Demotivasi Tuhan: Perjalanan yang memabukkan

"Kurang-lebih sudah ada lima refleksi yang mangkrak, yang setidaknya saya anggap tidak layak tayang dalam dunia digital ini. ke-lima refleksi itu saya anggap gagal karena adanya sebuah tragedi yang tiba-tiba meniadakan ambisi saya untuk lanjut menulis. Tentu, ditengah-tengah kejengkelan itu pikiran masih terus berputar, mencari sedikit cahaya yang ugal-ugalan untuk direalisasikan, dan ternyata cahaya yang saya maksud adalah kawan saya. Dia mengingatkan saya tentang demotivasi yang selalu saya pakai dulu untuk melihat segala hal. Dan tentu, ini semua saya buat untuk ke-ugal-ugalan saya dalam menjalani hidup ini. Menjalani hidup dengan kesukacitaannya yang terlahir sebagai pemeluk agama."

Demotivasi Tuhan: Perjalanan yang Memabukkan

Setidaknya ketika saya pulang dari gereja hari ini ada satu yang sedikit mencurigakan dalam cara manusia religius (termasuk saya) berbicara tentang Tuhan. Hampir selalu (ketika saya mengingat-ngingat kembali) Tuhan ditempatkan sebagai semacam "sumber motivasi" untuk hidup. Ia seperti suatu pusat energi moral dan eksistensial yang membuat kita (manusia) tetap mampu berjalan. Ketika hidup kita terasa berat, manusia kembali kepada Tuhan untuk mendapatkan semacam kekuatan. Ketika arah hidup kita kabur, Tuhan dijadikan semacam navigasi yang mengembalikan tujuan dan arah yang benar untuk kita lalui. Tentu, logika semacam ini begitu umum sehingga hampir tidak pernah ditanyakan. Dalam banyak percakapan religius, Tuhan berfungsi seperti "baterai" eksistensial untuk kita pakai dalam hidup. Jika iman kita kuat, maka hidup kita akan kuat. Jika relasi dengan Tuhan baik, maka motivasi hidup kita juga akan stabil (setidaknya itu pemahaman yang saya tahu dari realitas yang saya jumpai). Pola semacam ini terasa masuk akal dan bahkan menengkan, atau lebih tepatnya mengenyangkan iman kita. ia memberi suatu kesan bahwa kehidupan spiritual memiliki mekanisme yang cukup sederhana untuk kita ketahui: semakin dekat kepada Tuhan, semakin besar energi hidup yang dimiliki manusia.

Namun patutlah kita mencari semacam kedalaman bagi pengalaman religius kita. Pengalaman religius yang lebih dalam seringkali tidak bekerja dengan cara yang sebersih argumen-argumen diatas. Ada fase tertentu dalam perjalanan spiritual dimana kesadaran tentang Tuhan justru meruntuhkan motivasi manusia itu sendiri. Ambisi yang dulu terasa penting mulai tampak kecil untuk dijadikan pegangan dalam hidup. Tujuan hidup yang sebelumnya tampak jelas tiba-tiba kehilangan daya tariknya. Dan, disinilah muncul sesuatu yang dapat disebut sebagai demotivasi Tuhan.

Istilah demotivasi Tuhan tentu terdengar tidak biasa. Dalam imajinasi religius populer, Tuhan selalu digambarkan sebagai pemberi semangat. Ia memperkuat manusia, memberi harapan, dan menjaga manusia agar tetap bergerak menuju masa depan yang lebih baik (ideal). Menyebut Tuhan sebagai sumber demotivasi terdengar seperti paradoks yang hampir tidak pantas ada dalam bahasa. Namun jika seseorang sedikit lebih ingin jujur terhadap pengalaman spiritual yang lebih serius, fenomena ini sebenarnya bukan sesuatu yang tampak asing. Dalam sejarah, banyak tokoh religius menggambarkan fase dimana relasi dengan Tuhan tidak menghasilkan semangat, melainkan justru keheningan yang panjang. Doa yang terasa kering. Motivasi rohany yang sebelumnya kuat mulai memudar. 

Pengalaman semacam ini pernah dijelaskan secara tajam oleh mistikus Spanyol abad ke-16 (kalau tidak salah), Jhon of the Cross (biar keren pakai bahasa inggris. Kalau di Indonesia-in namanya, Yohanes dari Salib). Ia menggambarkan suatu fase spiritual yang terkenal dengan istilah dark night of the soul. Dalam fase ini seseorang mengalami kekosongan spiritual yang mendalam. Aktivitas religius yang sebelumnya memberi kekuatan tiba-tiba kehilangan rasa. Doa tidak lagi memberikan kenyamanan. Bahkan pengalaman akan Tuhan terasa jauh, bahkan teramat jauh. Namun menurut Yohanes dari Salib, keadaan ini bukanlah kegagalan iman. Justru sebaliknya. Ia melihatnya sebagai tahap pemurnian spiritual. Pada tahap ini Tuhan "menarik" bentuk-bentuk kenyamanan religius agar manusia tidak lagi bergantung pada pengalaman spiritual yang menyenangkan dirinya sendiri. Dengan kata lain, motivasi spiritual yang sebelumnya menopang kehidupan rohani sedang mengalami pembongkaran.

Dari pernyataan diatas, patut kita mengambil kesimpulan yang sementara bahwa, manusia tidak lagi mencari Tuhan karena pengalaman yang menenangkan. Ia dipaksa menghadapi Tuhan dalam keadaaan yang lebih sunyi dan yang lebih jujur. Dari sudut pandang ini, demotivasi Tuhan bukanlah peghancuran iman, melainkan pemurnian motivasi. Ia meruntuhkan bentuk-bentuk motibasi yang terlalu berpusat pada kebutuhan manusia itu sendiri. Sebelumnya seseorang mungkin akan mencari Tuhan karena ingin hidupnya terasa bermakna, ingin memperoleh kedamaian batin, atau ingin menjadi pribadi yang baik. Semua motivasi itu tentu tidak sepenuhnya salah. Namun semuanya masih memiliki pusat yang jelas: manusia itu sendiri. Ketika kesadaran tentang Tuhan menjadi lebih dalam, struktur motivasi seperti itu mulai perlahan retak. Tuhan tidak lagi berfungsi sebagai bahan bakar bagi ambisi manusia semata. Melainkan sebaliknya, kesadaran akan yang Ilahi justru memperlihatkan betapa kecilnya banyak proyek eksistensial manusia. Hal-hal yang sebelumnya dianggap sangat penting tiba-tiba kehilangan bobotnya. Ambisi pribadi, pencapaian sosial, bahkan pencarian kesalehan moral dapat terasa seperti permainan yang kecil jika ditempatkan di hadapan misteri realitas yang jauh lebih besar.

Di titik inilah seseorang bisa mengalami apa yang terasa seperti kehilangan arah. Ia masih percaya kepada Tuhan, tetapi Tuhan tidak lagi menjadi sumber motivasi yang sederhana. Doa tidak selalu memberi semangat baru. Harapan tidak selalu menghasilkan energi moral yang kuat. Kadang yang muncul justru keheningan yang begitu panjang. Dan perlu kita sadari bahwa keheningan semacam itu sering kita salahartikan sebagai suatu kegegalan iman. Namun, kemungkinan yang lain juga ada. Mungkin keheningan itu adalah proses di mana struktur motivasi manusia sedang mengalami pembongkaran habis-habisan. Sebelumnya seseorang mungkin bergerak karena berbagai alasan yang terasa jelas: ingin menjadi orang baik, ingin melayani, ingin mencapai kehidupan yang lebih bermakna. Semua itu bukan motivasi yang buruk tentunya, tetapi tetap saja berakar pada kebutuhan manusia untuk memiliki arah yang stabil. Dan tentu keberadaan demotivasi Tuhan untuk mengganggu stabilitas itu. Ia membuat manusia sadar bahwa hidup tidak selalu digerakkan oleh motivasi yang unggul atau rapi. Ada fase di mana manusia tetap berjalan bahkan ketika motivasi yang jelas tidak lagi tersedia. 

Ketika kita sudah menyadari hal-hal itu, maka di sinilah pengalaman spiritual menjadi memabukkan. Memabukkan bukan dalam artian yang menyenangkan, melainkan dalam arti kehilangan orientasi. Dunia yang sebelumnya stabil mulai berubah perlahan. Struktur kepentingan yang dulu memberi arah kini tampak rapuh. Manusia yang berada di fase ini sering merasa seolah-olah ia sedang kehilangan sesuatu yang penting. Namun mungkin yang hilang bukan iman itu sendiri. Mungkin yang hilang adalah cara lama manusia menggunakan Tuhan sebagai sumber motivasi yang stabil

Pemikiran teolog lain membantu menjelaskan situasi semacam ini dari sudut pandang yang berbeda. Teolog Jerman-Amerika abad ke-20, Paul Tillich, pernah menggambarkan iman bukan sebagai kepastian psikologis, tetapi sebagai ultimate concern, perhatian terdalam manusia terhadap sesuatu yang dianggap mutlak. Dalam pemahaman Tillich, iman bukan hanya sekadar perasaan religius yang membuat manusia lebih bersemangat dalam menjalani hidupnya. Ia adalah orientasi eksistensial yang melibatkan seluruh keberadaan manusia. Karena itu iman selalu mengandung unsur risiko dan ketidakpastian. Ketika seseorang benar-benar berhadapan dengan yang mutlak, ia tidak selalu mengalami kenyamanan. Ia justru bisa mengalami keguncangan yang hebat. Yang mutlak terlalu besar utnuk diperlakukan sebagai alat motivasi. Dan dari perspektif ini, demotivasi Tuhan menjadi sesuatu yang dapat dimengerti. Ketika manusia berhadapan dengan realitas yang benar-benar mutlak, motivasi-motivasi yang terlalu kecil mulai kehilangan daya tariknya.

Tentu hal ini akan membawa kita pada ambisi hidup yang sebelumnya terasa besar menjadi relatif. Bukan karena hidup kehilangan maknanya, tetapi karena manusia menyadari bahwa makna tidak sesederhana yang ia bayangkan. Menariknya, pengalaman semcam ini juga membuka pertanyaan yang lebih luas tentang bagaimana manusia memahami makna itu sendiri. Jika motivasi manusia ternyata rapuh, apakah mungkin struktur makna yang ia bangun juga rapuh? Di titik inilah refleksi spiritual mulai bersinggungan dengan refleksi filosofis yang dikenal sebagai dekonstruksi. 

Pendekatan semacam ini sering dikaitkan dengan salah seoarng filsuf Prancis, Jacques Derrida. Derrida menunjukkan bahwa banyak struktur makna yang tampak stabil sebenarnya berdiri di atas ketegangan yang rapuh. Hal ini dilihat oleh Derrida karena manusia cenderung membangun konsep-konsep besar seperti kebenaran, identitas, pusat, atau makna, lalu memperlakukannya seoalah-olah konsep-konsep itu memiliki fondasi yang kokoh. Padahal seringkali tidak demikian adanya. Banyak konsep memperoleh arti bukan karena ia berdiri sendiri, tetapi karena ia berlawanan dengan konsep yang lain. "Kebenaran" memiliki arti karena ada "kesalahan". "Pusat" hanya dapat dipahami karena ada "Pinggiran". Struktur oposisi semacam ini memberi sebuah kesan bahwa dunia memiliki fondasi yang stabil. Namun ketika diperiksa lebih jauh, oposisi itu tidak pernah benar-benar berada dalam kestabilan yang selalu kita kenal. 

Sering kali, yang dianggap pusat bergantung pada yang dianggap pinggiran. Yang dianggap utama sering membutuhkan yang dianggap sekunder agar dapat dipertahankan maknanya. Dengan kata lain, struktur makna yang terlihat kokoh sebenarnya jauh lebih rapuh daripada yang kita kira. Dan tentu saja dekonstruksi tidak bertujuan menghancurkan makna sepenuhnya. Ia lebih mau membuka lapisan demi lampisan yang tersembunyi di balik struktur yang tampak stabil dari luar. Ia menunjukkan bahwa makna selalu berada dalam proses, tidak pernah sepenuhnya selesai (final). 

Ada sesuatu yang menarik, bahwa pengalaman demotivasi Tuhan memiliki resonansi yang aneh dengan gagasan ini. Demotivasi Tuhan bekerja pada tingkat eksistensial. Ia membongkar motivasi manusia yang sebelumnya dianggap stabil. Sementara dekonstruksi bekerja di tingkat pemikiran. Ia membongkar struktur makna yang sebelumnya dianggap pasti dan sudah selesai. Keduanya tidak identik, tetapi keduanya menghasilkan efek yang serupa: keduanya mengguncang suatu kepastian yang terlalu cepat kita terima sebagai suatu kebenaran. Demotivasi Tuhan mengganggu keyakinan bahwa iman selalu menghasilkan motivasi yang kuat. Sedangkan dekonstruksi mengganggu keyakinan bahwa makna selalu memiliki fondasi yang stabil. Yang satu terjadi dalam pengalaman spiritual. Yang lain terjadi dalam cara manusia berpikir tentang dunia. Namun keduanya sama-sama membuka suatu ruang yang baru. Ketika motivasi lama runtuh, manusia belajar berjalan tanpa terlalu bergantung pada semangat yang bersifat spektakuler. Ketika struktur makna dibongkar, manusia belajar berpikir tanpa terlalu cepat mengklaim kepastian yang dia lihat. 

Dan tentu lahirlah sebuah kebebasan yang aneh dari tulisan ini. Bahwa manusia tidak lagi terlalu terobsesi dengan tujuan yang besar dan yang harus ia capai. Ia juga tidak lagi terlalu percaya pada sistem makna yang tampak belum rapi. Ia bekerja, berharap, dan menjalani hidup tanpa selalu membutuhkan fondasi yang sepenuhnya stabil. Begitu juga relasi dengan Tuhan pun akan berubah. Tuhan tidak lagi menjadi sumber energi yang selalu memberikan semangat. Ia menjadi misteri yang jauh lebih besar dari kebutuhan motivasional manusia itu sendiri. Hbungan ini mungkin akan terasa lebih sunyi, tetapi ia juga lebih jujur. Dan begitu pula cara manusia mehamai dunia. Makna tidak lagi diperlakukan sebagaimana sesuatu yang sepenuhnya pasti. Ia harus dipahami sebagai sesuatu yang selalu terbuka, selalu berada dalam proses. Demotivasi Tuhan dan dekonstruksi tidak perlu dikawinkan. Yang satu adalah pengalaman spiritual, yang lain adalah pendekatan filosofis. Maka dari itu keduanya mengingatkan manusia tentang sesuatu yang sama; kehidupan tidak pernah sesederhana sistem yang kita bangun untuk memahaminya. Dan mungkin justru di situlah kedewasaan kita muncul. Bukan ketika manusia memiliki motibasi yang selalu kuat atau makna yang selalu stabil, melainkan ketika ia mampu hidup dan berpikir bahkan ketika kedua hal itu tiak sepenuhnya tersedia. 


"Ada saat ketika motivasi runtuh dan makna menjadi rapuh; bukan karena iman berakhir, tetapi karena manusia akhirnya berdiri dihadapan misteri tanpa penopang yang ia ciptakan sendiri."

Komentar

Postingan Populer