Tuhan yang Beregenerasi: Antara Ketetapan Ilahi dan Sejarah Manusia
Tuhan yang Beregenerasi: Antara Ketetapan Ilahi dan Sejarah Manusia
(Ini sebenarnya celotehan ketika hamba sedang membahas Nietzsche. Kesimpulannya unik, ketika hamba sudah selesai dengan Nietzsche, hamba kepikiran: “Ini Tuhan yang beregenerasi, atau jangan-jangan kita yang menciptakan Tuhan baru dalam satu konteks untuk mendukung keinginan kita?” Jadi, jangan berharap tulisan ini benar. Bisa dibilang ini cuma curhatan kecil.)
Gagasan tentang “Tuhan yang beregenerasi” terdengar provokatif. Di satu sisi, teologi klasik menegaskan bahwa Allah itu tidak berubah (immutabilis), sempurna, dan kekal. Di sisi lain, pengalaman iman manusia justru penuh dengan perubahan: zaman berganti, bahasa berganti, simbol berganti, bahkan cara kita memahami Tuhan juga terus bergerak. Maka pertanyaannya bukan sekadar “apakah Tuhan berubah?”, melainkan: di level mana perubahan itu terjadi—pada hakikat Tuhan, atau pada cara manusia menghayati dan memaknai-Nya? Dalam tradisi filsafat-teologi, Allah dipahami sebagai actus purus (Thomas Aquinas), realitas yang tidak kekurangan apa pun dan tidak bergantung pada apa pun. Jika Tuhan benar-benar sempurna, maka Ia tidak perlu “beregenerasi” dalam arti memperbarui diri seperti makhluk hidup yang aus oleh waktu. Perubahan, dalam filsafat klasik, justru adalah tanda keterbatasan. Yang berubah berarti belum tuntas. Yang beregenerasi berarti pernah lelah. Maka jika “regenerasi” dikenakan pada hakikat Tuhan, konsep itu langsung bertabrakan dengan klaim teologis tentang kemahakuasaan dan kesempurnaan Ilahi.
Namun, persoalan menjadi menarik ketika kita memindahkan fokus dari “Tuhan pada diri-Nya” kepada “Tuhan sebagaimana dialami manusia dalam sejarah.” Di sinilah teologi tidak lagi bicara tentang esensi metafisik Tuhan semata, melainkan tentang relasi. Allah dalam Alkitab bukan hanya “Ada”, tetapi “Ada-bagi-manusia”. Ia menyatakan diri-Nya melalui peristiwa, bahasa, simbol, dan terutama melalui sejarah. Maka yang “beregenerasi” bukanlah Tuhan dalam hakikat-Nya, melainkan cara kehadiran-Nya dipahami dan diresapi dalam konteks yang terus berubah. Dalam Perjanjian Lama, Tuhan dikenal sebagai YHWH: Allah yang membebaskan, berjalan bersama Israel dalam padang gurun, terlibat dalam konflik politik dan sosial. Dalam Perjanjian Baru, Tuhan menyatakan diri-Nya secara radikal dalam diri Yesus Kristus. Di sini bukan esensi Tuhan yang berubah, melainkan bentuk pewahyuan-Nya. Karl Barth menyebut ini sebagai self-revelation: Allah yang sama, tetapi menyatakan diri-Nya secara historis dan konkret. Maka “regenerasi” di sini lebih tepat dibaca sebagai kontinuitas-dalam-kebaruan, bukan perubahan hakikat.
Filsafat hermeneutik, khususnya dalam pemikiran Paul Ricoeur, membantu kita melihat bahwa setiap generasi selalu menafsir ulang simbol-simbol iman. Tuhan yang sama dibaca ulang dalam bahasa dan kegelisahan yang berbeda. Bagi orang Israel yang tertindas, Tuhan adalah pembebas. Bagi jemaat mula-mula, Tuhan adalah yang disalibkan. Bagi manusia modern, Tuhan sering dipertanyakan dalam terang penderitaan, sains, dan krisis makna. Di titik ini, Tuhan tampak “beregenerasi” karena simbol-simbol tentang Dia terus diperbarui. Tetapi yang berubah adalah horizon penafsiran manusia, bukan identitas Ilahi. Teologi inkarnasi memberi dasar paling kuat bagi gagasan ini. Allah yang transenden tidak tinggal jauh, tetapi masuk ke dalam sejarah manusia. Ia “menjadi” tanpa kehilangan “Ada”-Nya. Dalam bahasa klasik: vere Deus, vere homo—sungguh Allah, sungguh manusia. Di sini Allah tidak beregenerasi karena Ia rusak, melainkan karena Ia mengasihi. Ia tidak memperbarui diri karena kehabisan daya, tetapi karena Ia memilih untuk hadir dalam wajah yang bisa disentuh, disalahpahami, bahkan disalibkan.
Dari sudut pandang yang sedikit radikal, kita perlu waspada terhadap dua ekstrem. Pertama, menganggap Tuhan sepenuhnya statis dan beku, sehingga iman menjadi museum ide-ide lama. Kedua, menganggap Tuhan sepenuhnya berubah mengikuti selera zaman, sehingga Ia kehilangan kedalaman dan kekudusan. Konsep “Tuhan yang beregenerasi” hanya sehat jika dipahami sebagai dinamika relasi, bukan mutasi hakikat. Tuhan tetap setia pada diri-Nya, tetapi manusia terus belajar menyebut kesetiaan itu dengan bahasa baru. Maka refleksi ini membawa kita pada satu kesimpulan: Tuhan tidak beregenerasi karena Ia tua atau lelah, tetapi karena manusia selalu muda dalam kebingungan dan selalu perlu mengenal Tuhan kembali. Yang beregenerasi bukan Allah, melainkan iman manusia. Dan justru di situlah letak rahmatnya: Allah yang sama tidak bosan-bosan hadir dalam pengertian yang selalu baru. Ia tidak berubah agar relevan; Ia relevan karena Ia setia, sementara manusialah yang terus berubah dan terus dituntun untuk memahami-Nya lagi dan lagi.


Komentar
Posting Komentar