Amarah yang membabi buta

Apa gunanya pengetahuan ini jika aku tetap begini? Marah. Frustasi. Tidak bisa menangis. Bukankah seharusnya akal budi membawaku pada ketenangan? Lalu kenapa aku justru semakin terjebak dalam pusaran amarah yang tak berbentuk? Kau bilang, "Carilah hikmat." Sudah kulakukan. Aku membaca Nietzsche, Kierkegaard, Dostoevsky—mereka semua kawan-kawannya. Lalu apa yang kudapat? Bukan ketenangan. Yang kudapat adalah seribu pertanyaan baru yang menusuk seperti belati. Nietzsche berkata Tuhan telah mati. Tapi kenapa aku masih merindukan-Mu? Kenapa dalam amarahku yang paling buta sekalipun, aku masih bisa merasakan kehadiran-Mu yang mengganggu itu? Atau mungkin itu hanya kebiasaan? Hanya sisa-sisa dari doktrin masa kecil yang terus membusuk di dalam kepalaku? Tapi kalau begitu, kenapa aku masih berbicara pada-Mu sekarang? Kenapa aku menulis "Kau" dengan huruf kapital? Dengar. Aku frustasi karena pengetahuanku menjadi bumerang. Semakin aku mengerti, semakin aku sadar betapa sedikit artinya segala sesuatu. Aku bisa menghafal proposisi Anselm tentang Tuhan sebagai id quo maius cogitari nequit, tapi itu tak memberiku setetes kedamaian. Aku bisa menganalisis The Antichrist Nietzsche halaman per halaman, tapi itu tak membuat amarahku surut. Aku bahkan bisa membandingkan konsep deus absconditus Luther dengan the hidden God Pascal—tapi untuk apa? Semua itu hanya membuat kepalaku pusing dan hatiku keras seperti batu. Kemana Engkau saat aku seperti ini? Di dalam buku-buku? Di dalam doa-doa yang tak sanggup kulumatkan? Di dalam sakramen yang sudah bertahun-tahun tidak kusentuh? Atau jangan-jangan Engkau memang sengaja diam? Seperti yang dikatakan Yesus di kayu salib: Eli, Eli, lama sabachthani—Tuhan-Ku, Tuhan-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? Tapi itu Yesus. Aku bukan Yesus. Aku hanya manusia sok pintar yang tidak bisa menangis meskipun hatinya hancur berkeping-keping. Mari bertengkar sebentar, ya? Kalau Engkau ada—dan aku tahu Engkau ada, aku tahu itu meskipun amarahku membantah—kenapa Engkau biarkan aku seperti ini? Kenapa pengetahuan yang konon karunia-Mu ini justru menjadi siksaan? Apakah ini semacam lelucon kosmik? Apakah Engkau sedang menguji aku seperti Ayub? Tapi Ayub bisa marah dengan jujur, bahkan mengutuki hari kelahirannya. Aku? Aku bahkan tidak bisa menangis. Air mataku beku. Ekspresiku datar. Padahal di dalam ada badai yang ingin merobohkan segala altar. Nietzsche bilang orang lemah yang menciptakan Tuhan untuk menghibur diri. Apakah aku lemah? Tentu saja aku lemah. Tapi kelemahanku tidak membuatku berlutut. Justru sebaliknya—kelemahanku membuatku semakin ingin membanting segala sesuatu. Aku tidak ingin dihibur. Aku ingin berteriak. Tapi teriakanku hanya terdengar di dalam kepala sendiri. Inilah bagian yang paling absurd. Meskipun marah, meskipun frustasi, meskipun tidak bisa menangis—aku tahu Engkau ada bersamaku. Bukan karena bukti. Bukan karena argumen ontologis maupun kosmologis. Tapi karena di tengah kekeringan paling ekstrem sekalipun, masih ada sisa keyakinan yang tidak bisa kucabut. Dan itu menjengkelkan. Sangat menjengkelkan. Karena kalau Engkau tidak ada, aku bisa menjadi atheis yang tenang. Atau menjadi nihilist yang stylish ala Nietzsche. Tapi Engkau terus mengganggu. Dostoevsky lewat Ivan Karamazov bilang dia mengembalikan tiket masuk ke kerajaan surga. Aku juga ingin begitu. Tapi tanganku tidak sanggup. Ada sesuatu yang menahanku. Mungkin karena aku tahu bahwa tiket itu tidak pernah ditawarkan dengan cara seperti itu. Atau mungkin karena aku sudah terlalu lama hidup dalam ambiguitas ini. Anehnya, di tengah amarah ini aku menyadari sesuatu. Mungkin pengetahuan yang tidak membawa ketenangan itu sendiri adalah rahmat. Karena kalau aku tenang dengan pengetahuanku, aku akan menjadi Farisi. Aku akan menjadi seperti mereka yang tahu segalanya tapi tidak mengenal apa pun. Mungkin frustasi ini adalah cara-Mu melucuti aku dari kesombongan intelektual. Mungkin Engkau sengaja membuat pengetahuanku tidak cukup—sebagai pengingat bahwa ada sesuatu di luar akal. Tapi kalau begitu, kenapa caranya menyakitkan? Kenapa tidak sekalian saja Engkau buat aku bodoh? Atau kalau tidak, beri aku ketenangan yang sejati tanpa harus kehilangan akal budi? Aku tidak mengerti. Dan ketidakmengertian ini mungkin adalah teologiku yang paling jujur. Aku masih marah. Aku masih tidak bisa menangis. Pengetahuanku tetap tidak membawa ketenangan. Tapi aku tidak akan berpaling dari-Mu. Bukan karena kesalehan. Tapi karena tidak ada tempat lain untuk pergi. Seperti kata Petrus: "Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Engkau memiliki perkataan hidup yang kekal." Itu terdengar manis dalam khotbah. Dalam realita, itu adalah kepasrahan yang getir—tapi kepasrahan tetap kepasrahan. Nietzsche mungkin tertawa melihatku. Atau mungkin dia diam, karena dia sendiri di akhir hidupnya dirawat oleh ibunya setelah pingsan di jalan karena memeluk kuda yang disiksa. Siapa yang benar? Entahlah. Aku terlalu lelah untuk menentukan. Yang aku tahu: Engkau ada di sini, bersamaku, dalam amarahku yang tak bisa menangis ini. Entah itu penghiburan atau ancaman—terserah. Aku tidak peduli lagi. Aku hanya perlu bertahan dengan pertanyaan-pertanyaan ini sampai air mataku akhirnya datang. Kalau memang itu yang Kau kehendaki. Atau kalau bukan, biarlah. Aku tetap di sini. Marah. Frustasi. Tidak bisa menangis. Tapi masih menulis "Kau" dengan huruf kapital. Itu saja mungkin sudah cukup untuk hari ini.

Komentar

  1. "Apa, Mengapa, dan Bagaimana??" Menjadi tanda "eksistensial dirimu"

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer