Mendekonstruksi Cinta: Satu Refleksi Lengkap dari Bagaimana Saya Menangkap


Pengantar: Sebuah Keberangkatan dari Yang Familiar

    Sudah berbulan-bulan lamanya saya ingin menulis ini. Bukan sekadar curahan hati, melainkan sebuah upaya pembedahan. Selama ini, saya merasa hidup di dalam sebuah narasi besar yang disebut "cinta". Saya menerimanya sebagai sesuatu yang utuh, murni, dan transparan—sebuah kehadiran penuh (full presence) yang jika saya raih, akan membuat saya utuh (whole). Saya adalah seorang pemburu yang taat, mengikuti peta-peta yang telah digambar oleh budaya, agama, dan sastra romantis. Saya mencari “belahan jiwa” (soulmate), “cinta sejati” (true love), sebuah entitas yang saya yakini ada di luar sana, menunggu untuk ditemukan dan disatukan.

    Setiap kali saya mendekati apa yang saya kira sebagai "cinta", ia selalu lolos. Bukan karena ia kabur, tetapi karena saya mulai menyadari bahwa kerangka saya dalam menangkapnya mungkin sudah salah sejak awal. Saya tidak sedang gagal mencintai; saya sedang gagal memahami apa yang sedang saya lakukan ketika saya mengatakan "aku mencintai". Tulisan ini adalah upaya untuk melakukan sebuah dekonstruksi atas konsep cinta yang selama ini membelenggu saya. Saya meminjam kacamata Jacques Derrida, seorang filsuf yang mengajarkan bahwa tidak ada makna yang stabil, tidak ada kehadiran yang murni, dan bahwa segala sesuatu—termasuk yang paling intim sekalipun—selalu sudah terkontaminasi oleh ketidakhadiran, perbedaan, dan trace (jejak).

    Melalui refleksi ini, saya akan membedah bagaimana saya menangkap (capture) cinta—bukan sebagai objek, melainkan sebagai sebuah peristiwa yang selalu tertunda, selalu berbeda dari dirinya sendiri. Saya akan menghubungkan ini dengan apa yang saya sebut sebagai kecinta, sebuah istilah yang saya ciptakan untuk merujuk pada kondisi sebelum cinta itu sendiri; suatu ruang kemungkinan yang membuat cinta mungkin terjadi, namun tidak pernah bisa dihadirkan secara utuh.

I. Metafisika Kehadiran dalam Cinta

    Untuk memulai dekonstruksi, saya harus jujur pada diri sendiri tentang bangunan filsafat yang selama ini saya tinggali tanpa sadar. Derrida menyebut bangunan ini sebagai "metafisika kehadiran" (metaphysics of presence). Ini adalah kecenderungan pemikiran Barat, sejak Platon hingga strukturalisme, yang selalu mencari fondasi yang stabil, makna yang tetap, dan kebenaran yang bisa dihadirkan secara langsung dan utuh. Dalam konteks cinta, metafisika ini mewujud dalam keyakinan-keyakinan dogmatis yang saya internalisasi.

    Saya dulu percaya bahwa cinta adalah sebuah esensi. Esensi adalah apa yang membuat sesuatu menjadi dirinya sendiri. Jika cinta itu esensial, maka ia memiliki definisi yang tetap, transhistoris, dan universal. Saya bisa berkata, "Ini cinta, itu bukan cinta," seolah-olah saya memegang sebuah pisau bedah ontologis yang bisa memisahkan yang palsu dari yang asli. Saya mencari tanda-tanda kehadiran esensi itu: pengorbanan total, ketertarikan yang tak terbantahkan, atau sebuah "klik" mistis yang konon menjadi penanda bahwa saya telah menemukan "yang satu" (the one). Dalam merasakan cinta di masa lalu, saya selalu dihantui oleh pertanyaan: "Apakah ini cinta sejati?" Pertanyaan ini adalah manifestasi dari metafisika kehadiran. Saya ingin cinta itu hadir di hadapan saya, dapat diverifikasi, seperti sebuah dokumen yang telah distempel. Saya ingin menghilangkan ambiguitas. Saya ingin kepastian.

    Di sinilah Derrida masuk untuk meruntuhkan fondasi saya. Ia menunjukkan bahwa tidak ada esensi yang hadir dengan sendirinya. Makna tidak pernah transparan; ia selalu tertunda, selalu mengacu pada sesuatu yang lain, dan selalu terkait dengan ketidakhadiran. Derrida memperkenalkan konsep différance—sebuah kata mainan yang menggabungkan "to differ" (berbeda) dan "to defer" (menunda). Différance adalah struktur yang membuat penandaan mungkin terjadi. Makna sebuah kata tidak terletak pada kata itu sendiri, tetapi pada perbedaannya dengan kata lain (misalnya, "cinta" bukan "benci", "cinta" bukan "kasih sayang", "cinta" bukan "nafsu"). Maknanya juga selalu tertunda, karena untuk memahami sebuah kata, kita membutuhkan kata lain, yang pada gilirannya membutuhkan kata lain lagi, dalam sebuah rantai tanpa akhir.

    Jika saya terapkan pada pengalaman saya, maka cinta tidak pernah hadir secara utuh pada saat "sekarang". Ketika saya mengatakan "aku mencintaimu", pernyataan itu tidak berdiri sendiri. Ia sudah mengandung jejak (trace) dari semua konsepsi cinta yang pernah saya baca, tonton, dan alami. Ia juga berbeda dari dirinya sendiri di setiap waktu. Cinta saat pacaran bukanlah cinta saat bertengkar, bukan pula cinta saat telah usang. Namun, metafisika kehadiran memaksa saya untuk menyatukan semua perbedaan itu menjadi sebuah kategori tunggal yang disebut "cinta". Saya memaksakan sebuah identitas pada sesuatu yang secara struktural tidak pernah identik dengan dirinya sendiri.

II. Menangkap Cinta sebagai Trace

    Pengalaman paling membingungkan dalam hidup saya adalah ketika saya merasa "menangkap" cinta. Momen-momen itu biasanya bersifat intens: tatapan mata yang dalam, sebuah sentuhan yang membekukan waktu, atau pengakuan di tengah hujan. Dalam momen-momen itu, saya merasa seolah-olah realitas cinta itu hadir sepenuhnya. Saya merasa "ini dia". Namun, refleksi kritis yang saya lakukan berbulan-bulan ini membuat saya sadar: apa yang saya tangkap bukanlah cinta itu sendiri, melainkan trace-nya. Trace adalah jejak dari sesuatu yang tidak pernah hadir secara utuh. Dalam kerangka Derrida, trace bukanlah sisa dari kehadiran yang hilang, tetapi kondisi yang memungkinkan kehadiran itu sendiri. Kehadiran selalu dibangun di atas ketidakhadiran.

    Saya ingat sebuah momen tertentu. Saya sedang duduk di sebuah kafe tua di Yogyakarta. Di hadapan saya, seorang perempuan yang saya kagumi sedang tertawa kecil sambil membaca buku. Cahaya senja menerangi separuh wajahnya. Dalam momen itu, jantung saya berdegup kencang, dan pikiran saya langsung berteriak: "Ini cinta." Saya merasa menangkapnya. Saya ingin membekukan waktu, menjadikan momen itu sebagai bukti definitif bahwa cinta itu ada dan saya memilikinya. Tetapi, setelah saya dekonstruksi, apa yang sebenarnya terjadi? Saya tidak sedang berhadapan dengan esensi cinta. Saya sedang berhadapan dengan sebuah jaringan trace. Tawa perempuannya mengingatkan saya pada puisi Sapardi yang pernah saya baca. Buku yang ia pegang adalah buku yang sama dengan yang saya cari-cari berminggu-minggu. Cahaya senja menciptakan atmosfer yang mirip dengan adegan dalam film-film Wong Kar-wai yang saya tonton saat remaja. "Cinta" yang saya rasa bukanlah sesuatu yang lahir dari dalam hati secara murni dan spontan. Ia adalah sebuah konstruksi, sebuah montase dari teks-teks budaya, ingatan personal, dan proyeksi masa depan yang saya rangkai menjadi satu.

    Saya menangkap cinta sebagai trace. Yang saya tangkap adalah jejak dari semua yang pernah saya cintai, rindukan, dan bayangkan. Objek cinta saya hanyalah sebuah permukaan tempat jejak-jejak itu mendarat. Dalam bahasa Derrida, ia adalah sebuah supplement (tambahan). Ironisnya, supplement ini justru dianggap sebagai pengganti dari sesuatu yang tidak pernah ada—yaitu esensi cinta yang utuh. Saya menambahkan makna, menambahkan narasi, menambahkan harapan pada diri orang lain, dan kemudian saya menyebut akumulasi tambahan itu sebagai "cinta". Derrida mengatakan bahwa supplement tidak pernah sekadar tambahan; ia menggantikan kekosongan yang sebenarnya merupakan kondisi awal. Saya mencintai karena pada dasarnya ada kekosongan dalam diri saya yang saya proyeksikan sebagai "kebutuhan akan cinta". Namun, kekosongan itu tidak pernah bisa diisi oleh kehadiran penuh, karena ia sendiri adalah struktur différance.

III. Kecinta: Ruang Sebelum Nama

    Di sinilah saya ingin memperkenalkan apa yang saya sebut sebagai kecinta. Kata ini sengaja saya buat tidak lazim. Dalam bahasa Indonesia, "cinta" adalah kata benda yang sudah padat. Saya menambahkan awalan "ke-" dan akhiran "-a" untuk menciptakan sebuah kata abstrak yang menunjuk pada kondisi, keadaan, atau ruang kemungkinan. Kecinta bukanlah cinta itu sendiri; ia adalah apa yang memungkinkan cinta menjadi mungkin, namun tidak pernah terwujud sebagai cinta. Jika menggunakan logika Derrida, kecinta adalah semacam archi-écriture (tulisan asali) atau khôra (ruang penerima) Platon yang telah didekonstruksi. Ia adalah ruang batal yang tidak memiliki identitas, tidak memiliki bentuk, tetapi menjadi syarat mutlak bagi segala bentuk dan identitas—termasuk identitas "cinta"—untuk muncul.

    Saya menyadari bahwa sebelum saya bisa mengatakan "Saya cinta A", saya sudah berada dalam kecinta. Kecinta adalah disposisi fundamental saya sebagai makhluk yang terbuka terhadap yang lain. Ini adalah kerentanan (vulnerability) dasar, sebuah hasrat yang tidak memiliki objek spesifik, sebuah gerakan menuju yang transenden yang tidak pernah bisa saya namai. Selama ini, saya selalu salah mengartikan kecinta sebagai cinta. Saya merasa ada sesuatu yang "nggenet" dalam dada, sebuah dorongan yang kuat, dan saya langsung memahaminya sebagai "cinta kepada seseorang". Padahal, dorongan itu adalah kecinta—sebuah energi yang mengalir tanpa arah. Lalu, kebiasaan metafisik saya menangkap energi itu dan membekukannya menjadi sebuah objek. Saya memberi nama, saya memberi bentuk, saya memberi tuntutan. Dan di situlah penderitaan dimulai, karena tidak ada satu objek pun yang sanggup menampung kecinta secara utuh.

    Saya ingat bagaimana saya pernah jatuh cinta pada seorang teman. Perasaannya sangat kuat. Namun, setelah saya dekonstruksi, saya sadar bahwa banyak dari intensitas itu sebenarnya adalah kecinta yang mencari pelampiasan. Saya sedang dalam masa transisi hidup, penuh ketidakpastian. Kecinta saya sebagai hasrat akan stabilitas, akan makna, akan keutuhan, kemudian saya proyeksikan pada dirinya. Saya menciptakan narasi bahwa "dia adalah jawabannya". Ketika hubungan itu gagal, saya merasa kehilangan segalanya. Padahal, yang saya kehilangan bukanlah cinta saya padanya, tetapi ilusi bahwa kecinta bisa diwakili sepenuhnya oleh satu individu.

    Derrida mengajarkan tentang etika keramahan (hospitality) yang tidak bersyarat. Keramahan sejati adalah menerima kedatangan yang lain tanpa syarat, tanpa identifikasi, tanpa membuat yang lain itu menjadi sama dengan diri kita. Ini sangat relevan dengan kecinta. Kecinta adalah keramahan fundamental terhadap yang lain. Namun, ketika saya mengubah kecinta menjadi cinta (sebagai objek), saya melakukan tindakan kekerasan simbolik. Saya memaksa yang lain untuk masuk ke dalam kategori "kekasih" yang sudah saya definisikan. Saya menuntut dia untuk memenuhi peran yang saya ciptakan. Saya tidak lagi menerima kehadirannya sebagai kehadiran yang tak terduga; saya menerimanya sebagai pelengkap dari narasi saya sendiri.

IV. Aporia Cinta dan Politik Relasi

    Dekonstruksi bukanlah untuk menghancurkan, tetapi untuk membuka. Dengan membongkar metafisika kehadiran dalam cinta, saya tidak lantas menjadi nihilis yang mengatakan "cinta itu tidak ada" atau "cuma konstruksi sosial". Sebaliknya, saya justru menemukan tanggung jawab etis yang lebih besar. Derrida berbicara tentang aporia. Aporia adalah jalan buntu, sebuah situasi di mana logika biner tidak bisa memberikan solusi. Dalam pengalaman cinta, saya menemukan banyak aporia. Yang paling fundamental adalah aporia antara keputusan dan pengetahuan. Dalam metafisika kehadiran, saya berpikir bahwa untuk mencintai secara benar, saya harus tahu dulu siapa orang itu, apa esensinya, apakah dia "yang tepat". Saya mencari pengetahuan sebelum mencintai. Derrida membalikkan logika ini. Dalam esainya tentang etika, ia menunjukkan bahwa keputusan yang etis justru harus diambil dalam kegelapan, tanpa pengetahuan yang memadai. Jika saya sudah tahu segalanya, maka itu bukan lagi keputusan, melainkan aplikasi dari aturan. Keputusan yang sesungguhnya, yang bertanggung jawab, adalah keputusan yang diambil di tengah ketidakpastian, di tepi jurang aporia.

    Saya merasakan ini dalam pengalaman saya. Saya pernah kurang-lebih setahun tidak berani memulai hubungan karena saya merasa belum "cukup tahu" tentang diri saya dan tentang dia. Saya mencari kepastian. Saya mencari jaminan bahwa cinta itu akan berhasil. Saya menolak untuk mengambil keputusan karena saya takut menghadapi aporia. Saya ingin cinta menjadi sebuah struktur yang aman, bukan sebuah peristiwa yang berisiko. Dekonstruksi mengajari saya bahwa cinta, jika ingin menjadi otentik, harus menerima aporia ini. Mencintai berarti mengambil keputusan tanpa jaminan. Ini adalah lompatan iman (leap of faith) versi Derrida. Saya tidak pernah bisa sepenuhnya mengetahui yang lain. Yang lain selalu merupakan misteri, sebuah ketidakterbacaannya (unreadability). Mencintai berarti menerima misteri itu, bukan berusaha mengurainya menjadi data yang bisa dikelola.

    Ini membawa saya pada ranah politik relasi. Selama ini, hubungan saya seringkali diwarnai oleh apa yang disebut Derrida sebagai violence of the same (kekerasan dari yang sama). Saya ingin pasangan saya menjadi cerminan dari saya. Saya ingin dia menyukai hal yang sama, berpikir seperti saya, dan memvalidasi pandangan dunia saya. Saya merasa ini adalah "keselarasan" yang menandakan cinta. Padahal, itu adalah upaya untuk mereduksi yang lain menjadi yang sama. Saya melakukan kekerasan epistemik dengan memaksakan kategori-kategori saya pada realitasnya.

    Etika dekonstruksi menuntut sebaliknya: penghormatan terhadap yang lain sebagai yang lain, dalam singularitasnya yang tak tergantikan. Cinta, dalam pengertian ini, bukanlah penyatuan dua jiwa menjadi satu (mitos androgynous Platon), melainkan pengakuan bahwa kita pada dasarnya terpisah, dan justru dalam keterpisahan itulah etika dan cinta dimungkinkan. Cinta adalah pengalaman akan yang lain sebagai yang lain, bukan sebagai perpanjangan dari diri. Ini adalah etika yang sangat Derridian, yang terinspirasi dari Levinas: wajah yang lain (the face of the Other) memanggil saya keluar dari egoisme saya, tanpa pernah bisa saya tangkap sepenuhnya.

 V. Cinta sebagai Khôra dan Tanggung Jawab Tanpa Batas

    Mari saya tarik lebih dalam. Derrida, dalam tulisannya tentang khôra dalam Timaeus Platon, menggambarkannya sebagai "penerima" segala sesuatu, sebuah ruang yang tidak dapat ditentukan, bukan ada maupun tiada, bukan ilahi maupun manusiawi. Khôra tidak memiliki makna; ia adalah kondisi bagi makna. Saya mulai melihat kecinta sebagai khôra. Ia adalah ruang penerima dalam diri saya yang memungkinkan pengalaman cinta terjadi. Ia bukan cinta itu sendiri, ia bukan kebahagiaan, ia bukan penderitaan. Ia adalah kehampaan yang reseptif. Selama ini, saya takut pada kehampaan ini. Saya mengisinya dengan narasi romansa, dengan aktivitas mengejar, dengan obsesi pada satu orang. Saya takut jika saya membiarkan kecinta sebagai khôra—sebagai ruang kosong—saya akan merasa tidak berarti.

    Namun, refleksi  ini membuat saya berdamai dengan khôra itu. Menjadi dewasa dalam cinta, menurut saya sekarang, bukanlah kemampuan untuk "mendapatkan" cinta, tetapi kemampuan untuk berdiam dalam kecinta tanpa terburu-buru membekukannya menjadi objek. Ini adalah kebijaksanaan yang pahit sekaligus membebaskan: kita tidak pernah mencintai seseorang sepenuhnya, kita mencintai melalui mereka, melewati mereka, menuju sesuatu yang selalu berada di luar jangkauan. Dan justru karena tidak pernah mencapai, kita terus bertanggung jawab. Derrida berbicara tentang tanggung jawab sebagai sesuatu yang infinite (tak terbatas). Tanggung jawab sejati tidak bisa dihitung, tidak bisa dibatasi oleh aturan. Jika saya hanya bertanggung jawab pada lingkaran terdekat saya (keluarga, kekasih) berdasarkan aturan sosial, itu bukan tanggung jawab etis yang sejati; itu hanyalah kalkulus. Tanggung jawab sejati adalah ketika saya merasa bertanggung jawab pada yang lain yang bahkan tidak saya kenal, pada yang lain yang tidak bisa diwakili.

    Dalam cinta, ini berarti bahwa mencintai seseorang bukan berarti saya menutup diri pada yang lain. Justru sebaliknya, cinta yang otentik, yang telah melewati dekonstruksi, seharusnya membuka saya pada singularitas yang lain secara lebih luas. Jika saya mencintai pasangan saya dengan cara yang metafisik (sebagai milik saya, sebagai pelengkap saya), maka cinta itu akan menjadi eksklusif dan posesif. Namun, jika saya mencintainya sebagai "yang lain" dalam arti Derridian, maka cinta itu justru mengajarkan saya tentang keterbukaan. Saya belajar bahwa tidak ada yang bisa memiliki yang lain, dan bahwa yang lain selalu memiliki hak untuk pergi, untuk berubah, untuk menjadi tidak terduga. Cinta menjadi latihan dalam melepaskan klaim kepemilikan, sebuah latihan dalam menerima bahwa kita hidup dalam ketidakmungkinan untuk sepenuhnya menyatu.

Penutup: Menangkap Tanpa Menawan

    Saya memulai refleksi ini dengan tema "mendekonstruksi Cinta: satu refleksi lengkap dari bagaimana saya menangkap". Setelah perjalanan panjang melalui différance, trace, supplement, aporia, dan khôra, saya sampai pada sebuah kesimpulan yang mungkin terlihat paradoks. Saya tidak pernah menangkap cinta. Dan justru karena tidak pernah menangkapnya, saya bisa mencintai. Karena jika saya menangkapnya—seperti menangkap kupu-kupu dan menusuknya dengan jarum dalam koleksi—yang saya tangkap hanyalah mayat dari cinta itu sendiri. Cinta, dalam strukturnya yang paling dalam, adalah sebuah gerakan yang selalu menghindar dari kehadiran penuh. Ia hidup dalam ketertundaan, dalam perbedaan, dalam jejak.

    Apa yang selama ini saya sebut "menangkap cinta" adalah upaya saya untuk menawan cinta ke dalam narasi saya. Saya ingin menjadikannya sesuatu yang tetap, bisa saya tunjuk, bisa saya klaim. Namun, dengan bantuan Derrida, saya menyadari bahwa upaya menawan itu adalah sumber dari segala kekecewaan dan kekerasan dalam relasi saya. Saya kecewa karena pasangan saya tidak sesuai dengan narasi yang saya tangkap. Saya melakukan kekerasan ketika saya memaksanya untuk memenuhi narasi itu. Sekarang, saya belajar untuk "menangkap" dalam arti yang berbeda. Menangkap dalam bahasa Indonesia juga bisa berarti "memahami" atau "menyerap". Mungkin inilah yang seharusnya: menangkap cinta sebagai sebuah peristiwa yang tidak bisa dihentikan, sebuah aliran yang tidak bisa dibendung. Saya menangkapnya dengan kesadaran bahwa apa yang saya tangkap hanyalah sebagian kecil, sebuah trace, sebuah janji yang tidak akan pernah terpenuhi secara utuh. Dan dalam ketidakpenuhan itulah, justru terdapat kelimpahan.

    Saya tidak lagi bertanya, "Apakah ini cinta sejati?" Saya sekarang bertanya, "Apakah aku membiarkan diriku didekonstruksi oleh kehadiran yang lain?" Apakah aku membiarkan kecinta sebagai khôra itu beresonansi, tanpa harus segera mengisinya dengan label dan tuntutan? Refleksi ini bukanlah akhir dari pencarian, tetapi sebuah permulaan dari cara baru dalam meng-ada. Saya tidak lagi menjadi pemburu metafisik yang mencari esensi. Saya menjadi seorang pejalan yang membiarkan jejak-jejak (trace) cinta membimbing saya, tanpa pernah menuntut jejak itu untuk berhenti menjadi jejak dan menjadi "rumah". Saya belajar untuk berdiam dalam aporia, dalam ketidakpastian, dan menemukan bahwa di sanalah tanggung jawab etis yang sejati justru lahir.

    Saya menulis ini sebagai sebuah pengakuan bahwa saya telah lama hidup dalam ilusi kehadiran. Dan hari ini, saya memilih untuk hidup dalam différance. Bukan karena saya menyukai ketidakpastian, tetapi karena saya mulai mengerti bahwa ketidakpastian itu bukan kekurangan; ia adalah struktur paling dasar dari realitas dan dari cinta itu sendiri. Saya menangkap cinta sekarang dengan telapak tangan terbuka, bukan dengan kepalan tangan yang mencekik. Saya membiarkannya datang dan pergi, karena saya tahu bahwa kehadirannya yang paling kuat justru terasa ketika saya tidak berusaha menahannya. Akhirnya, dekonstruksi cinta membawa saya pada satu pemahaman yang sangat sederhana namun paling sulit: mencintai adalah melepaskan klaim untuk "memiliki" makna. Saya tidak memiliki cinta, saya tidak memiliki pasangan, saya tidak memiliki narasi. Saya hanya berbagi dalam kecinta—sebuah ruang bersama yang tak bernama, tempat kita bertemu, bersinggungan, dan kemudian terpisah, tanpa pernah benar-benar bisa mengklaim telah "sampai". Dan dalam kegagalan untuk sampai itulah, mungkin, kita paling dekat dengan apa yang disebut sebagai cinta.

    Maka, biarlah refleksi ini menjadi titik tolak. Saya tidak lagi bertanya "Apa itu cinta?" Pertanyaan itu adalah jebakan metafisika. Saya kini bertanya, "Bagaimana saya bisa hidup secara bertanggung jawab di dalam kecinta?" Sebuah pertanyaan yang tidak memiliki jawaban final, tetapi membuka ruang untuk praktik etis setiap hari. Sebuah pertanyaan yang, seperti différance itu sendiri, akan terus berbeda dan tertunda, namun justru di situlah ia hidup.

 “Dekonstruksi bukan membunuh cinta, melainkan membebaskannya dari narasi yang selama ini membelenggunya. Cinta yang telah didekonstruksi bukan cinta yang lenyap, melainkan cinta yang akhirnya jujur pada ketidakmungkinannya sendiri.”

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer