Met(amor)fosis: Takdir Sebenarnya dari Cinta

Sebenarnya tulisan ini terangkum karena ketiadaan idea untuk melanjutkan tugas wajib saya sebagai mahasiswa yang masih melanjutkan studinya. Saya berpikir bahwa semestinya saya istirahat dahulu dan mulai membebaskan pikiran saya lalu menuliskannya dengan gaya yang tidak akademis (atau ngwur lebih tepatnya). Jadi, sebelum tidur, adakalanya tulisan ini harus tercipta, bukan sebagai suatu ritual yang wajib, tapi sebagai dongeng pengantar yang selalu saya sukai. Dan tulisan ini berjudul seperti yang sudah tertera.

Met(amor)fosis!

Manusia punya suatu kebiasaan yang katakanlah aneh: memperlakukan cinta seolah-olah ia benda yang bersifat tetap. Stabil. Permanen. Tak berubah. Layaknya monumen batu yang berdiri diam di tengah kota. Mari kita lihat, orang menikah dengan janji "selamanya", penyair menulis seolah cinta itu satu bentuk yang abadi, dan para romantikus membayangkan bahwa sekali cinta itu lahir, ia akan tetap identik sampai akhir hidup orang yang mencinta. Kedengarannya sangat indah. tapi aneh. Masalahnya, realitas tidak pernah semetafora puisi-puisi. Cinta, jika diperhatikan dengan ketelanjangan, bukan sesuatu yang bersifat tetap. Ia lebih mirip proses biologis daripada sekadar monumen. Ia berubah, bergeser, beradaptasi, bahkan kadang membusuk lalu tumbuh kembali dalam bentuk atau wujud yang lain. Dan dalam arti tertentu, cinta selalu bermetamorfosis. 

Tentu gagasan seperti ini akan sering membuat orang yang mengetahuinya tidak nyaman, karena manusia lebih suka stabilitas emosional daripada perubahan. Tetapi jika kita menolak kenyataan ini, kita sebenarnya sedang menuju penipuan terhadap diri kita sendiri. Metamorfosis adalah konsep yang sederhana (katakanlah), dalam bidang ilmu biologi. Biasanya kita mengetahui konsep ini dengan contoh seekor ulat tidak akan pernah tetap menjadi ulat. Ia akan berubah menjadi kepompong, lalu menjadi kupu-kupu. Yang menarik disini adalah, bahwa setiap tahap bukan sekadar versi yang lebih baik dari tahap yang sebelumnya. Ia adalah bentuk yang berbeda secara radikal, dan mungkin cinta juga bekerja seperti itu.

Tahap pertama cinta biasanya adalah unsur ketertarikan. Ini tahap yang paling sering disalahpahami sebagai cinta itu sendiri. Ada rasa ingin memiliki, dorongan emosional yang kuat, bahkan kadang obsesi. Secara neurologis, tahapan ini bahkan dekat dengan kondisi kecanduan daripada kebijaksanaan. Otak manusia memproduksi dopamin, serotonin, dan berbagai rekasi kimia lain yang membuat seorang merasa euforia dengan apa yang telah terjadi. Tentu patut kita sadari bahwa romantisme modern sering berhenti di sini dan tidak jarang menyebutnya sebagai cinta sejati. Padahal jika kita ingin jujur, ini hanya sekadar fase awal metamorfosis. Ini lebih mirip ulat yang baru mulai bergerak. Lalu masalah mulai muncul ketika manusia menganggap fase ini sebagai bentuk final dari cinta. Ketika intens itu mulai menurun, banyak orang langsung menyimpulkan bahwa cinta mereka sudah "hilang". Padahal yang terjadi bukanlah hilang, melainkan berubah.

Mari kita sadari bahwa di titik ini cinta mulai kehilangan ilusi awalnya. Ketertarikan yang dulu terasa seperti mantra atau sihir telah mulai digantikan oleh kenyataan yang jauh lebih biasa. Kita mulai melihat kekurangan orang lain, kebiasaan yang menjengkelkan, perbedaan karakter yang sebelumnya tertutup oleh euforia awal. Banyak hubungan yang runtuh di tahap ini karena manusia lebih menyukai ilusi daripada realitas yang terjadi. Padahal jika metamorfosis diterima, fase ini justru terlihat penting. Cinta mulai bergerak dari hasrat menuju pengenalan. Dari keinginan ingin memiliki menuju kesadaran bahwa orang lain adalah individu yang tidak bisa sepenuhnya dapat kita kuasai. Salah seorang filsuf, Erich Fromm misalnya, pernah mengatakan bahwa cinta bukan hanya sekadar perasaan, melainkan kemampuan. Pernyataan ini sering terdengar tidak romantis. Tapi justru lebih realistis. Jika cinta hanya perasaan, ia akan mati setiap emosi berubah. Jika cinta adalah kemampuan, ia bisa berkembang melalui perubahan.

Tentu, disinilah metamorfosis cinta menjadi sedikit lebih radika. Cinta yang matang biasanya tidak lagi bergantung paada intensitas emosi. Ia berubah menjadi bentuk yang lebih tenang, bahkan kadang tampak membosankan bagi orang luar. Tidak ada lagi drama besar, tidak ada lagi sensasi luar biasa seperti awal, Namun justru di tahap ini cinta menjadi lebih nyata dari sebelumnya yang pernah kita kenal. Ia tidak lagi hidup dari ilusi kesempurnaan. Ia hidup dari keputusan untuk tetap hadri bersama seseorang yang kita tahu tidak sempurna. Ini perubahan besar. Cinta berhenti menjadi proyek idealisasi dan mulai menjadi relasi dengan realitas. Dalam bahasa filsafat, ini bisa disebut sebagai pergeseran dari eros (salah satu bentuk cinta dalam filsafat Yunani yang menunjuk pada cinta yang lahir dari hasrat dan ketertarikan) menuju bentuk cinta yang lebih reflektif. Bahkan dalam tradisi pemikiran klasik seperti apa yang dibahas oleh Platon, cinta tidak berhenti pada ketertarikan fisik. Ia bergerak menuju penghargaan terhadap keberadaan orang lain sebagai pribadi. 

Namun masalahnya, tidak semua cinta berhasil sampai pada tahap itu. Banyak hubungan berhenti di tahap pertama atau kedua. Ketika metamorfosis menuntut perubahan bentuk, sebagian orang memilih untuk berhenti karena perubahan terasa begitu menakutkan. Di situlah letak ironi cinta modern yang dimaksud. Orang menginginkan cinta yang abadi, tetapi mereka menolak perubahan yang justru memungkinkan cinta bertahan. Padahal jika dipikirkan secara radikal, cinta yang tidak pernah berubah sebenarnya tidak pernah hidup. Segala sesuatu yang hidup mestilah berubah. Bahkan tubuh manusia terus memperbarui sel-selnya. Dalam beberapa tahun, sebagian sel tubuh kita digantikan oleh yang baru. 

Pertanyaan lompatannya mungkin begini: mengapa kita megharapkan cinta tetap identik dengan selamanya? Cinta yang bermetamorfosis justru lebih telanjang terhadap kenyataan manusia. Ia menerima bahwa hubungan tidaklah bergerak statis. Ia bergerak mengikuti pengalaman, konfilik, rekonsiliasi, dan waktu yang terus berjalan. Namun perlu kita sadari pula, bahwa terkadang metamorfosis tidak selalu indah. Ada cinta yang berubah menjadi persahabatan. Ada yang berubah menjadi kenangan. Ada yang bahkan yang berubah menjadi jarak. Tapi perlu diingat pula, bahwa perubahan itu tidak selalu berarti kegagalan. Dalam banyak kasus, perubahan adalah cara cinta menemukan bentuk yang lebih realistis. Cinta yang dulu penuh gairah mungkin akan berubah menjadi kesetiaan yang tenang.  Cinta yang dulu obsesif mungkin akan berubah menjadi penghargaan yang lebih dewasa dari yang sebelumnya.  Bagi orang yang terlalu terikat pada romantisme awal, ini terasa seperti kehilangan. Tetapi bagi orang yang melihat cinta sebagai sebuah proses, ini adalah bagian dari pertumbuhan.

Jadi, sebagai penutup yang tidak perlu serius ini, sebenarnya: ketika kita berbicara tentang cinta yang bermetamorfosis, kita sebenarnya sedang berbicara tentang sebuah keberanian untuk menerima perubahan. Cinta dalam terang ini bukan sebagai patung marmer atau batu yang tidak bergerak. Ia suatu organisme yang hidup, dan seperti organisme yang hidup, mestilah ia akan berubah cepat atau lambat laun. Justru jika kita ingin menjadikannya sesuatu yang berani (katakanlah radikal) maka, cinta tidak pernah bertahan karena ia tetap sama seperti pertama kali kita jumpa. Cinta dapat bertahan karena ia berani menjadi sesuatu yang lain.

Komentar

Postingan Populer