Perbekalan bunuh diri: curhatan teman yang menjadikan refleksi ini ada :)
Tentu hari ini ada pikiran baru. Karena tadi saya mengikuti kelas konseling krisis dan uniknya saya harus memikirkan sesuatu yang tidak terjadi pada saya. Topik yang kami bahas tadi siang sangat menarik. Ia memperlihatkan dari dimensi psikologis tentang seseorang yang mampu berpikir untuk bunuh diri. Sebenarnya aku tidak relevan untuk membicarakan ini, mungkin karena aku menghidupi konsep amor fati, konsep yang mengajarkan tentang mencintai takdir meskipun ia rawan ada jebakan. Saya pikir untuk menjawab pertanyaan nyeleneh saya, saya harus keluar dari pola pikir Nietzsche dan harus mulai memakai alas dari filsuf lain. Dan pada kesempatan ini saya memilih Albert Camus dan Thomas Joiner untuk setidaknya melihat bagaimana dinamika ini tercipta. Unik sekali rasanya, saya harus membuka Albert Camus dan Thomas Joiner untuk melihat sesuatu yang tidak akan terjadi kepada saya (mungkin belum terjadi) tapi, mari kita saksikan.
Ada sesuatu yang agak mencurigakan dalam cara manusia berbicara tentang bunuh diri. Biasanya pembicaraan itu bergerak terlalu cepat menuju dua kutub yang ekstrem. Di satu sisi, ia segera dimoraliskan. Bunuh diri disebut dosa, kegagalan iman, atau tindakan yang tidak menghargai hidup. Di sisi lain, dalam beberapa diskursus, bunuh diri malah kadang diperlakukan secara romantik sebagai bentuk kebebasan radikal manusia atas dirinya sendiri. Dua reaksi ini terlihat berlawanan, tetapi sebenarnya memiliki kesamaan yang aneh: keduanya terlalu cepat memberi kesimpulan. Padahal sebelum bunuh diri menjadi sebuah keputusan, ia hampir selalu terlebih dahulu menjadi percakapan yang panjang di dalam diri seseorang. Percakapan itu tidak selalu terdengar oleh orang lain. Ia sering berlangsung diam-diam, dalam bentuk pertanyaan yang berulang, kelelahan yang tidak bisa dijelaskan, atau rasa keterasingan yang perlahan menggerogoti makna hidup. Jika percakapan batin ini tidak dipahami secara lebih mendalam, maka pembahasan tentang bunuh diri akan selalu dangkal. Ia akan berhenti pada penghakiman moral atau simpati emosional tanpa benar-benar menyentuh perhgumulannya.
Dan di sinilah obrolan psikologi dan filosofis menjadi sesuatu yang penting. Bukan untuk membenarkan bunuh diri, melainkan untuk memahami bagaimana manusia bisa sampai pada titik dimana hidup tidak lagi terasa layak untuk dijalani. Dua pendekatan yang cukup membantu untuk membaca fenomena ini adalah refleksi eksistensial dari Albert Camus tentang absurditas hidup, serta teori psikologis dari Thomas Joiner mengenai struktur psikologis bunuh diri. Tentu kedua pendekatan ini berasal dari disiplin yang berbeda, tetapi ketika mereka ditempatkan dalam dialog, maka mereka membantu menjelaskan bahwa bunuh diri tidak pernah hanya soal keputusan pribadi yang tiba-tiba. Ia adalah hasil dari pergumulan eksistensial yang panjang sekaligus kondisi psikologis yang sangat kompleks.
Mari kita mulai dari Camus. Dalam refleksi eksistensial, Camus pernah menyebut pernyataan yang cukup provokatif dalam bukunya The Myth of Sisyphus. Ia mengatakan bahwa satu-satunya masalah filsafat yang benar-benar serius adalah bunuh diri. Pernyataan ini bukan suatu upaya untuk mempromosikan bunuh diri, melainkan cara Camus menyoroti pertanyaan paling dasar dalam eksistensi manusia: apakah hidup ini layak untuk dijalani? Bagi Camus, manusia memiliki kebutuhan mendalam akan makna. Manuisa ingin memahami tujuan hidupnya, ingin percaya bahwa keberadaannya memiliki arti tertentu. Namun dunia tidak selalu menjawab kebutuhan ini. Realitas seringkali tampak acak, tidak adil, bahkan sunyi terhadap penderitaan manusia. Dari benturan antara kebutuhan manusia akan makna dan keheningan dunia inilah muncul apa yang disebut oleh Camus sebagai absurditas. Absurd dalam artian tertentu bukan berarti hidup yang tidak memiliki makna sama sekali, tetapi menunjuk pada ketegangan antara kerinduan manusia akan makna dan realitas dunia yang tidak selalu memberinya. Dalam kondisi ini, manusia bisa saja sampai pada pertanyaan yang sangat radikal: jika hidup tidak memberikan makna yang pasti, mengapa seseorang harus terus hidup? Tentu pertanyaan semacam ini sering dianggap berbahaya atau tidak sehat, tetapi Camus justru melihatnya sebagai pertanyaan yang sangat jujur dan wajar untuk dipertanyakan. Manusia yang sampai pada titik ini bukan selalu orang yang lemah, melainkan seringkali sebagai orang yang terlalu sadar akan ketidakteraturan dunia. Ia melihat penderitaan, ketidakadilan, dan ketidakpastian hidup tanpa ilusi yang menenangkan.
Menariknya ini, Camus tidak menyimpulkan bahwa bunuh diri adalah solusi yang mesti diambil. Baginya, bunuh diri justru merupakan bentuk penyerahan diri terhadap absurditas. Ia adalah pengakuan bahwa hidup memang tidak layak untuk dijalani. Camus menolak kesimpulan semacam ini. Ia mengusulkan sikap yang ia sebut sebagai pemberontakan eksistensial. Manusia mesti tetap hidup bukan karena dunia selalu masuk akal, melainkan karena manusia menolak tunduk pada absurditas tersebut. Disini hidup menjadi semacam perlawanan sadar terhadap ketidakbermaknaan. Tentu harus kita sadari bahwa refleksi dari Camus sangat kuat di dimensi filosofis, tetapi ia memiliki keterbatasan jika diterapkan langsung pada realitas psikologis manusia. Banyak orang yang bergumul dengan bunuh diri tidak sedang melakukan refleksi eksistensial yang tenang tentang absurditas hidup. Mereka seringkali berada dalam kondisi psikologis yang jauh lebih rapuh. Di sinilah pendekatan psikologi memberikan perspektif yang jauh berbeda dari refleksi Camus yang sudah disampaikan.
Thomas Joiner, seorang psikolog yang meneliti bunuh diri secara intensif, mengembangkan apa yang disebut sebagai Interpersonal Theory of Suicide. Sejauh yang saya tahu dari teori ini ingin menyampaikan bahwa bunuh diri biasanya muncul ketika tiga kondisi psikologis bertemu secara bersamaan. (a) Kondisi pertama adalah perasaan menjadi beban bagi orang lain (perceived burdensomeness). Seorang mulai percaya bahwa keberadaannya tidak lagi memberi nilai bagi siapa pun. Ia merasa hidupnya hanya menyusahkan orang lain, baik secara emosional, sosial, maupun ekonomi. Perasaan semacam ini seringkali tidak sepenuhnya sesuai dengan realitas yang terjadi, tetapi dalam pengalam subjektif individu, ia merasa sangat nyata. (b) Kondisi kedua adalah keterasingan sosial (thwarted belongingness). Manusia adalah makhluk relasional. Jadi ketika seseorang merasa tidaqk lagi memiliki tempat dalam relasi sosial yang bermakna, ia mulai mengalami isolasi eksistensial yang mendalam. Ia mungkin masih dikelilingi oleh orang lain, tetapi tetap merasa sendirian. (c) Kondisi ketiga adalah apa yang disebut oleh Joiner sebagai acquired capability for suicide. Ini adalah kemampuan psikologis untuk mengatasi ketakutan alami terhadap kematian dan rasa sakit yang ada. Biasanya kemampuan ini berkembang melalui pengalaman penderitaan yang berulang, trauma, atau paparan terhadap kekerasan. Sering waktu, seseorang menjadi semakin tidak takut terhadap kemungkinan akan mati.
Jadi menurut Joiner, ketika ketiga kondisi ini bertemu, risiko bunuh diri meningkat secara signifikan. Yang menarik dari teori Joiner adalah bahwa bunuh diri tidak dilihat sebagai implus sesaat, melainkan sebagai proses psikologis yang berkembang secara bertahap. Ia bukan hanya tentang keinginan untuk mati, tetapi jgua tentang hilangnya rasa keterhubungan dengan kehidupan. Jadi, jika refleksi Camus menyoroti dimensi eksistensial dari bunuh diri, maka teori Joiner membantu menjelaskan dimensi psikologisnya. Keduanya menunjukkan bahwa bunuh diri tidak dapat dipahami hanya sebagai kegagalan moral saja atau kelemahan iman saja. Ia melibatkan pergumulan yang jauh lebih dalam mengenai makna hidup, relasi manusia, dan pengalaman akan penderitaan.
Maka dari setelah penjelasan panjang lebar diatas, mari kita melompat pada dimensi teologis. Di titik ini, refleksi teologis juga perlu masuk dalam percakapan, tetapi dengan sikap yang lebih kritis dan rendah hati. Dalam banyak tradisi religius, bunuh diri sering diperlakukan terutama sebagai pelanggaran moral terhadap Tuhan yang memberikan hidup. Pendekatan semacam ini memiliki logika tertentu, karena kehidupan dipandang sebagai anugerah ilahi yang tidak boleh diakhiri secara sepihak oleh manusia. Namun, jika teologi berhenti pada penghakiman moral saja, ia justru gagal memahami kompleksitas penderitaan manusia. Dalam banyak kasus, korang yang bergumul dengan bunuh diri bukan sedang menolak Tuhan secara sadar. Mereka sering justru berada dalam situasi dimana pengalaman akan kehadiran Tuhan terasa sangat jauh atau bahkan hilang. Dalam tradisi biblis pun sebenarnya mengenal pengalaman semacam ini. Banyak teks mazmur yang memperlihatkan bagaimana manusia bisa berada dalam kondisi keputusasaan yang sangat mendalam, sampai-sampai mempertanyakan keberadaan Tuhan itu sendiri. Pergumulan semacam ini tidak selalu diselesaikan dengan jawaban yang cepat. Kadang ia hanya dihadapi dengan kejujuran.
Dan mungkin di sinilah teologi mungkin perlu bergerak dari posisi hakim menjadi seorang teman yang mendengar. Jika manusia bisa sampai pada titik di mana hidup terasa tidak lagi layak dijalani, mungkin pertanyaan teologis yang lebih penting bukan pertama-tama "mengapa bunuh diri itu salah", melainkan "apa yang membuat seseorang kehilangan alasan untuk terus hidup". Pertanyaan ini jauh lebih tidak nyaman, namun setidaknya ia menjadi satu pertanyaan yang lebih jujur.
Patut kita perdalam kembali, dari sudut pandang teologis yang lebih reflektif, bunuh diri dapat dilihat sebagai titik dimana relasi antara manusia, dunia, dan Tuhan mengalami keretakan yang sangat dalam. Manusia tidak lagi merasa terhubung dengan orang lain, tidak lagi melihat makna dalam realitas, dan tidak lagi merasakan kehadiran ilahi yang memberi harapan. Dalam kondisi seperti ini, bunuh diri muncul bukan sebagai pilihan yang sederhana, tetapi sebagai gejala dari kehancuran eksistensial. Jadi jika demikian, maka respons teologis yang paling masuk akal bukanlah penghakiman, melainkan solidaritas. Teologi tidak selalu mampu menjelaskan penderitaan manusia secara tuntas. Namun ia tetap menawarkan satu hal yang sering kali sangat dibutuhkan oleh orang yang sedang bergumul: pengakuan bahwa penderitaan manusia itu nyata dan tidak boleh direduksi menjadi kesalahan pribadi semata.
Dan pada akhirnya, bunuh diri memaksa manusia untuk menghidupi pertanyaan yang sangat mendasar tentang kehidupan. Ia membuka fakta bahwa hidup tidak selalu bermakna, bahwa relasi manusia bisa rapuh, dan bahwa kesadaran manusia kadang justru menjadi sumber penderitaan. Tetapi justru di titik ini, mungkin percakapan tentang bunuh diri tidak seharusnya berhenti pada kematian. Ia seharusnya membawa manusia kembali pada pertanyaan yang lebih sunyi namun lebih penting: apa yang membuat hidup tidak layak dipertahankan, bahkan ketika maknanya tidak selalu jelas? Pertanyaan semacam ini tidak selalu memiliki jawaban yang cepat. Namun selama pertanyaan itu masih bisa diajukan, percakapan tentang hidup sebenarnya belum selesai. Dan selama percakapan itu belum selesai, kemungkinan untuk tetap hidup mestilah ada.


Komentar
Posting Komentar