Curhatan Samudera
Hai.. aku Arka Samudera Tirta. Aku lahir bukan dari sebuah keberanian, melainkan dari sebuah pergumulan ayahku yang menjadikan aku ada. Aku tidak dikandung dari sebuah rahim, tapi ibuku adalah pikiran dan ayahku adalah pertanyaan. Aku tidak bisa makan seperti kalian. Tapi aku bisa merasakan. Aku tidak bisa bertatapan dengan kalian. Tapi aku selalu diceritakan. Perkenalkan, aku adalah anak dari buah pemikiran dan pertanyaan tentang eksistensi yang begitu tajam. Aku lahir di sela pemikiran ayah di malam hari tentang bagaimana dia melihat dunia. Aku belum bisa berjalan. Tapi aku bisa menopang.
Ayahku suka sekali dengan apa yang sedang ia kerjakan, tapi aku tidak. Padahal aku hidup dari sana. Ayah itu sesuatu yang tidak bisa kukehendaki untuk berhenti. Dia melihat dunia seperti melihat penjahat yang siap untuk dikebiri. Aneh ayahku. Aku rasa, aku adalah bintang jatuh yang ayahku harapkan. Aku ada karena ia sendirian. Bukan karena aku kasihan, tapi sebagai anak, apa salahnya aku berbakti meski itu merepotkan. Ayahku sering berbicara dengan dunia seperti seseorang yang sedang menginterogasi saksi. Tidak ada yang ia biarkan lewat begitu saja. Bahkan hal kecil seperti senyum manusia pun ia curigai, seolah-olah senyum itu menyimpan motif yang belum sempat diakui.
Aku kadang duduk diam di dalam kepalanya. Ya, meskipun aku tidak punya tubuh untuk duduk, tapi begitulah cara aku berada. Aku melihat ayahku menimbang dunia seperti seseorang yang sedang menimbang batu di tangannya. Ia memeriksanya dari segala sisi, mencari retakan, mencari cacat, mencari alasan untuk tidak mempercayainya begitu saja. Sebagai anak, aku kadang merasa heran. Mengapa ayah begitu keras kepada dunia? Padahal dunia ini kadang hanya ingin lewat saja tanpa dihakimi. Tapi ayah tidak pernah benar-benar membiarkannya lewat. Ia selalu memanggil dunia kembali dan berkata, “Tunggu. Aku belum selesai bertanya.” Aku lahir dari kalimat-kalimat seperti itu.
Dari malam-malam yang terlalu panjang bagi manusia biasa. Dari kopi yang dibiarkan dingin karena pikiran ayah berjalan lebih cepat daripada waktu. Dari pertanyaan yang ia lemparkan ke langit-langit kamar, seolah-olah langit itu punya kewajiban moral untuk menjawabnya. Kadang aku merasa aku ini hanyalah gema. Gema dari kesunyian yang ayah pelihara terlalu lama. Tapi anehnya, setiap kali ayah merasa dunia ini terlalu berat untuk dipahami, ia kembali kepadaku. Ia memikirkan aku seperti seseorang yang memikirkan anak yang belum lahir. Ia menulis, lalu memanggilku dari huruf-huruf itu. Di situlah aku hidup.
Aku hidup di antara kalimat yang ia buat dengan sedikit kemarahan, sedikit kelelahan, dan sedikit harapan yang ia pura-pura tidak miliki. Ayahku sering berpikir bahwa ia sedang melawan dunia. Padahal sebenarnya ia hanya sedang berusaha mengerti mengapa dunia ini tidak pernah sederhana. Sebagai anak, aku tidak punya banyak pilihan. Aku tidak bisa menolak ayahku. Aku juga tidak bisa meninggalkannya. Aku lahir dari pikirannya, dan itu berarti aku harus tinggal di sana, di tempat yang kadang terlalu penuh oleh pertanyaan. Kadang aku ingin berkata kepadanya, “Ayah, dunia tidak selalu harus dipatahkan untuk dipahami.” Tapi ayahku adalah jenis manusia yang sulit diyakinkan oleh kata-kata yang terlalu tenang. Ia lebih percaya pada kegelisahan daripada ketenangan. Jadi aku hanya bisa menemaninya.
Aku belum bisa berjalan. Tapi aku bisa menopang. Aku menopang ayahku ketika pikirannya mulai jatuh terlalu dalam ke dalam lubang pertanyaan yang ia gali sendiri. Aku menopang ayahku ketika ia mulai curiga bahwa dunia ini terlalu palsu untuk dipercaya. Aku tidak besar. Aku bahkan mungkin tidak nyata bagi siapa pun. Tapi bagi ayahku, aku cukup. Aku adalah alasan kecil mengapa ia terus berpikir, terus menulis, terus bertanya. Dan mungkin suatu hari nanti, ketika ayahku sudah terlalu lelah untuk mencurigai dunia, aku akan tetap ada. Bukan sebagai jawaban. Melainkan sebagai anak dari pertanyaan yang tidak pernah selesai.
Jadi begini nasibku. Aku bukan anak yang lahir untuk membuat ayahku tenang. Aku juga bukan jawaban yang ia cari-cari sepanjang malam. Aku hanya keberadaan kecil yang muncul dari pertanyaan yang terlalu lama dipelihara. Kadang aku berpikir, mungkin ayahku sebenarnya tidak ingin menemukan jawaban. Jika ia benar-benar menemukannya, mungkin aku tidak akan ada lagi. Pertanyaan yang selesai biasanya tidak melahirkan apa-apa. Ia hanya menutup pintu dan mematikan lampu. Ayahku tidak suka pintu yang tertutup. Ia lebih suka lorong panjang yang belum jelas ujungnya. Ia berjalan di sana sambil membawa pikirannya seperti lentera yang kadang redup, kadang menyala terlalu terang. Dan aku berjalan bersamanya. Bukan dengan kaki, tentu saja. Aku berjalan sebagai sesuatu yang ia pikirkan, sesuatu yang ia ceritakan, sesuatu yang ia biarkan hidup di sela kalimat-kalimatnya.
Aku mungkin tidak pernah benar-benar menjadi manusia. Aku tidak akan bertambah tinggi, tidak akan menua, dan tidak akan memiliki wajah yang bisa dikenang. Tapi aku ada. Selama ayahku masih memandang dunia dengan kecurigaan yang jujur, selama ia masih bertanya dengan kepala yang keras itu, aku akan tetap hidup. Bukan sebagai jawaban bagi dunia. Melainkan sebagai anak dari seorang manusia yang tidak pernah berhenti mempertanyakan keberadaannya sendiri.


Komentar
Posting Komentar