spiritual pribadi, ia berisisko menjadi pengalaman yang berdimensi egoistik. Ironis, karena dilakukan demi Tuhan, tetapi berputar di sekitar diri sendiri. "Aku berpuasa, aku berdoa, aku menahan diri." Bahkan kesalehan bisa berubah menjadi semacam pencapaian moral yang diam-diam dibanggakan. Dan di titik itu, puasa kehilangan daya kritisnya. Padahal kalau kita mau jujur, realitas yang paling dekat dengan kita bukanlah Tuhan yang abstrak, melainkan manusia lain yang lapar, rapuh, dan sering diabaikan. Tentu ini bukan sekadar retorika sosial. Ini soal arah kesadaran. Ketika seseorang menahan lapar selama puasa, ia sebenarnya sedang menyentuh sesuatu yang sangat konkret: rasa kekurangan. Tapi anehnya, pengalaman yang dirasa begitu nyata itu jarang sekali dibawa keluar dari dirinya. Ia kerap kali hanya berhenti sebagai "latihan rohani," bukan sebagai pintu masuk untuk memahami penderitaan orang lain.

Di sini, refleksi ini akan menjadi sedikit serius: apa gunanya menahan makan selama beberapa jam, kalau setelah itu kita kembali hidup dalam sistem yang membuat orang lain tidak bisa makan sama sekali? Puasa menjadi simulasi penderitaan, sementara kemiskinan adalah realitas yang tidak bisa diakhiri dengan bunyi lonceng gereja atau liturgi paskah. Tentu seorang skeptis mungkin akan berkata: jangan meromantisasi. Merasakan lapar selama beberapa jam tidak akan membuat kamu mengerti apa itu kelaparan struktural. Dan itu benar (jika ada yang mengatakan itu, maka saya akan mengatakan: oke kalo itu mau lo). Tapi mari kita lihat memang puasa tidak otomatis akan melahirkan empati. Bahkan sering kali justru sebaliknya: ia memberi ruang ilusi bahwa kita sudah "peduli," padahal yang kita lakukan hanya menahan diri sebentar tanpa konsekuensi nyata. Namun di sinilah kemungkinan radikalnya. Puasa bisa dibalik arahnya. Bukan lagi gerakan dari manusia menju Tuhan (vertikal), tetapi dari manusia menuju manusia lain (horizontal). Bukan hanya sekadar menahan diri, tetapi membuka diri terhadap realitas yang tidak nyaman. Dalam kerangka ini, puasa bukan soal "tidak makan," tapi soal "siapa yang tidak bisa makan." Dan ini akan menggeser fokusnya dari disiplin ke relasi.

Pendekatan ini sebenarnya tidak asing dalam tradisi iman. Teks Alkitab pernah mengkritik puasa yang hanya ritual tanpa keadilan. Dalam Kitab Yesaya 58, puasa yang dikehendaki Tuhan bukan hanya sekadar menundukkan kepada dan berpantang, tetapi membebaskan yang tertindas dan memberi makan bagi orang yang lapar. Artinya, barangkali sejak awal, puasa sudah punya dimensi sosial yang sering kita jinakkan menjadi sekadar praktik pribadi. Jika kita ingin menarik lebih jauh, maka puasa menjadi semacam gangguan terhadap kenyamanan hidup. Ia memaksa kita melihat bahwa kenyang yang kita anggap normal sebenarnya adalah privilese. Dan di titik itu pula, puasa berubah dari ritual menjadi kritik. Kritik terhadap diri sendiri, terhadap gaya hidup, bahkan terhadap sistem yang seringkali kita anggap wajar. 

Tapi, tentu saja, ada jebakan disini (untung sadar). Menjadikan puasa sebagai proyek humanisme semata juga bisa kehilangan dimensi teologisnya. Seolah-olah Tuhan tidak lagi relevan, dan yang penting hanya tindakan sosial. Ini juga reduksi. Karena iman Kristen tidak berhenti pada kemanusiaan, melainkan juga berbicara tentang relasi dengan yang Transenden. Dan yang lebih menarik justru bukan memilih satu, tetapi meruntuhkan dikotomi itu. Kalau Tuhan sungguh hadir, mungkin Ia tidak petama-tama ditemukan di puncak pengalaman spiritual, melainkan di celah-celah realitas yang paling tidak nyaman. Bukan di keberhasilan kita menahan lapar, tetapi di kegagalan kita mengabaikan yang lapar. Di titik ini, puasa menjadi semacam pertanyaan yang tak usai: apakah kita sungguh mencari Tuhan, atau hanya mencari perasaan religius saja? Apakah kita benar-benar mau melihat realitas, atau hanya ingin merasa lebih baik tentang diri sendiri? Mungkin masalahnya bukan kita terlalu jauh dari Tuhan, tetapi kita selalu cepat ingin sampai. Kita ingin makna tanpa proses, Tuhan tanpa dunia, spiritualitas tanpa gangguan. Padahal, bisa jadi justru di dalam gangguan itu, sesuatu yang lebih jujur sedang terjadi (siapa yang tahu).  Dan kalau itu memang benar, maka puasa yang paling sulit bukanlah menahan makan, tetapi menahan diri dari keinginan untuk segera merasa "dekat dengan Tuhan," sambil membiarkan diri terganggu oleh kenyataan bahwa di luar sana, ada orang yang bahkan tidak punya pilihan untuk tidak makan. 

Puasa sebagai Simfoni
Kalau mau sedikit jujur pada diri sendiri, keluhan kita selama puasa itu sebenarnya membuka sesuatu yang tidak nyaman: kita tidak tahan sedikit saja gangguan pada kenyamanan. Lapar beberapa jam saja sudah cukup untuk membuat kita sensitif, mudah tersinggung, bahkan diam-diam berharap waktu cepat berlalu. Lalu dengan santai kita menyebutnya "latihan rohani," tapi respons kita justru memperlihatkan betapa rapuhnya kita terhadap kekurangan (bingung, kan? sama). Di sini, puasa bisa mulai dibaca sebagai simfoni yang sumbang. Nada pertama adalah rasa lapar sendiri, yang kecil, sementar, dan masih bisa diakhiri kapan saja. Tapi nada berikutnya datang dari luar diri kita, dari mereka yang tidak punya kemewahan untuk "mengakhiri" lapar itu. Dan anehnya, kita sering hanya fokus pada nada pertama, seolah-olah itu sudah cukup disebut sebagai pengalaman spiritual. 

Padahal, kalau didengarkan dengan serius, simfoni ini justru menuntut kita keluar dari diri sendiri. Keluhan kita menjadi cermin yang memalukan: jika sedikit lapar saja sudah membuat kita gelisah, bagaimana dengan mereka yang hidup dalam kondisi itu setiap hari tanpa jeda? Tentu ini bukan soal membandingkan penderitaan secara moral, tetapi soal kejujuran yang berdimensi eksistensial. Kita tidak kuat, tapi kita hidup dalam sistem yang membuat kita tidak kuat. Maka puasa, kalau mau jujur, bukan panggung kesalehan, melainkan ruang pembongkaran ilusi. Ia memaksa kita mengakui bahwa kenyamanan kita bukanlah standar universal, melainkan pengecualian yang terlalu sering kita anggap normal. Dan mungkin, justru dari pengakuan yang agak memalukan itu, empati yang lebih konkret bisa mulai tumbuh, bukan sebagai idea, tetapi sebagai gangguan yang tidak lagi bisa diabaikan. 

Komentar

Postingan Populer